“Sometimes books don’t find us until the right time.” Sounds deep, but honestly kadang terlalu romanticized juga.
Books don’t magically come looking for us. Most of the time, kita aja yang terlalu sibuk, terlalu capek, atau terlalu nyaman buat mulai. Dan right time yang sering ditunggu itu? Rarely comes by itself. Seringnya cuma jadi excuse buat keep delaying things.
Better take control of your own timing. Jangan terlalu berharap sama magical moment. Discipline and intention matter way more. Karena justru dari niat buat mulai lebih awal, kita bisa bener-bener absorb isi buku itu dengan maksimal.
So stop romanticizing delay. Move faster. Open the book earlier. Karena kalau nunggu terlalu lama, sometimes you miss the moment where that book could’ve changed you the most. 📖
Good night, selamat istirahat, dan selamat menunggu payout. 🌙
@txtdrjkt Min, aku mau ikutan ya min. Kalo aku difolback @txtdrjkt langsung doa di Gua Maria besok habis Gereja 🌹🙏
Temen2, yok temenan, saya pasti follback, saya bukan artis atau orang penting. Saya cuma pekerja kelas menengah yang suka baca buku dan sharing tentang kerjaan. 😊
Friday finallyyy ✨
Minggu ini lumayan berat sih, tapi Puji Tuhan bisa dilewatin dengan baik. Kadang kita lupa ya, menghargai keputusan orang lain tuh hal kecil tapi bikin hidup jauh lebih ringan. Ga usah maksa yang ga diinginin, cukup respect aja terus move on.
Thank you buat yang udah kerja keras sepanjang minggu ini. Istirahat yang cukup ya, besok weekend kita isi sama hal-hal yang bikin hati happy.
See you next week, semangat terus! 💪
Secantik itu rebindingnya 🥹🥹✨
Kemarin rebinding CIL sama Bilangan Fu. Keduanya sama-sama indah. Bakal jadi koleksi kesayangan bgt ini.
Terima kasih @kios_bindery
@masgee__ Concern yang sama. Apalagi aku lulusan DKV. Yauda terserah mau berkomedi boleh. Suka² elu dah. Meskipun males juga ya akunnya buatku kerasa ga original. Tapi concernku gede di masalah HAKI dari logonya.
https://t.co/UwGb9yIzwG
Life emang ga selalu smooth, kadang full of plot twist yang bikin pusing. Tapi ya gitu lah, kita cuma bisa nikmatin the ride-nya, both the good and the bad.
Keep growing stronger everyday, biar suatu saat kita bisa bilang “worth it semua perjuangannya”. Semangat 💪🔥
Namanya juga hidup, tak selalu berjalan mudah.
Tapi, itulah kehidupan.
Suka dan duka, kita nikmati saja.
Tumbuhlah kita menjadi kuat dan lebih baik dari sebelumnya, hingga hal-hal baik akan datang pada kita sebab kita sudah layak untuk menerima semuanya.
Hahaha jujur, kalau buat saya pribadi sih Yellowface lebih masuk ke kategori “baca kalau penasaran aja” 😄 awalnya baca karna pengen tau aja kenapa buku ini bisa serame itu di Goodreads.
Konsepnya menarik banget dan relevan, terutama soal industri publishing, identitas, sampai culture war di dunia literasi modern. Cuma buat saya, eksekusinya agak terlalu “loud” dan satirnya kadang terasa kurang subtle. Jadi setelah beberapa bab, rasanya seperti terus-terusan digiring ke satu opini tertentu, jujur agak capek bacanya wkwkwk
Betul banget, bang.
Tubuh lelah bukan cuma karena kerja fisik, tapi karena pikiran yang terus menyala 24/7.
Ini persis yang dibahas Greg McKeown di buku Essentialism:
“Essentialist deliberately distinguishes the vital few from the trivial many.”
Overthinking, notifikasi, perbandingan diri, dan “harus diberesin semua hari ini” adalah contoh klasik the trivial many. Hal-hal kecil yang bikin kita stuck di mode “siaga” terus.
Essentialism mengajari kita untuk sengaja membedakan mana yang benar-benar penting, lalu berani bilang “cukup” ke yang lain. Bukan karena males, tapi karena kita menghargai kapasitas energi yang terbatas.
Makanya tubuh bisa lemas meski secara fisik nggak capek; karena energi sudah terkuras duluan di background, padahal kerja sebenarnya belum dimulai.
Terima kasih artikelnya, sangat relate.
Save dulu biar ingat. 🙏
🙏 DI USIA 65 TAHUN, BELIAU MASIH BERJUANG MENGAJAR…
Namanya Bapak Rudy Dermawan, pensiunan guru Bahasa Jepang lulusan UNISBA.
Di usia yang sudah tidak muda 65 tahun, beliau tetap memilih mengajar demi menyambung hidup.
📚 Beliau membuka kelas online Bahasa Jepang (level N5–N4) untuk siapa saja yang ingin belajar dari nol.
📖 Selain itu, beliau juga menjual E-book belajar Bahasa Jepang (PDF) seharga Rp50.000 saja.
💔 Bagi kita mungkin kecil…
Tapi bagi beliau, itu sangat berarti untuk kebutuhan sehari-hari.
Kalau kamu: ✅ Ingin belajar Bahasa Jepang
✅ Atau sekadar ingin membantu
Silakan hubungi nomor yang tertera 🙏
❤️ Mari kita saling bantu sesama anak bangsa.
Karena kebaikan kecil dari kita, bisa jadi harapan besar bagi orang lain.
(RT ke semua orang agar meluas)
#BantuSesama #BelajarBahasaJepang #KisahNyata #BerbagiItuIndah #IndonesiaSalingbantu
Wah min, saya sebenarnya kurang familiar sama buku-buku wajib bertema Filsafat Hukum. Tapi beberapa tokoh yang mimin mention di sini lumayan familiar karena dulu sempat muncul juga waktu kuliah, hehe.
Kayaknya menarik kalau mimin bikin threads khusus tentang buku-buku wajib baca di Filsafat Hukum. Apalagi kalau disertai insight dan pengalaman setelah baca, pasti bakal jadi referensi yang sangat berguna buat banyak orang 🙌
@eufrasiart Hahaha parah banget 😭 Jujur, menghormati preferensi tiap orang itu sebenarnya langkah paling sederhana buat menyampaikan pendapat yang berbeda. Kalau udah masuk ke perbandingan yang cenderung merendahkan, menurutku itu udah gak baik sih 🙅♂️🙅♂️🙅♂️
Ah finally, ada juga enlightenment intelektual. Ternyata peak civilization tuh ada di brisket, fries, sama spaghetti bolognese 😭 meanwhile Jepang clearly jauh lebih meaningful dibanding Nusantara yang “cuma” punya ribuan pulau, ratusan suku, bahasa daerah, dan kuliner lokal yang katanya terlalu kampungan buat standard globalized taste bud 💔
Untung masih ada orang kayak @eufrasiart yang mau remind kita kalau budaya sendiri itu masih worth appreciating di tengah aura “western/global yang superior” yang makin keras akhir-akhir ini. Thank you banget atas pencerahan culinary wisdomnya. Deep. Powerful. Life changing fr.
Tapi maaf, lidah saya bisanya yang ini aja ...
@eufrasiart This girl clearly never eats brisket with fries, or spaghetti with a ragù ala bolognese on top of it.
Or she's never been to the amazing Himeji and the surrounding lakes.
Any food, any place, anything is better than Indo. Please open your eyes
Haha terima kasih kembali, jujur saya sangat respect kok dia punya akses ke banyak makanan atau tempat-tempat yang emang terkenal dan mahal. Itu privilege yang valid. Cuma kadang jadi kerasa kurang empati aja pas mulai dibanding-bandingin atau seolah pilihan lain itu “lebih rendah”. Padahal gak semua orang punya akses, budget, atau lingkungan yang sama.
Kalau mau sharing pengalaman menurutku sah-sah aja, malah menarik. Tapi akan lebih enak kalau tanpa nada merendahkan atau bikin standar seolah semua orang harus bisa relate ke lifestyle itu.
Sangat setuju. Kerentanan penyandang disabilitas memang berlapis, bukan sekadar “semua orang juga susah”. Mengatakan “jangankan bapak kami yang sempurna” justru menghapus kerentanan struktural dan ekstra cost yang harus mereka tanggung setiap hari.
Pergerakan yang inklusif harus mengakui perbedaan kerentanan itu, bukan meratakannya. Solidarity without erasing difference. Bagus sekali poinnya.👍
Sangat setuju, memang cantik sering jadi faktor utama yang membuat perempuan lebih rentan jadi target eksploitasi, termasuk jadi escort. Itu realita yang susah dipungkiri. Tapi menurutku dalam konteks ini, Pram justru sedang menunjukkan hal itu dengan cara yang cukup terbuka. Dia tidak sedang bilang “cantik = korban”, tapi sedang menggambarkan betapa kejamnya sistem patriarki militer yang menjadikan “kecantikan” sebagai komoditas. Perempuan cantik dalam ceritanya bukan diglorifikasi, melainkan diperlihatkan sebagai korban sistem yang sangat keji.