Enzy Storia membagikan cerita menegangkan ketika ia berlibur di Positano.
"Hari pertama sampai di Positano, lagi mandi tiba-tiba listrik mati total. Posisi sendirian di kamar, gelap gulita, langsung mikir, "Wah udah deh, jangan-jangan ini hantu Italia." Panik, baca doa, ambil HP buat senter, terus lari keluar pakai handuk.
Ternyata Teh Hesti juga sama paniknya. Kita ketemu di tangga, teriak-teriakan, terus lampunya nyala lagi. Baru belakangan tahu kalau ternyata memang satu kota lagi mati lampu."
Kadang emang kalau lagi capek dan suasana mendukung, otak langsung bikin skenario sendiri. Untung ujung-ujungnya jadi cerita yang bikin ngakak tiap diingat. 😂
Diakhir cerita Enzy pun menambahkan,
"Tapi paham gak sih… masa ada pemadaman bergilir sampai Italia??? Ah sudahlah. Good night. 😂"
meanwhile kemarin salah satu sekretaris pribadi prabowo abis priwed di prambanan sewa 3 hari pake kembang api gede bgt dan ganggu masyarakat, penasaran dikit gmn izinnya😅 btw bgus min, gw suka nih yg taat peraturan gini
Buat yang masih nyinyir, pendekatan pengeluaran (expenditure approach) itu bukan akal2an BPS biar angkanya bagus, tapi memang Standar Emas (Gold Standard) dalam pengukuran kemiskinan dan kesejahteraan di negara berkembang.
Kalau mau dibedah secara akademis dan standar internasional, ini alasan kenapa BPS pakai metode pengeluaran:
1. Rekomendasi Resmi Bank Dunia (World Bank)
Bank Dunia secara eksplisit menyatakan bahwa untuk negara berkembang, data konsumsi/pengeluaran jauh lebih akurat daripada data pendapatan. Mengutip dari dokumen metodologi World Bank (Deaton & Zaidi, 2002 dalam "Guidelines for Constructing Consumption Aggregates for Welfare Analysis"):
di negara dengan sektor informal dan agrikultur yang masif, pendapatan sangat sulit diukur karena fluktuasinya ekstrim. Bulan ini panen dapat puluhan juta, tiga bulan ke depan nol. Kalau pakai data pendapatan bulan itu, orang ini bisa tercatat sangat kaya atau sangat miskin secara keliru.
2. Teori "Permanent Income Hypothesis" (Milton Friedman)
Dalam ilmu ekonomi makro, pemenang Nobel Milton Friedman mencetuskan bahwa konsumsi seseorang itu mencerminkan permanent income (pendapatan jangka panjang yang diekspektasikan), bukan pendapatan sesaat. Orang yang hari ini nganggur tapi punya tabungan 1 Miliar akan tetap makan enak (pengeluaran tinggi). Pengeluaran memotret daya beli riil dan standar hidup yang sebenarnya.
3. Karakteristik Pekerja Indonesia (Didominasi Sektor Informal)
Lebih dari 59% pekerja di Indonesia (data BPS 2023/2024) adalah pekerja informal (freelancer, pedagang kaki lima, buruh harian, petani). Mereka tidak punya slip gaji bulanan yang pasti. Menanyakan "berapa gaji Anda bulan ini?" ke pedagang pasar akan menghasilkan data yang sangat bias. Sebaliknya, menanyakan "sehari habis berapa untuk makan, listrik, dan bensin?" jauh lebih mudah dijawab dengan jujur dan akurat.
4. Bias Pelaporan Pendapatan (Underreporting)
Sudah jadi rahasia umum di ranah riset statistik bahwa responden cenderung berbohong saat ditanya pendapatan. Orang kaya cenderung understate (menurunkan nominal) karena takut urusan pajak atau pamer, sedangkan orang miskin rentan juga menutupi atau melebih-lebihkan karena gengsi atau berharap bantuan sosial. Sebaliknya, saat ditanya pengeluaran beras, telur, rokok, listrik, responden jauh lebih sulit untuk berbohong secara sistematis.
Jadi, mbak surveyor di foto itu sudah menjalankan SOP statistik internasional dengan benar. Jawaban 'saya makan dari tabungan' membuktikan bahwa kemampuannya bertahan hidup (survival & welfare) saat ini ditopang oleh akumulasi kekayaannya, yang hanya bisa diukur lewat seberapa besar pengeluarannya hari ini, bukan dari nol pendapatannya bulan ini.
Literasi statistik publik kita memang masih perlu banyak diedukasi.
Berita di TV Korsel, OBS: Keracunan Massal MBG Terus Bermunculan
***
Program MBG yang merupakan proyek unggulan Presiden Indonesia Prabowo Subianto tengah menghadapi krisis hanya sembilan bulan sejak diluncurkan.
Hal ini dipicu oleh buruknya pengawasan manajemen dan kurangnya pengalaman dalam pengelolaan program tersebut.
Mengakibatkan kasus keracunan makanan terus bermunculan.
@LambeSahamjja lebih parah lg, yg gamau di sensus itu rata2 juragan, punya kapal, toko, warung makan. mereka tau kalo smpe di sensus bakalan ketauan kekayaan mereka sebanyak apa 😅
@yappingfess GUE PUNYA TEMEN YA ASAL LU TAU!
tapi kadang gue pergi sendiri karena emang lg pengin aja atau pas si temen ga bisa. ngonser jg sendiri soalnya idola temen gue beda. masa gue paksain? mending jalan sendiri lah. toh pergi jg pake duit sendiri. ngapain harus brgantung sm org lain?
Berita di TV Taiwan:
- MBG penuh masalah, termasuk keracunan
- Liputan korupsi Dadan CS: memperkaya diri
- Penunjukan vendor tidak jelas, pengadaan gak jelas
- Meskipun begitu Prabowo bersikeras melanjutkan program MBG
Terpantau 4 fandom besar dari Bang GD,Ariana Grande,Camila Cabello n Fifth Harmony upload video solo stage member.
Selain langganan di notice fanbase global,member BM juga langganan di notice penyanyi aslinya.
Aaah #BABYMONSTER mata dunia selalu tertuju ke kalian ❤️