Kegembiraan Lebaran memang bukan buat semua orang.
Aku merasa momen Idulfitri mirip seperti menonton FRIENDS.
FRIENDS itu serial favoritku. Sering kutonton berulang kali. Dan setiap rewatch, aku menontonnya dengan POV yang berbeda-beda.
Tergantung FASE HIDUP.
Begitu pula dengan LEBARAN.
Saat kecil, momen lebaran selalu kutunggu. Dihiasi baju baru dan jalan-jalan ke rumah-rumah.
Namun, beda lagi ketika kenalan dengan QUARTER LIFE CRISIS.
Aku takut bertemu Lebaran.
Kerjaan tak menentu, teman-teman telah mencapai ini dan itu, membuatku jadi orang paling gagal di ruang tamu.
Bertahun-tahun berharap ada tombol skip di hari pertama Idulfitri, lalu terbangun seminggu lagi.
Kini saat hidup lebih baik, aku tak lagi takut bertemu lebaran. Namun, tidak juga gembira meluap-luap.
Sekarang aku melihat lebaran dengan lebih bermakna.
Ini adalah perayaan setelah berjuang di Ramadan, seperti seorang pelari marathon menyentuh finish.
Menyadari silaturahmi perlu dijalin, bukan dimusuhi.
Berbagi untuk merayakan hari raya bersama-sama.
Lebaran bukan tentang gemerlap lampu dan kembang api, tetapi tentang bahagia yang terbit dari rasa syukur.
Ini pengalamanku dengan lebaran.
Gimana denganmu? 😊