Setiap komunitas punya cara sendiri memuliakan orang yang sudah meninggal.
Video itu memperlihatkan ritual adat di mana minuman dituangkan ke sekitar liang lahat, disertai sesaji dan kehadiran banyak orang. Bagi komunitas yang menjalankan tradisi tersebut, itu bukan bentuk pelecehan terhadap jenazah, melainkan bagian dari penghormatan, bekal untuk perjalanan roh, atau cara kolektif mengatasi duka. Di Indonesia, praktik semacam ini masih hidup di beberapa komunitas adat dan agama lokal.
Sementara itu, dalam Islam, pengurusan jenazah memang memiliki tata cara yang sangat terstruktur: dimandikan, dikafani, disalatkan, lalu dimakamkan dengan doa. Bagi umat Islam, rangkaian itu adalah bentuk penghormatan terakhir dan ibadah. Menganggapnya sebagai nikmat besar adalah hak setiap Muslim.
Masalah muncul ketika satu tradisi dijadikan tolok ukur untuk menilai tradisi lain sebagai “tidak berharga” atau kurang memuliakan manusia. Tubuh yang sudah tidak bernyawa diperlakukan berbeda di setiap budaya karena konsep tentang roh, akhirat, dan hubungan antara yang hidup dan yang mati memang berbeda. Yang satu menekankan kesucian dan kesederhanaan, yang lain menekankan bekal, kebersamaan, atau hubungan dengan leluhur.
Indonesia adalah rumah bagi banyak cara memaknai kematian. Menghargai prosesi Islam tidak harus disertai dengan merendahkan prosesi adat atau agama lain. Sebaliknya, menghargai tradisi orang lain juga tidak berarti mengurangi keyakinan sendiri.
Yang lebih penting dari saling membandingkan adalah memastikan bahwa setiap jenazah diperlakukan sesuai keyakinan dan adat keluarganya, tanpa paksaan dan tanpa ejekan. Karena pada akhirnya, penghormatan sejati terhadap manusia tidak hanya diukur dari tata cara yang kita anut, tetapi dari kemampuan kita membiarkan orang lain menjalankan tata cara mereka.
Menurut operator CSIS Jusuf Wanandi, Soeharto itu aslinya sangat insecure. Ia lulusan SD. Kicep dikelilingi profesor.
Soeharto pun punya ambisi ego: ia harus bisa unggul dari mereka, yaitu dengan menjadi bos dan menjadikan mereka pion dalam papan caturnya.
Ini contoh manajemen insecurity yang sukses. Soeharto, yang emosinya matang (dan jahat), berhasil menyalurkan insecurity nya untuk membentuk kleptokrasi yang sangat efektif dan bertahan 32 tahun.
Ia sangat gembira ketika dikelilingi profesor seperti Mafia Berkeley kemudian melihat bagaimana para profesor itu tunduk dan mengikuti kepemimpinannya, yang hanya lulusan SD.
Habibie paling sukses dalam hal ini. Ia bisa mencium insecurity Soeharto. Ia tahu reputasi pribadinya sebagai orang jenius terpintar di Indonesia. Habibie pun gercep menjilat habis Soeharto, yang langsung kesengsem karena terus menerus dipanggil "Super Genius Soeharto" (SGS) oleh orang sekaliber Habibie. Kemudian Habibie jadi wapres lalu jadi presiden.
Insecurity negatif adalah kecemburuan. Melihat orang pintar, orang rusak seperti ini tidak akan berpikir "bagaimana saya bisa mengungguli mereka", melainkan "bagaimana saya bisa menghancurkan mereka".
Orang toxic egomaniak gila sombong seperti ini sangat gelisah, sakit, tersiksa, kejang berbusa melihat orang lain lebih pintar dan lebih jago daripada dia yang bodoh, betulan bodoh, dan dihina dan ditertawakan sebagai bodoh oleh jutaan orang. Hatinya yang busuk penuh dengan iri, dengki, dan kebencian.
Atasanku yang seorang ADHD dan BPD survivor cerita, ketika dia pertama kali konsul dengan psikiater di London dan diminta untuk mendeskripsikan emosinya, dia kebingungan sendiri.
Dia pikir apa yang dia rasakan itu hanya sebatas sedih (sad), senang (happy), marah (anger). Tapi ternyata enggak!
Di LN, banyak bgt turunan dari emosi dasar itu kayak di dalam gambar ini.
Ternyata setelah aku baca2, bahasa Inggris banyak menyerap kata dari bahasa Jerman, Prancis, Latin, dan Yunani. Makanya mereka punya banyak sinonim untuk satu emosi dengan kadar keintiman berbeda.
Sedangkan budaya Indonesia secara sosiolinguistik cenderung lbh kolektif dan menghindari konfrontasi emosional yang terlalu blak-blakan (high-context culture), sehingga ekspresi emosi sering kali disalurkan lewat kiasan atau ekspresi non-verbal.
- Ada orang-orang yang nunggu jam 20.01 biar tarif LRT turun jadi Rp10.000.
- Ada orang-orang yang bela-belain naik Busway sebelum jam 07.00 pagi biar hemat Rp1.500.
- Ada Ojol yang motornya disita petugas saat nganter makanan demi ngejar setoran.
- Ada yang checkout pas tanggal kembar (7.7, 8.8, dst.) demi gratis ongkir dan cashback.
- Ada yang numpang Wi-Fi gratis buat hemat kuota internet.
- Ada yang sengaja transfer lewat bank atau QRIS tertentu biar bebas biaya admin.
- Ada yang memilih bayar pakai metode pembayaran tertentu demi dapat cashback atau poin.
- Ada kurir yang tetap narik meski hujan deras karena kalau berhenti, penghasilannya ikut berhenti.
- Ada orang yang nunda makan siang supaya uangnya cukup sampai akhir bulan.
- Ada orang yang membandingkan harga di beberapa minimarket cuma buat hemat beberapa ribu rupiah.
- Ada orang tua yang menahan beli kebutuhan sendiri supaya uang sekolah anak tetap aman.
- Ada pedagang kecil yang tetap buka sampai larut malam berharap ada pembeli terakhir.
- Ada pekerja yang lembur bukan karena ingin, tapi karena butuh tambahan penghasilan.
- Ada keluarga yang menghitung pengeluaran harian sampai ribuan rupiah supaya kebutuhan bulanannya cukup.
- Ada orang yang rela antre panjang demi dapat sembako atau barang yang lebih murah.
- Ada orang yang berburu promo belanja karena selisih puluhan ribu sangat berarti.
- Ada pekerja yang jalan kaki beberapa kilometer demi menghemat ongkos transportasi.
- Ada orang yang menunda ganti HP atau motor karena uangnya diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga.
- Ada yang bawa bekal dari rumah supaya uang makan bisa dihemat.
TAPI ADA JUGA ORANG YANG NUMPUK 74 KILOGRAM EMAS DIRUMAHNYA !!!
OH INDONESIAKU !!!
Dulu jaksa nuduh Nadiem: "Hartamu lebih gede dari gajimu, berarti hasil korupsi. Bayar sini 5,68 T"
Sekarang netizen nanya balik:
"Loh Pak... laporan harta bapak 18 M, kok yang ditemukan polisi (diduga terkait bapak) 543 M? Hartanya lebih gede dari gaji tuh. Pake rumus bapak sendiri ya, itu artinya apa?" 🤔
Rumus yang dipake buat nuduh orang, sekarang muter balik ke yang bikin rumus. 😛
Banyak yang gak tau vonis Nadiem itu gak kompak. Dari 3 hakim, ada 1 yang bilang "buktinya gak cukup, harusnya dia BEBAS."
Dulu suara hakim ini tenggelam. Sekarang, pas kredibilitas penuntutnya lagi diobok-obok polisi, semua orang bakal ke notice:
"Eh bener juga kata hakim yang satu itu..."
Kasus nya sampe sekarang belum selesai sob tapi timing nya tepat banget
Nadiem gak terima → banding. Kejagung juga gak puas (maunya 18 tahun) → banding juga.
Artinya apa? perkara ini masih lanjut ke pengadilan yang lebih tinggi. Dan PAS banget di tengah-tengah itu... kantor yang nuntut Nadiem malah digeledah polisi.
Vonis Nadiem 30 Juni. Geledah 8 Juli. Cuma 8 hari cuy 😄 Pengacara Nadiem gak perlu kerja berat amunisinya dianterin sendiri wkwk
Yang paling bikin nyesek Nadiem nangis di pengadilan:
"Uang Rp809 M itu gak pernah sepeser pun masuk kantong saya. Saya gak punya uang segitu. Cek aja harta saya."
8 hari kemudian, polisi bongkar brankas rahasia di balik dinding rumah yang diduga terkait pimpinan yang nanganin kasusnya. Isinya 74 kg emas + tumpukan dolar. Total setengah triliun 🌛
Di Amerika, harga buku hanya setara satu jam kerja. Upah minimum di sana sekitar $15/jam, sedangkan harga buku $15-20. Artinya mereka bisa membeli satu buku hanya dengan 1 jam kerja, seperti halnya kita membeli es teh jumbo di pinggir jalan.
Di Jepang, satu buku juga bisa dibeli dengan satu jam kerja. Upah minimum disana sekitar ¥1000-1200/jam. Harga buku ¥900-1300.
Di Jerman, satu buku = satu makan siang. Hanya dengan 2 jam kerja.
Di Inggris, satu buku bisa dibeli hanya dengan setengah jam kerja. Buku bukan jadi barang yang harus ditimbang antara 'beli atau tidak' buku sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seperti roti.
Di Norwegia, negara ikut menanggung harga buku, negara hadir memberikan subsidi dan distribusi yang merata, karena mereka percaya: bangsa yang cerdas dimulai dari buku yang mudah disentuh.
Di Malaysia. Buku masih bisa dijangkau hanya dengan 2 jam kerja.
Singapura. Satu buku bisa dibeli dari sisa makan siang.
👱🏽♂️: Dok, kok anu saya pegal-pegal, terus keluar cairan putih kekuningan.
👨🏼⚕️: Kerjaan bapak apa?
👱🏽♂️: Supir dok, biasa jualan sayur keliling kampung pakai mobil.
👨🏼⚕️: Pernah jajan sembarangan ga pak?
👱🏽♂️: Demi Allah dok, saya setia sama istri. Gak pernah ke wanita lain.
👨🏼⚕️: Sebelum keluhan ini muncul, bapak sempat berhubungan sama istri?
👱🏽♂️: Iya dok, beberapa hari lalu.
👨🏼⚕️: ...
👱🏽♂️: Jadi ini nular dari istri ya dok? (wajahnya langsung berubah)
👱🏽♂️: Masa sih dok, dari istri saya? Saya gak percaya.
👨🏼⚕️: Pak, yang jelas ini mengarah ke infeksi menular seksual. Nanti saya kasih antibiotik. Istri juga perlu diperiksa dan diobati.
👱🏽♂️: Saya capek dok... Ini pernikahan kedua yang pertama juga begitu.
👨🏼⚕️: ...
👱🏽♂️: Saya tiap hari keliling jualan sayur buat keluarga. Masa begini cara istri saya membalas saya?
👨🏼⚕️: Bapak coba ngobrol baik-baik dulu ya. Yang penting sekarang pengobatannya dijalani dulu.
👱🏽♂️: Saya gak tahu dok... pernikahan ini masih mau saya terusin atau enggak.
Kalau berada di posisi dokter saat itu, apa yang akan kalian katakan ke bapak ini?