Kulit gue Dari kmrn makin ngamuk karna Abu vulkanik juga, langsung kepikiran gimana mereka yg disana, yg kulit nya sensitive, yg harus beli obat nya tapi jalanan full abu, air bersih gimana, anak bayi gimana :((((
hot take tapi kita harus stop normalisasi konsep warga jaga warga in general, semua itu tanggung jawab dan kewajiban pemerintah buat ngebenerin apa yang salah. mau sampe kapan rakyat yang kerja, jaga dan benerin ini itu???
ini kl dibalik pasti carat/mingyu kena tinju sama fandom lu. making fun of mingyu when you arent even his FRIEND or fans just for the sake of your bias’ attention is annoying and weird 😐 just saying
"jangan normalisasi suicide"???? okay, then don't normalize cheap labor. unpaid labor. expensive healthcare and mental healthcare. inaccessible education. poor government planning. terrible government decision making. abusive family dynamics. ITU SEMUA NGARUH KE BUNDIR!!
Trigger Warning!
Akhir april mutusin buat blow the last candle, udah capek banget sama semua hal. Udah nyoba berkali kali bd juga tapi gak sukses, sampe akhirnya dateng ke psikolog. Gua cuma bilang “dok, saya cuma mau selesai”
> Nolak seks suami ga boleh
> Jumlah anak ditentukan suami
> Harus nurut suami
> Vasektomi/KB permanen ga boleh
Alhasil perempuan hamil yg tidak diinginkan, itu pun ga boleh aborsi. Yg laki² seenaknya. Terus kalo gue bilang ajaran² yg support ini misoginis, I'm the villain?
Kalo misal, aborsi dilakuin sm ibu ibu muslim yang ga sanggup punya anak lagi krna udh kebanyakan anak. Tp ga bisa nolak sex krna hrs patuh sama suaminya, itu gimana? Serius nanya
HIV paling banyak terdeteksi di kaum homosexuals karena most of heterosexuals ga mau periksa HIV wkwk. sedangkan homosexuals on the other hand, malah rajin tes HIV wkwk
Cuacanya bagus ya, tp ini habis nangis seharian, kucingku meninggal karna sakit. Ayah dan Mama ngajak jalan2 biar aku ga sedih. Ayah beliin aku sosro. Momen ini jd momen terakhir aku pergi bertiga, karna setelahnya Ayah kecelakaan dan meninggal. Sosro nya masih ada di lemariku.
btw dalam antropologi, historically speaking, bayi itu ga dirawat eksklusif oleh ibu sendiri.
justru manusia berevolusi dalam pola alloparenting, bayi dirawat bukan cuma oleh ibu, tapi juga ayah, nenek, saudara, kerabat, dan anggota kelompok.
konsep ibu harus handle semua sendirian, bukan default biologis manusia. makanya ga heran kalau ibu zaman sekarang gampang burnout, krn mereka diminta ngerjain kerja yang dulunya dibagi ke 4-5 orang, sendirian.
that’s why I believe, “It takes a village to raise a child”itu bukan sekadar pepatah, krn itu literally gimana spesies kita survive selama ratusan ribu tahun.