Teman-teman dokter, teman-teman nakes.
Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.
Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.
Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien.
Sakit itu Tidak Enak.
Badan terasa asing. Pikiran penuh ketakutan. Waktu berjalan lebih lambat. Bahkan bagi kita yang setiap hari bekerja di rumah sakit, sejujurnya menjadi pasien adalah salah satu hal yang paling kita takuti.
Kita memahami keterbatasan fasilitas. Kita tahu rumitnya sistem rumah sakit dan BPJS. Kita mengerti perpindahan kamar membutuhkan proses. Kita tahu padatnya IGD, rumitnya rawat inap, dan betapa banyak hal harus dikerjakan dalam waktu bersamaan.
Kita tahu semua itu.
Tapi pasien kan enggak.
Pasien hanya melihat keluarganya kesakitan. hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, berapa lama harus menunggu, dan apakah ada seseorang yang sungguh peduli kepada mereka.
Sering kali, cukup kata-kata kita,
“Mohon maaf ya, Pak, Bu. Saat ini prosesnya masih berjalan. Kami masih menunggu kamar tersedia. Perkiraannya sekitar satu jam (atau berapapun jam) lagi. Kami akan terus memberi kabar.”
Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang.
Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi.
Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit.
Kita mengerjakan bagian kita dengan ilmu, keterampilan, dan hati. Pasien menjalankan bagiannya dengan kepercayaan, keberanian, dan kesabaran.
Keduanya sama-sama berjuang.
Dan ketika perjuangan itu berhasil, ketika seorang pasien sembuh dan akhirnya pulang, kembali memeluk keluarganya, kembali bekerja, kembali menjalani hidupnya, itu perasaan BAHAGIA yang tiada dua.
Itulah salah satu alasan kita memilih jalan ini.
Lalu ketika ada pasien menyampaikan keluhan di media sosial, bahkan ketika nama rumah sakit atau BPJS ikut disebut, mengapa kita harus begitu mudah tersulut?
Mengapa kelelahan kerja harus dituangkan menjadi kata-kata yang kejam dan jahat?
Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.
Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun.
Pasien kan salah satu jalan datangnya rezeki kita.
Allah selalu mengirimkan rezeki melalui tangan manusia. Dan rezeki kita, para tenaga kesehatan, datang melalui manusia yang sedang sakit, takut, rapuh,dan membutuhkan pertolongan.
Maka sesungguhnya pasien adalah ladang karunia kita.
Melalui mereka, ilmu kita memiliki arti. Melalui mereka, tangan kita dapat menolong. Melalui mereka, kesabaran kita dilatih. Melalui mereka pula, terbuka begitu banyak kesempatan untuk mendapatkan pahala.
Jadi ayo kita sayangi pasien-pasien kita.
Bagi kita, mungkin mereka adalah pasien ke empat puluh hari itu.
Namun bagi mereka, hari itu mungkin adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidupnya.
Pertolongan kita harus selalu dimulai dari rasa kemanusiaan.
Saran dari Anne Hathaway ini bener-bener mindblowing dan nampar banget buat kita yang suka keras ke diri sendiri.
Anne bagiin tips terapi foto yang dia dapet dari dokternya.
Coba ambil dan tatap foto masa kecil kita. Terus, ucapin semua hal jahat, semua makian, dan semua insecurity yang sering kita tujuin ke diri kita saat ini, langsung ke anak kecil di foto itu.
Tega nggak?
Pasti nggak bisa kan? Anak kecil di foto itu nggak pantes denger kata-kata sejahat itu. Terus, kalau kita nggak berani ngomong gitu ke anak kecil, kenapa kita tega ngelakuinnya ke diri kita yang sekarang?
Kita sering lupa kalau anak kecil itu masih ada di dalam diri kita. Kalau lagi sukses kita sering mikir itu cuma hoki, tapi giliran gagal dikit aja langsung ngehukum diri habis-habisan.
Lewat saran mbak Anne ini kita diingetin lagi, yuk pelan-pelan stop self-sabotage dan mulai lebih berbaik hati sama diri sendiri.
You deserve kindness from yourself 🥺🤍
Ngomongin swing dan movement, Spider-Man Brand New Day buat kami ini jadi swing terbaik versi Tom Holland!
Ntah ini ada kaitannya karena ketiga versi Spidey udah pernah bertemu di No Way Home, kami ngeliat cara Tom Holland bergerak dan berayun di sini tuh semacam perpaduan antara versi Tobey Maguire & Andrew Garfield.
Beberapa shot-shot POV ketika bergelantungan pun terasa sangat segar di film ke-4 nya ini!
The fans got Deadpool off the ground so many years ago. Yesterday, 10 years after the first film and exactly 2 years after Deadpool & Wolverine, I felt so lucky to be on the #SDCC floor with everyone whose unapologetic devotion brings so much joy to this world.
Akhirnya nonton #TheOdyssey versi 4DX, beneran chaos njirr 😂 tapi seru banget!
1 jam pertama masih aman, kursi cuma berayun-ayun pelan sama ada efek angin sepoi2 sesuai scene di awal film yang lebih eksplor pulau/kerajaan Ithaca.
Begitu film setengah jalan, nah di sini kekacauan dimulai.. spoiler dikit, waktu scene di pusaran air laut dan diserang Charybdis itu parah banget, berasa kayak mau terlempar dari kursi, belum lagi efek anginnya kenceng banget, dan gong-nya kena semprotan air dari kanan-kiri-depan sampe kacamata gw blur karena basah 😭
Waktu adegan dikejar raksasa Cyclops itu juga chaos banget, efek motion kursinya dibuat sedemikian rupa dari POV Odysseus jadi ikutan panik berasa dikejar2 juga, pas adegan jatuh2 di bukitnya itu, di sandaran kursi ada efek “ditonjok” di bagian punggung kita jadi berasa kek beneran abis jatuh 🙈
Asli recommended banget nonton versi 4DX ini, tapi ga berlaku buat yang gampang pusing atau migrain, yang ada malah muntah nanti wkwk