"Kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke TNI, tentara punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG," kata Iman Zanatul Haeri, seorang guru, di hadapan Mahkamah Konstitusi.
...Nadiem belagak polos.
1,5 dekade lalu LHI dihukum 18 tahun padahal kerugian negara 0 rupiah.
Fakta persidangan ungkap bukti "teramat tipis" rekaman telp LHI terlibat pengaturan kuota impor sapi.
Transkrip telp LHI kalo dibaca seperti chat² bocil pas main game online.
Ya memang ada nama/kata yg seolah² merujuk kuota impor sapi tapi kalo transkripnya dibaca oleh awam yah kayak narasi bebas ngasal aja ala bocah² kalo lagi mabar lalu chat²an di layar game.
Kalo mengaitkan langsung dengan LHI tuh benar² teramat lemah, jauh lebih lemah bukti pada LHI ketimbang pada Nadiem/Ibam.
Mentok semua bukti kuat yg dimiliki jaksa hanya bisa diarahkan secara langsung adalah kepada Ahmad Fathonah.
Sehebat dan secanggih serta serumit itulah dulu modus kasus impor kuota sapi sampe jaksa kewalahan membuktikan.
Itu sebabnya narasi kriminalisasi begitu dominan mewarnai kasus tsb.
Tapi pada akhirnya yah majelis hakim bersikukuh putuskan LHI bersalah.
Malah di MA ditambahin vonisnya dari 16 menjadi 18 tahun.
Kasus LHI itu ibarat tonggak bahwa "bukti" teramat tipis bisa menjerat elit. Bahwa modus operandi korupsi elit itu yah canggih banget.
Cara kerja elit dalam mempengaruhi pengadaan barang/jasa yah gak seperti koruptor² kelas kroco lah.
Dan harus diingat bahwa LHI tidak memiliki kewenangan/power internal langsung seperti Makarim dengan wewenang eksekutifnya.
LHI itu "cuma" legislatif yg kebetulan presiden PKS yg mana kader PKS menjadi mentan pada saat itu. Faktor power eksternal.
"Rute wewenang"-nya terlalu jauh, sehingga wajar² saja saat itu jika banyak yg beranggapan kasus LHI terlalu dipaksakan.
Beda seperti Nadiem yg punya power internal sebagai eksekutif tertinggi di kementerian.
Jadilah seorang boomer elit 1,5 dekade lalu kek LHI yg gak punya power internal aja bisa dihukum 18 tahun dengan bukti "teramat lemah bin tipis".
Jaksa-hakim saat itu benar² kesulitan-kepayahan membuktikan modus operandinya secara telak.
Harusnya dengan bukti teramat tipis, IMHO, yah harusnya LHI bebas murni. Yang bisa dijerat yah cuma Ahmad Fathonah
Nah saat ini, Nadiem, seorang milenial tech bro nan sophisticated masa modus operandi korupsinya macam boomer LHI?
Yah pastilah modusnya jauh lebih canggih donk?
Gak ada aliran dana langsung ke Nadiem? Ya dulu LHI juga gak ada dana suap langsung ke dia. Mentok ke AF.
Bahkan ketika OTT LHI yah sebenarnya kagak OTT sebenarnya, festivalisasi ala KPK aja itu sih.
Wong LHI ditangkap di lokasi berbeda yg gak ada kaitan ma peristiwa OTTnya Ahmad Fathonah.
So, benar² menghina akal sehat jika modus operandi milenial Nadiem akan seperti boomer LHI 1,5 dekade lalu.
Anak techbro yah pasti lebih hebat dari modus boomer elit 1,5 dekade lalu.
Itu sebabnya Jurist Tan sang saksi kunci harus kabur dan bersembunyi yah karna Jurist Tan adalah "Ahmad Fathonah"-nya kasus megakorupsi Chromebook.
Dan gw juga yakin kalo Nadiem pasti tahu soal 2 kasus besar di era Jokowi yg mana saksi kuncinya hilang:
1. Harun Masiku, suap pemilu
2. Nistra Yohan, TPPU BTS
2 bos mereka bebas karna saksi kuncinya "hilang".
Bos Harun Masiku yakni Hasto bebas dapat amnesti.
Sementara bos Nistra Yohan yah kini jadi .......... (silahkan google, jangan kaget)
Nadiem bisa jadi berharap 2 skema kasus di atas terjadi juga pada dirinya.
Kalau gak dapat amnesti seperti bosnya Harun Masiku,
maka,
bolehlah bernasib seperti bosnya Nistra Yohan yang menjadi ........ahsudahlah silakan google sendiri... (``,)
@zanatul_91 Sayang bet kasusnya tampak akan berhenti di chrombook aja. Padahal masih ada sistem cloud, apk, sama transfer2 pulsa dan paket data yg lebih wow wkwk
@LambeSahamjja Kalau maksain masuk krl jam 5/6 sore aku masih bisa ketemu dan main sama anak di rumah. Kalau nunggu agak sepi di jam 8/9 aku kehilangan waktu buat anak. Pagi? udah pasti kami tidak ketemu lagi. Paham kan?