Postingan Arya ini lintas platform, diposting oleh orang2 yg tidak mencantumkan sumbernya.
Di threads ada, di IG pun ada. Segitunya orang2 pengen mendapat sorotan sampe lupa dengan etika.
Tapi ya gak heran, banyak yg mencontohkan gaperlu etika untuk tampil
Persis Wapr...
Alasan kenapa standupcomedy-an perempuan di indonesia regenerasinya kurang ya karena kultur tongkrongannya terlalu abang-abangan. Sebagai penonton, udah kenyang bgt sama jokes2 MC yg seksis tp bahkan lucu aja engga. Itu baru sebagai penonton, ga tau gimana kalo ke sesama komika.
Pernah debat ama pasien perokok selama di Puskesmas? Jujur ga pernah.
Rata2 kalo dibilangin brenti, ya senyum2 sambil bilang
“ya tak usaha ya doc, susah jujur, hahaha”
Tapi kalo ketemu pengendara yg merokok, trus abu dibuang d jalan jujur takut negurnya.
Takut endingnya gelut.
Selamat pagi Mas @kukuhya, saya coba izin berbagi pandangan dari sisi linguistik (karena alasan utamanya memang terkait linguistik), plus pasti banyak juga yang bertanya-tanya soal ini.
Pertama, bahasa Indonesia tidak memiliki fonem /dh/ dalam bunyi konsonannya, dan sistem ortografi bahasa Indonesia dirancang untuk merepresentasikan bunyi-bunyi yang memang ada dalam bahasa kita.
Tidak ada ruang untuk hal rasis, “sangat setuju”
Tapi kalau ada argumen, kalau ga ngomong aneh aneh kenapa harus tutup mulut? Itu kurang setuju & bias.