Dia mengangguk ragu, namun demikian perjanjian telah disepakati. Aku membuka pintu mobil, membiarkannya masuk sebagai tanda perkenalan, lalu tersenyum sambil berbisik…
“Welcome, princess. Come... it’s going to be a long, painful journey for you.”
Malam itu hujan jatuh dengan derasnya. Dari balik kaca mobil, kulihat sepasang mata menatapku sendu—sebuah tatapan yang sudah sangat sering kulihat dari orang-orang yang berada di ambang kehancuran. Dia berlari ke arahku seolah akulah satu-satunya penyelamat yang tersisa—
“Dua kali lipat” jawabnya. Aku terkekeh, bagaimana mungkin dengan batas waktu yang mustahil? Aku melihat ketakutan di matanya saat aku mendiktekan klausul terakhir: “Jika kau melanggar, kepemilikan atas jiwa dan ragamu akan jatuh sepenuhnya ke tanganku.”