diberkahi dospem yang baik dan lokasi penelitian yang sangat welcome gini, kalo progresku masih lambat, aku kurang ajar. tolong tampar aku kalo masih bermalas-malasan...
udah di tahap pasrah, kek kalo rezekinya wisuda november 2026 dan harus nambah semester, yaudaaah. toh apasi yang dikejar sampe harus ngambis wisuda agustus? wkwkw
setujuu, siapapun laki² atau perempuan harus cerita, harus meluapkan emosinya, jangan dipendam, luapkan ke hal hal yang ga menganggu orang lain.
karena memendam suatu emosi bisa bikin kanker, auto immune, depresi
Saya alhamdulillah hampir ga pernah demotivasi, mungkin karena tanggung jawabnya banyak 😁.
But when I am exhausted, yang dilakukan adalah istirahat. Beneran istirahat: Tidur banyak, makan bener, Netflix, tidur lagi.
Pas udah mulai bertenaga, lanjut olahraga supaya tenaganya nambah.
It's ok sesekali lelah dan melambat. Manusiawi kok.
Yang ngga ok kalo menjadikan itu semua sebagai alasan untuk ngga making progress dan ga deliver the best.
Kok bisa ada cowo usia lebih dari 30 tahun tapi gak bisa komunikasi dua arah, pengen menang sendiri, pengen punya kontrol penuh, bahkan bisa jadi kalo marah akan abusif, tapi masih tetep dipacarin??
Ah let me guess, he's got the 💰, right? 🤭
Ini poin penting lainnya kenapa sulit menjadi single mom di negara ini: STIGMA NEGATIF terhadap perempuan yang berpisah/menjadi 'janda'.
Mereka yang tadinya sangat mendedikasikan hidupnya untuk mengurus urusan rumah tangga (terutama IRT) itu sangat berpotensi kehilangan banyak circle, support system, karena identitas mereka 'hanya sebatas' seorang 'ibu' loh tanpa disadari.
Bayangin aja, hari-harinya sibuk di rumah 'doang' karena gak ada pembagian tugas yang jelas dengan pasangan.
Gimana gak sulit maintain hubungan sosial di luar? Gimana gak sulit punya support system lain? Mereka seolah-olah hanya punya 1 identitas: seorang Ibu bagi anak-anaknya. Gak punya waktu untuk diri mereka sendiri.
Begitu mereka siap secara perasaan dan mental untuk berpisah dengan pasangannya, mereka kena stigma negatif dari lingkungan terdekat mereka sendiri. Misalnya, dari keluarga yang ngejudge akhirnya gak mau bantu.
Padahal, selama ini mereka udah 'kehilangan' banyak support system dari yang bukan keluarga: teman, rekan kerja sebelumnya, dll.
Apa gak mau meledak tuh, hati sih udah siap berpisah tapi masalahnya akses dan dukungan agar dia bisa berdaya lagi tuh SUSAH DIDAPAT. Makanya, menjadi single mom di negara ini tuh berat banget.
Kalo gak ada keluarga yang support atau support system yang lain, berat banget banget banget. Makanya, baik-baik deh kata gue ke orang lain. Terutama sesama perempuan.
Kenal sama beberapa orang yang ga kuliah. Mostly fine-fine aja, banyak yang sukses dan humble
Tapi kalo udah
“aku ga kuliah, anak buahku S1 S2”
“pendidikan formal ga penting”
“Kuliah cuma buat ngafalin shorcut software”
Punten pisan sih. Agak kurang cocok di aku untuk involve lebih jauh dalam urusan yang lebih serius
what if
kuliah gratis, buku-buku gratis, transum merata ke seluruh daerah, tenaga pendidik digaji layak, lulus kuliah ga pusing cari kerja, perpusda buka 24 jam, trotoar layak pakai, UMR naik, ga ada parkir dan pungli.
(omg mimpi basah ak as a wni hiks)