Jadi polanya begini, ngelakuin dosa, terus merasa bersalah, merasa insecure buat ngelakuin kebaikan, akhirnya terus berdosa, enggan bertaubat, makin jauh, hilang arah.
Engkau tau hambaMu ini lemah dan rapuh, hingga Engkau berikan teguran tidak langsung menimpaku. Agar aku sadar. Dan lekas kembali kepadaMu. Agar aku sadar, aku sudah terlalu jauh. Dan Engkau tunjukkan bahwa aku masih bisa kembali.
Begitu Rahman sifat Engkau Ya Rabb. Meski lisan ini sering bertutur dosa, mata ini sering menampaki kemaksiatan. Namun Engkau tetap karuniakan begitu banyak anugerah dan kebaikan. Sungguh tiada kata yang pantas terucap kecuali syukur.
Sudah cukup tamparan dan gelitik ini. Tamparannya harus mengapokkanku. Dan gelitiknya, menyadarkan, bukan malah terbuai terlena. Waktu terus berjalan. Pilih, diri terus hancur sebab nikmat. Atau, hancurkan nikmat, kembali taat. Mau yang sesaat, atau akhirat?
Rupanya aku sedang dihukum. Atas kesalahan berulang yang kulakukan. Hukumannya tidak langsung menimpaku. Melalui sekitarku. Aku pahami itu. Namun, mengapa rasanya sulit sekali bebas dari jerat ini?
Sibuk menyalahkan sana sini. Sibuk mengulik fakta dan berita. Sibuk membicarakan soal orang lain. Padahal jawabannya diri sendiri. Mulanya. Perbaiknya.
Pesan pak Sudarto hari ini
#1
Nanti, seleramu tak lagi milikmu sendiri. Seleramu, harus dengan pertimbangan seleranya.
#2
Dari balik semua ujian yg ada, hadapilah, sebab setelah itu, akan meningkatkan kapasitas dirimu
#3
Selamat datang di hidup baru, level baru..
Triani, ujian itu nyata.. lepas kita dari satu ujian, rupanya Allah sedang ingin menaikkan grade keimanan kita. Pesanku, semoga kita dikaruniai kesabaran tak terbatas. Sebab, yang ku pahami hingga saat ini, berbagai persoalan perlu diawali dengan penerimaan dan sabar..
Lekas sembuh Triani, biarlah sakit itu terbawa bersama gemintang cahaya di langit malam. Semoga esok pagi yang tersisa hanyalah senyum manismu bersama semburat mentari dipelupuk fajar..
Sungguh besar kuasaNya, diantara kemerlap bintang yang bertabur, Ia karuniakan senyum indah itu dibalik kursi tamu. Jika begini, bagaimana hatiku tidak tertawan menatapnya.