ternyata kalo beasiswa ppds ke LN malah gaada requirement seribet dalam negeri dan dijamin gaji perbulan, yang paling menghambat cuma gap bahasa dan budaya. 🥲
ADHD kok “trend”. Yang punya aja ogah banget punya ADHD.
Habis minum obat: “anjir gini orang normal” bisa punya motivasi kapanpun.
Tapi minum obat jg ga sustainable. So ya coping.
Eh skrg males dikit ngakunya ADHD, fak lah.
ADHD kok “trend”. Yang punya aja ogah banget punya ADHD.
Habis minum obat: “anjir gini orang normal” bisa punya motivasi kapanpun.
Tapi minum obat jg ga sustainable. So ya coping.
Eh skrg males dikit ngakunya ADHD, fak lah.
Disliking someone is human. Trying to destroy their reputation because your ego feels threatened is psychological rot.
That is not power. That is weakness screaming.
udah mana argumennya jelek, bilang cewe pada munafik karena masih suka karakter cowo fiksi tapi menghina laki asli. ga mikir jir otaknya dimana sih sampe speechless males debat
ada temen gue (laki-laki) dia cerita ke gue. mereka—para laki-laki yang bersuara untuk perempuan dan queers—aja ditindas balik sama laki-laki cis-heteronormatif misoginis dengan segala macam fallacy dan wacana maskulinitas-nya itu. apalagi kita, perempuan dan kelompok rentan.
ada temen gue (laki-laki) dia cerita ke gue. mereka—para laki-laki yang bersuara untuk perempuan dan queers—aja ditindas balik sama laki-laki cis-heteronormatif misoginis dengan segala macam fallacy dan wacana maskulinitas-nya itu. apalagi kita, perempuan dan kelompok rentan.
Ketika “aku” mengklaim… “aku punya empati, aku peka…” termasuk “aku udah mengikhlaskan, aku rendah hati, aku udah memaafkan, aku udah mengalami spiritual awakening…” itu pun ego keakuan.
That’s the ego’s last trick.
Itulah kenapa puncaknya itu hening, nggak mengklaim.