@KAI121 Berkali-kali saya coba seat yg saya pilih (gambar kiri) berubah ketika hendak membayar (gambar 2). Padahal ketika saya cancel pembelian dan coba beli lagi, kursi tersebut masih tersedia @KAI121
@KAI121 selamat malam
Min saya pesan tiket dan sudah pilih seat ekse 2/9A (gambar pertama) , kemudian setelah exchange railpoin kok berubah jadi eksekutif 1 chair 8A yah?
@RereSwastika@bardanslm +- 3,5 tahun, karena ada 2 semester yg cuma ambil 3 - 5 sks/smtnya,
Karna tidak linear hanya ada +- 10 matkul dasar yg diakui dari kuliah sebelumnya
kamu tau kampus UT (Universitas Terbuka)???
radit itu jago banget yah!
ngobrol topik serius alias ngundang kampus UT tetep aja seru.
menurutmu radit ini diendorse gak?
beberapa poin yg menarik:
- pegawai radit ada 2 orang yg sedang kuliah di UT
- biaya kuliah di UT cukup terjangkau (disini vika sebagai mahasiswa akutansi cerita membayar Rp 1.3 juta per semester)
- UT itu negeri bukan swasta
- UT kampus pertama di indonesia yg menyelenggarakan pendidikan secara jarak jauh (mulai tahun 80an)
- UT punya 39 kantor cabang, mahasiswa tersebar 58 negara total mahasiswa aktif 767.000 orang
- tahun ini ada 20 ribu beasiswa yg akan UT salurkan
- banyak yg mengira UT hanya untuk guru, padahal tidak
- meskipun UT tidak menggunakan tes seleksi (selama lulusan SLTA bisa), namun standar lulusannya dijaga cukup ketat
tetangga saya di pamulang dulu dosen di UT, jadi dari kecil saya udah familiar banget sama UT ini
ada enggak temen/kenalan kamu yg kuliah di UT???
atau kamu sendiri alumni UT??
ada testimoni????
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.