Namun, kalau aku sempat pikir lagi, apakah memang, apa-apa yang aku katakan selama ini berniat menyakitimu? Sama sekali tidak. Sedangkan aku melihat kata-katamu, semakin kesini semakin membuatku muak saja. Memang senewen kalau dilihat terlalu lama.
Padahal dah dibela2in jg 5 sila itu, disinkron2in gpp rada maksa pake ayat qur'an dsb, tp apa yg kita liat skrng? Ya kalo dah gak ada ruhnya mah mati, koit, terserah namanya, tinggal masukin keranda, tutup kain hijau "innalillahi wa innailaihi rojiun", gotong, bawa ke pekuburan.
Ketika masyarakat sudah tidak lagi percaya bahwa perubahan bisa dilakukan melalui jalur normal, mereka sering kali memilih untuk menarik diri atau menabung ketidakpuasan yang nantinya bisa menjadi titik ledak sosial.
Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji sekalian syukur, bahwasanya korupsi masih tetap subur. Jangan sampai kita menjadi rakyat yang kufur, agar pemerintah dapat pulas tidur mendengkur.
Masalahnya bukan pada nasihatnya, karena nasihat ttg berhemat, sabar, dan mengevaluasi pengeluaran, secara universal adalah nilai yg benar, melainkan pada hilangnya otoritas moral dari si pembawa pesan. Nasihat tdk bisa dimakan, kata2 bijak tdk bisa dipakai utk bayar kontrakan.
Ketika ekonomi macet, lapangan kerja formal hilang, dan upah tidak manusiawi (masalah struktural), pemerintah justru menggeser narasinya menjadi masalah personal (moral/gaya hidup). Sebuah taktik klasik dari sistem yang enggan bertanggung jawab.
Sistem yang digaji oleh rakyat idealnya wajib mengabdi penuh untuk rakyat. Ketika fungsinya bergeser menjadi tempat berlindung orang-orang yang ingin mencari kenyamanan dengan fasilitas negara, di situlah sistem tersebut sedang mengalami kerusakan moral dan fungsi.
Antara sistem yg terlalu raksasa vs. kapasitas yg tidak mumpuni, dua faktor ini sebenarnya bekerja secara simultan (bersamaan). Jarang sekali ada individu yg memiliki kapasitas psikologis dan politik yg cukup kuat utk mengimbangi daya hancur sistem tsb.
Tabayyun gagal karena hanya dijadikan pelindung (tameng). Kita mudah mengajak tabayyun tapi ketika diminta verifikasi, klarifikasi, sering ngeles, berbelit, bertele-tele, sementara masalah lain yg masih berhubungan dgn tabayyun tidak dianggap, artinya ini tabayyun yang mendikte.
Ketika negara menggelontorkan hampir Rp1 triliun per hari tanpa sistem transparansi yang jelas kepada masyarakat, maka siapa pun yang memegang otoritas program MBG ini tidak bisa mengelak dari tuduhan bahwa mereka sedang melakukan perjudian moral terbesar terhadap uang rakyat.
Dalam politik pragmatis, sering kali lebih mudah untuk terus memberikan "obat penenang" (bansos, narasi keberhasilan) daripada melakukan "operasi besar" yang menyakitkan (berantas korupsi total, reformasi birokrasi, penegakan hukum).
Pic: Gemini
Masalahnya memang bukan pada candaanya, tapi pada pengabaian (dismissal) terhadap realitas. Jika kita tertawa untuk bertahan hidup, itu wajar. Namun, jika kita tertawa sehingga kita lupa bahwa kita sedang dirugikan, itulah saat di mana daya kritis kita telah berhasil dilumpuhkan.
@DPR_RI Sebuah bangsa itu kuat selama ada rasa "satu nasib". Ketika rakyat merasa pemerintahnya hanya peduli pada angka anggaran (logika penguasa yang mulai menjauh dari rakyat), maka solidaritas sosial itu mulai luntur.