Tiga pejabat datang ke kampus, tiga latar belakang berbeda, tapi publik punya alasan berbeda untuk mengkritik mereka.
Budiman Sudjatmiko dulu dipenjara karena melawan kekuasaan. Hari ini ia berada di dalam kekuasaan. Pertanyaannya bukan lagi "apakah Budiman berubah?", melainkan: sejauh mana idealisme bisa bertahan setelah mendapat akses ke ruang VIP negara? 🔥
Nusron Wahid lebih sederhana. Ia selalu tampak nyaman di dekat pusat gravitasi kekuasaan. Publik sampai bingung, yang sedang dibela itu prinsip atau posisi? 😋
Sudaryono menghadapi ujian yang berbeda. Di negeri yang penuh politik patronase, rakyat cuma ingin tahu satu hal: jabatan itu hasil kapasitas atau bonus kedekatan? 🗿
Yang menarik, ketiganya datang dengan cerita berbeda, tapi berakhir pada tujuan yang sama: 'PENJILAT PENGUASA'.
Padahal sejarah mengajarkan, tugas intelektual bukan menjadi PENJILAT.
Tugas intelektual adalah mengingatkan negara bahwa PENGUASA bisa salah.
Karena ketika mantan aktivis, politisi, dan kader partai akhirnya terdengar sama persis saat bicara di depan mahasiswa, mungkin yang berubah bukan mahasiswanya.
Mungkin kursi kekuasaan memang punya kemampuan ajaib:
mengubah kritik menjadi klarifikasi,
mengubah idealisme menjadi narasi,
dan mengubah PENJILAT menjadi NEGARAWAN.. ☕📊
Saya pernah ngobrol dengan konglo, salah satu syarat CEO atau direksi yang dia pilih adalah: loyal pada keluarga dan pasangan.
Bukan ngurusin moral orang, lebih ke: memastikan energi dan fokus orang yang dipilih ndak bocor kemana-mana
Nasehat untuk sexually discipline ini bagus for both laki-laki dan perempuan.
Supaya hidup adem tanpa drama.
Karena setiap interaksi seksual itu bukan cuma soal fisik. Ada energi yang keluar, ada ikatan yang terbentuk, ada ruang mental yang kebagi.
Dan itu semua kalau ngga dikelola dengan sadar, fokus dan energy-nya akan bocor kemana-mana. Belum lagi potensi kena penyakit, keluarga berantakan dll.
Kalo orang begini mengelola bisnis, bisnisnya ikut berantakan 😅
Buat orang-orang yang hidupnya pengen efektif, minim distraksi, dan penuh arah, sexual discipline itu bukan tentang jadi alim, tapi strategi menjaga clarity dan ritme hidup.
Tubuh itu rumah. Energi itu aset. Dan orang yang punya kendali yang baik, akan sangat selektif pada siapa yang dia izinkan masuk.
Bukan karena sok suci, tapi karena tahu, nggak semua orang pantas mendapatkan energi, waktu dan personal space kita.
Ujung dari disiplin ini bukan kesempurnaan. Tapi ketenangan. Clarity.
Dengan clarity, seseorang bisa membangun hidup tanpa drama, tanpa keruwetan yang ndak perlu.
Dengan clarity, hidup lebih tenang, terarah, rejeki finansial meningkat, bisnis moncer.
Lagunya diputar di Istana, tapi keluarganya jualan Es Ganefo demi beli obat...🥀💔
Hampir semua orang tahu nama Ismail Marzuki. Tapi tak banyak yang tahu betapa perihnya akhir hidup Sang Maestro ini. Pencipta "Gugur Bunga" dan "Rayuan Pulau Kelapa" ini tidak hidup bergelimang harta royalti. Di masa tuanya (yang singkat), ia jatuh sakit dan jatuh miskin. Mobil dijual. Barang habis. Sang istri harus berjualan es lilin (Es Ganefo) di depan kontrakan hanya untuk menyambung hidup dan membeli obat paru-paru suaminya.
Bang Ma'ing wafat di usia 44 tahun dalam kesunyian. Namanya kini abadi di gedung kesenian Jakarta, namun kisah pilunya menjadi tamparan bagi kita tentang bagaimana bangsa ini pernah memperlakukan senimannya. Al-Fatihah untuk Ismail Marzuki. 🤲
Kalau pejabat disuruh bertanggung-jawab atas perbuatannya, lalu bawa-bawa nama Allah, apakah ini bisa dibilang mengkambing-hitamkan Allah, atau menghujat Allah?
Amboseli’s gentle giant was one of the most photographed elephants in the world and among Africa’s last remaining ‘super tuskers.’ He passed on January 3, 2026
https://t.co/XVJAstcyrB
kalian harus tau seberapa kesenjangannya ilmu toksikologi di Indonesia mengenai snake bite.
dr. Tri Maharani Sp.EM satu satunya dokter toksikologi gigitan ular di Indonesia dan beliau yang dikonsulin untuk kejadian gigitan ular SEINDONESIA :)
jd minimal tau kalau digigit ular:
Tahun 2015, ada jenazah seorang mahasiswa ditemukan meninggal di danau UI.
Namanya Akseyna Ahad Dori.
Jenazah masih mengenakan ransel, di dalamnya ada sejumlah batu.
Diduga korban adalah korban pembunuhan.
Kasus ini belum selesai sampai sekarang. Pelaku, motif, dan kronologinya belum jelas.
Semua masih misteri, sampai hari ini, satu dekade kemudian.
Standar Ganda
Sungguh miris melihat netizen yang konon pro Palestina, mengecam pembantaian Israel terhadap warga Gaza, tapi diam atau bahkan mendukung pembantaian pada warga Alawite dam Kristen di Suriah.
Rezim Zionis membantai warga sipil Gaza dengan alasan, "Mereka itu pendukung Hamas, pendukung teroris!"
Mirip dengan ini: "Ya pantas aja mujahidin memerangi warga Alawite, mereka itu kan pendukung Assad, mereka Syiah, kafir!"
Padahal korban ideologi Wahaboy/takfiri bukan cuma yang benar2 "kafir," tapi juga yang "dituduh kafir" atau "pendukung kafir." Semua bisa jadi korban dari ideologi ekstrem ini.
Foto:
Ulama Sunni Suriah, Sheikh Abdul Rahman al-Dala disiksa dan dibunuh oleh militan Hay'at Tahrir al-Sham karena memprotes pembunuhan warga minoritas Suriah.