Suatu wilayah bekas pemukiman kuno dapat diketahui dari beberapa indikator, salah satunya adalah keberadaan Sumur di halaman depan rumah, beberapa waktu lalu ada mimin berkunjung ke rumah salah satu kawan di pedesaan, diajak muter-muter kampung, nah pada saat melewati beberapa sumur di halaman depan rumah warga lantas mimin berbicara ke kawan mimin bahwa tempat tersebut dahulunya adalah pedukuhan kuno.
oke mimin jelaskan, jadi sumur-sumur di buat di halaman rumah dan berdekatan dengan jalan umum itu ada maksudnya, di masa lalu kualitas air permukaan masih bagus dan layak minum bahkan langsung diminum dari sumur-sumur tsb, dikandung maksud apabila ada orang dalam perjalanan jauh dan haus bisa langsung mengambil minum dari sumur-sumur warga yg ada di kanan kiri jalan. jadi filosofi tata ruang orang jawa itu sudah sangat tinggi. mereka di masa lalu menempatkan dan memikirkan kepentingan umum pada lahan-lahan pribadinya, mereka jaman dahulu mempunyai filosofi sosial yang tinggi terhadap orang lain. namun kapitalisme jaman menggerus dan menggusur itu semua.
rerata rumah orang jaman dahulu juga memiliki pendopo, ini juga ada maksudnya, bilamana ada yg sedang dalam perjalanan dan tiba-tiba hujan maka mereka bisa menumpang berteduh di pendopo rumah warga tsb, terlepas dari kenal ataupun tidak, menumpang berteduh di pendopo dan menggunakan sumur yang tadi mimin paparkan sangat lazim di masa lalu, karena tiap anggota masyarakat menjunjung tinggi prinsip hidup saling tolong menolong...
Rumah-rumah orang di pedesaan bekas pemukiman kuno biasanya juga masih menganut arah hadap rumah yang pada waktu lampau hampir bisa dipastikan menghapad ke arah utara maupun selatan.
Saya pernah baca buku judulnya Lost Connections, penulisnya Johann Hari. Kamu udah baca?
Premisnya: Sekarang ini meski punya keluarga, temen, gampang hubungin pake hp, suasana rame… tapi banyak orang merasa kesepian, sampe depresi.
Dan merasa rumah nggak lagi terasa sebagai rumah.
Sekarang manusia makin terpolarisasi, terfragmentasi, lingkarannya jadi sesempit cuma per individu, “aku”.
Nonton kayak live marapthon gini mungkin bikin orang merasa punya temen, dengerin obrolan ringan, merasa jadi bagian dalam kelompok dan merasa ikut di dalam rumah itu.
Kawan, silakan klik link di bawah ini untuk terlibat dalam menolak Board of Peace (BoP) dan ikut mengecam dukungan PBNU terhadapnya:
https://t.co/nRfvZ8GU85
Silakan cantumkan nama dan atribusi kalian (edit Google Doc berikut).
🙏
Di Jawa, ada raja-raja yang kuat, baik pagan maupun Muslim, tetapi yang paling agung adalah Raja Demak. Raja Muslim ini terus-menerus berperang melawan Portugis dan menguasai semua lada Sunda (yang dijual di Tiongkok)
✍️Andres Urdaneta🇪🇸
(Dia berada di Jawa dalam 1535)
@Grok, baca dan analisa semua Twit² ku
Nama :
Jenis Kelamin :
Usia :
Pencapaian :
Hobi :
Pekerjaan :
Masa Depan / Harapan :
Traits :
Buku Favorit :
5 (saja) Hal yang Disukai :
5 (saja) Hal yang Tidak Disukai :
Zodiak :
Maaf ini panjang, bear with me 👀
Bill Gates itu sebenernya nggak masuk “alarmist” kalo baca buku, esai, dan denger semua pernyataannya. Ya kalo baca judulnya aja rada ketipu sih.
Dia tipe solutions-oriented, makanya buku itu banyak bahas apa aja solusi dan teknologi yang ada untuk menanggulangi krisis iklim. Pragmatis.
Tone blio beda jauh sama David Wallace-Wells misalnya (penulis The Uninhabitable Earth), yg penggambaran dampak krisis iklimnya lebih ngeri alias lebih mendekati tipe alarmist.
Keduanya sama-sama mengakui kalo krisis iklim itu bahaya. Naif (dan nggak faktual) kalo kita bilang bumi kita baik-baik aja.
Bjorn Lomborg yg disebut di sini, dikritik banyak ilmuwan dan ahli (Stern, Stiglitz, bahkan ada rebuttal berkepanjangan di Scientific American) karena cara pikir dia yang “sober” (ew, no) itu menggunakan data yg outdated, cherry picking, dikotomi (seperti masalah kesehatan vs iklim PADAHAL KEDUANYA berkaitan), terlalu pede dengan teknologi as if it can offset inaction, sampai terlalu “ngediskon” masa depan (semacam mending maju sekarang dengan energi fosil dan biarin aja ntar generasi mendatang).
Konsensus para ahli lewat laporan @IPCC_CH itu udah menunjukkan krisis iklim adalah persoalan besar dan perlu aksi segera.
Penanganan krisis iklim itu juga justru memasukkan elemen berkeadilan, bahwa penyediaan akses energi misalnya, sebisa mungkin bersih sumbernya, berkualitas, melibatkan masyarakat — BUKAN TIDAK MENYEDIAKAN AKSES ENERGI SAMA SEKALI. Wilayah terpencil di Indonesia yg bisa dilistriki jaringan, ya sambung aja. Yang nggak, diusahakan energi terbarukan setempat. PLN sekarang juga punya program de-dieselisasi, ngganti banyak PLTD (diesel) dengan kombinasi panel surya, baterai, dan energi terbarukan setempat lain.
Lalu, masa topan ekstrem di Filipina, AS, curah hujan tinggi abnormal dan gelombang besar sulit diprediksi, musim tanam kacau dll nggak bikin takut sih?
Nggak mengalami bukan berarti nggak bisa peduli dan berempati.
Udah, capek ngetiknya. Btw aku baca buku dan kontroversial soal iklim juga termasuk Lomborg; jadi bukan ngarang ye 🥹
@txtdrgame Cepet2an pulang sekolah dan bersaing dg teman2 cowok sekelas agar bisa nonton orang kaya main. Sampe ada yg berkelahi karena desak-desakan. Bisa megang stiknya saja besuk harinya jadi bahan pamer di kelas 😂
Hai @grok, analisis akun saya: identifikasi branding utama (tema, gaya, dan audiens). Then, rate 1-10 berdasarkan konsistensi, engagement, kualitas konten, potensi growth. Jelaskan alasan, kekuatan, kelemahan, & saran perbaikan dari data publik terbaru (Oktober 2025).
Ada tokoh perempuan yang lantang menyuarakan jika dirinya bagian dari “wahabi lingkungan” - untuk menyindir seorang tokoh NU yang menggaungkan istilah tersebut - tapi, suaminya jd komisaris independen tambang emas di Tumpang Pitu.
Gmn konsepnya bisa hidup satu ranjang?
Mengapa disebut krisis iklim? Karena suhu atmosfer bumi kini berada di level yang berfluktuasi di sekitar 1,5°C dan tak mungkin lagi menurun menjadi 1°C apalagi 0,5°C. Ini artinya sudah melampaui batasan menuju tipping point, saat suhu bisa terus memanas dg dampak yg kian meluas.
𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗺𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗯𝘂𝗿𝗮𝗻?
Kisi-kisi ini saya buat sepraktis mungkin, biar para pembaca yang budiman bisa mengambil pelajaran dari pengalaman yang saya dapatkan.
Penyeimbang wacana yg dihadapi NU & kuburan