(( GRATIS ))
Terjemahanku atas kitab "Washiyyatul Mushthafa" (Himpunan Nasihat Rasulullah Saw kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
-boleh donlot
-boleh dishare
-tidak boleh diperdagangkan dlm bentuk apa pun.
Semoga bermanfaat
https://t.co/kKrxSSWMA5
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh: Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Copas FB Samsul Arifin
بقرتَ شويهتي وفجعتَ قلبي *** وأنت لشاتنا ولدٌٌ ربيب ُ
غذيتَ بدرها وربيتَ فينا *** فمن أنباكَ أن أباكَ ذيب ُ
إذا كان الطباع طباع سوء ٍ *** فلا أدب ٌ يفيد ولا أديب ُ
ويروى:
نشأت مع السخال وأنت جرو *** فما أدراك أن أباك ذيب"
الفضيل بن عياض:
"في آخرِ الزمانِ أقوامٌ، يكونونَ إخوانَ العلانية، أعداءَ السريرة".
📚 نفائس الحكم
"Di akhir zaman akan ada orang-orang yang menjadi sahabat di depan layar tapi menjadi musuh di belakang layar."
Fudhail bin Iyadh
الحديث السادس والتسعون عن علي رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال كلما ازداد العبد إيمانا ازداد حبا للنساء
ابن حجر الهيتمي,الإفصاح عن أحاديث
النكاح (ص.٤١)
Nabi bersabda: Semakin bertambah iman seorang hamba, semakin bertambah pula cintanya pada wanita
إذا ساء فعل المرء ساءت ظنونه :: وصدق ما يعتاده من توهم
“Jika seseorang itu jelek prilakunya, maka jelek pula prasangkanya (kepada orang lain), dan dia akan terus membenarkan prasangka jeleknya tersebut.” [Ihya Ulumuddin]
المرأة أكثر من الرجل شكوى و هي أهدأ منه بالا.
Perempuan lebih banyak mengadu dan mengeluh dari pada lelaki, padahal hati perempuan lebih tenang dari pada lelaki.
تتحدث الفتاة للشاب قبل الزواج بقلبها وبعده بلسانها.
- الضحكة الرايقة، ج. ٣، ٥٠
Sebelum menikah, wanita berbicara dengan hatinya. Setelah menikah, baru dengan lisannya.
من أصلح سريرته أصلح الله علانيته
Siapa yang memperbagus (kelakuan) dalam keadaan sendirian, maka Allah akan memperbagus (citranya) dalam keadaan di terang-terangan.
يوماً ما سيذهب جمال المرأة وتذهب صحة الرجل ولن يتبقي لهما سوى المودة والرحمة.
Suatu hari nanti kecantikan wanita akan hilang, dan kesehatan lelaki akan sirna, yang tersisa hanyalah kasih sayang dan simpati.