Polutan CO dari Karhutla Indonesia tersedot ke Taifun Champi. Apa efeknya? Salah satunya bisa meningkatkan intensitas hujan karena aerosol tersebut bakal jadi inti kondensasi awan.
Buat kakak-kakak yang belum paham, ini namanya potret kemiskinan akibat pemimpin yang tidak tahu cara mengambil keputusan tepat sasaran.
kemiskinan di Indonesia bukanlah kemiskinan Kultural yg disebabkan oleh rakyat malas bekerja dan berusaha, banyak manusia yang bekerja pagi hingga malam, dan malam hingga pagi namun tetap tidak merubah kondisi ekonomi, kemiskinan di Indonesia adalah kemiskinan Struktural karna kurangnya peran negara dalam memberdayakan rakyatnya. kemiskinan dipelihara oleh pemerintah agar bansos dan sembako punya ruang dan tempat dihati masyarakat
Kemiskinan yang masif adalah representasi
dari kebodohan dalam pengambilan kebijakan.
@prabowo@Gerindra@bang_dasco@DPR_RI@KemensosRI
Salah satu mantan volunteer Greenpeace spill tentang aksi Greenpeace yang ikonik hari ini, memasang spanduk di patung Bundarang HI
>Greenpeace mengincar eksposure, supaya mengajak masyarakat aware
>ternyata memang ada divisi panjat tebing tersendiri
>untuk memasuki divisi panjat tebing, harus tidak memiliki cita cita masuk PNS, sebab pasti akan berurusan dengan penjara dan SKCK
>aksi di Bundaran HI termasuk sukses, meski hanya 1 jam banner bertahab, traffic saat itu sedang bagus, diliput sana sini dan viral
Jika dilihat memang well callculated bgt sih, momennya pas : di hari yang sama mahasiswa turun aksi
Ukuran bannernya juga presisi
Yang bikin kagum, semua personilnya yang masang banner adalah cewe🙌
BIG RESPECT ‼️
Buat mbak Nya Terimakasih sudah seberani ini untuk bersuara.Buat siapa pun ini Nyata apa yang keluar dari omongan mbak hebat ini
Sembako bahan pangan Mahal,mencari kerja susah,pajak di naikan terus.
Semoga Dirimu aman ya mbak🫂
Sampai bila mbak nya terjadi sesuatu pasti banyak yang bela.
ib:agungpinota
Tau gak, penelitian menunjukkan bahwa sperma tercepat BUKAN selalu yang berhasil membuahi sel telur.
Selama ini kita dikasih narasi bahwa pembuahan itu soal lomba lari, siapa yang pertama sampai, dia menang. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Penelitian menunjukkan bahwa sel telur manusia aktif memilih sperma yang paling sesuai secara genetik. Bukan yang paling ngebut.
Mekanismenya?
Sel telur mengeluarkan zat kimia melalui cairan folikel, semacam “jejak aroma” yang menarik sperma tertentu untuk mendekat.
Yang menarik adalah cairan folikel dari satu wanita ternyata lebih kuat menarik sperma dari pria tertentu, sementara dari wanita lain lebih kuat ke pria yang berbeda.
Proses ini punya nama yaitu cryptic female choice.
Intinya, sel telur juga punya “preferensinya sendiri” dengan memilih sperma yang paling kompatibel secara molekuler untuk meningkatkan peluang kehamilan dan kesehatan keturunan.
Semoga bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
Fitzpatrick (2020). Chemical signals from eggs facilitate cryptic female choice in humans.
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
@ibamarief IBAM RELA LEPAS PEKERJAAN BERGAJI BESAR DI EROPA DEMI MENGABDI PADA NEGARA, KINI DITUNTUT PENJARA DENGAN TUDUHAN SANGAT ANEH: INI YANG BIKIN NADIEM MAKARIM SEDIH
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Guru madrasah swasta berdemonstrasi agar diangkat menjadi ASN PPPK, kemudian dicemooh karena yang menggaji guru swasta adalah yayasan, bukan kewajiban negara. Tapi negara bisa mengangkat pegawai SPPG dibawah naungan Yayasan swasta menjadi ASN PPPK.
Persoalannya, anggaran yang digunakan untuk mengangkat pegawai SPPG dibawah Yayasan/ Swasta menjadi PPPK adalah anggaran pendidikan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengangkat guru madrasah swasta menjadi ASN PPPK.
bbrp tahun lalu, satu sepupuku bangkrut, katanya mau bunuh diri krn dikejar2 utang. mereka datang padaku mau minjam uang, nilainya ratusan juta. memikirkan keselamatannya, kucairkanlah sebagian investasi yg kupunya dan kupinjamkan. dia pun kami bawa ke dokter utk berobat stress dan depresinya itu. sayangnya, bertahun2 nggak dibayar. dicicil pun tdk, kyk dianggap lupa. saat kutagih dgn cara halus setelah sekian lama, aku dimaki-maki. orangtuaku, yg adalah tante dan om mereka, juga direndahkan. akhirnya setelah hampir 5 thn, lunas juga. tapi nggak kumaafkan lancangnya orang itu menghina orangtuaku.
saat pandemi, satu sepupu lain sekarat di rs, butuh pengobatan yg harganya mahal bgt. adiknya telp aku minta pinjam uang hampir seratus juta, katanya nanti akan jual mobil utk mengganti. krn memikirkan sekarat dan penanganan yg hrs segera, besoknya langsung kutrf. alhamdulillah dia selamat. pengobatannya berhasil. tapi tetap aja, nagih hutangnya susah banget. mobil nggak jd dijual. aku minta dicicil pun, nagihnya udh kayak ngemis. si adik lepas tangan dgn angkuhnya, bilang dia nggak ada minjam dan duit itu bukan dia yg menikmati, si kakaknya ternyata menipu banyak orang setelah sembuh dan berujung masuk penjara. dari balik tahanan pun, orangtuaku juga masih dihina-hina. sisa utangnya masih ada 40an juta.
di sisi beberapa sepupu ternyata ada pemikiran: "ngapain cuma 40an juta aja ditagih, duitnya kan banyak?" ketawa miris aku pas hal itu sampai ke telingaku. aku berusaha jadi orang baik, tapi ternyata aku jadi jahat di mata mereka ketika utang itu kutagih. di mata mereka, aku nggak boleh nagih.
aku cerita panjang begini utk pelajaran juga ke kalian: jgn gampang minjemin duit ke orang, apalagi dlm jumlah besar, meskipun mereka masih dlm lingkup keluarga dan kita nilai baik. yg baik itu bisa berubah jadi setan saat berutang.
Dulu di kantor, ada senior namanya Pak Agus. Hubungan gue sama beliau tu sebel-sayang. Sering saling jadi menyebalkan satu sama lain, tapi tiap ada makanan, selalu disisihkan untuk gue. Tiap istrinya masak makanan enak, selalu diselundupkan cuma untuk gue (soalnya nggak enak sama yang lain karena nggak kebagian). Kalau gue sendirian di ruangan, beliau selalu nungguin karena tahu gue penakut akut.
Gue tahu makanan apa yang beliau boleh makan dan nggak. Hampir setiap hari beliau minta dibelikan fish and fries ke gue karena cuma itu yang bisa beliau makan. Gue selalu ngomel kalau beliau lemburnya bablas karena gue tahu rumahnya jauh, dan beliau sudah nggak lagi bugar.
Beliau tipikal bapak-bapak teduh. Jalannya pelan, tertawanya renyah, kalau ngomel judes banget tapi sepersekian detik lunak lagi.
Ingat banget dulu satu unit ke Dufan, dan beliau cuma ikutin rombongan gue main, nunggu di depan wahana sambil lihatin kita. Kalau di suruh istirahat, nggak mau, bilangnya, “Udah main aja, bapak lihatin kalian.”
Gue nggak peduli sebete apa orang-orang ke beliau kalau menyangkut kerjaan, bagi gue beliau adalah “Bapaknya gue.”
Sampai satu hari beliau meninggal. Di rumah duka, gue memperkenalkan diri ke istrinya, lalu di depan Pak Agus gue janji, “Aku nggak akan lupa sama keluarga kecil Bapak.”
Keluarga kecil yang selalu beliau banggakan. Cerita perjalanan cintanya yang selalu beliau ulang-ulang ke gue tiap jam 5 sore. Kesombongan beliau soal makanan istrinya yang enak. Kebanggaan beliau soal anaknya yang cerdas. Keluarganya kecil, hanya ada istri dan satu anak. Kalau dari cerita si Bapak, mereka berbahagia dalam sunyi.
Sampai hari ini, hubungan gue sama istrinya sangat baik. Dari anaknya masih SMP sampai sekarang sudah kuliah, jalinan silaturahim kita nggak terputus. Kalau ada apa-apa, istrinya selalu menghubungi. Tiap natal, beliau selalu kirim ayam bakar buatan sendiri dan tiap hari raya, gue selalu kirim nastar buatan Mamah.
Begitu terus selama bertahun-tahun.
Lebaran kemarin, istrinya kirim teflon buat Mamah. Katanya tiba-tiba ingat kalau si Mamah suka masak. Tahun kemarin, beliau kirim satu set sprei biru buat gue, katanya biar gue tidur nyenyak 🥹
Gue bersyukur atas ikatan sederhana ini. Simpulnya nggak rumit tapi erat dan nggak terputus meskipun si penghubung utamanya hilang. Sebab setelah kepergian Bapak, kita punya penghubung baru. Kebaikan Pak Agus yang kita lestarikan bersama-sama.
Gue setuju dengan kalimat, “Panjang umur kebaikan.” Orangnya memang mati, tapi baiknya terus hidup di sela-sela kehidupan kita yang masih bernapas di sini.
Bapak ku OB, ibu ku ART, bapak hanya lulusan SMP, tapi ijazah beliau tidak pernah aku lihat. Sedangkan Ibu ku tidak lulus SD, sekolah hanya sampai kelas 3. Waktu aku SMA bapak di phk, kemudian alih profesi jadi tukang ojek.
Tidak ada pekerjaan yg mudah, tapi menjadi pengangguran pun tidak enak.
Menikah itu rumit, tapi melajang pun tidak selamanya menyenangkan.
Merantau itu berat, tapi diam di rumah pun juga tidak mudah.
Belajar itu melelahkan, tapi kegagalan pun sama sekali tidak indah.
Mempertahankan hubungan itu sulit, tapi memutuskannya pun bukan berarti lega.
Bahkan proses memantaskan diri menjadi lebih baik itu jalannya terjal, namun diam stagnan di tempat pun bukan pilihan yang tepat.
Pada akhirnya, setiap jalan itu melelahkan. Namun, jiwa cerdas yang sesungguhnya adalah keberanianmu untuk memilih lelah yang memang pantas diperjuangkan.
Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.
Saya dan teman2 yg biasa berdiskusi ilmiah berbasis riset dan data pasti berpendapat sama dengan mbak di video ini. Tapi kalau buzzer & orang yg mendapat cuan dari proyek ini ya beda ceritanya...