2022 has been a blessing in a lot of ways for me. I get to rediscover my self, my love and new oppotunity, and also my passion for Pre-National Nusantara.
Here are some of the interesting 25 books that i've read this year.
Short review. 👇
Bentar lg kan tanggal 25 nih, pada gajian. Nah, liat slip gaji masing2. Disitu gaji kita dipotong PPh (Pajak Penghasilan) 5%. Jika gaji sekitar 8 s/d 25jt, maka akan ada potongan 300.000-an s/d 4.400.000an.
Duit kita segitu banyak dikemanain? Salah satunya buat bayarin demo ini.
@varkaglazer Kalau ada feminist homophobic yang setuju dgn pendapat ini, they are dead
Semua laki-laki termasuk gue tryinh to be masculine everyday, jadi yaudah deh toxic masculinity berlanjut
Ga ada tuh laki yg mau aware sama isu perempuan, ngurus anak dll karena takut di cap boti
@dewa77996 rahayu yg gmn dulu, banyak bad actor dr sirkel itu yg juga misogonis mentok, karena definisi rahayunya berkutat di romantisme-tradisionalisme ala kolonialis
"Era Mataram Islam itu ilmu-ilmu sastra kuno diabaikan, diganti ngarab gurun"
Dalam Serat Kekiyasaning Pangracutan, beliau Maulana Mataram menjelaskan bahwa seorang guru haruslah seorang Paramasastra (pintar sastra kuno) dan Paramakawi (pintar bahasa Kawi).
@motherlander@disolve88 apakah sekiranya mereka itu bangsa negrito sebelum datangnya austronesia? kok dr deskripsi rasis (keturunan anjing) dan stereotipikalnya (kebal sama dedemit pedalaman hutan) saya curiga demkikian ya?
Seni di salon borjuis yang cuma bisa diakses orang sugih memang disukai penguasa, karena bisa kasih legitimasi "nih kami demokratis, tidak anti kritik."
Makanya mereka sampai mau keluar duit.
Coba seni eksplisit begini dipajang di ruang publik, apa mereka juga mau sponsorin?