gue lebih takut menikah sama orang yang punya pola pikir begini daripada sama orang broken home.
karena luka masa kecil masih bisa disadari, diproses, dipelajari, dan diputus. tapi orang yang merasa latar belakang keluarga sudah cukup untuk menentukan nilai manusia biasanya—
udah di titik kalau ga nikah juga gapapa alias pasrah dan tawakal aja. tapi kalau Allah mampukan gw buat nikah—entah secara mental ato finansial—akan gw usahakan dan terus ikhtiar karena nikah ibadah terlama—harus sekali seumur hidup dan harus dijalani bersama partner yang tepat.
guys, kalau orang terdekat kita nggak selalu available, inget ya, dunia nggak cuma berpusat di kita. mereka juga punya kesibukan, lagi capek, punya masalah, dan kehidupan mereka sendiri yang harus dijalanin.
sometimes people are just busy, tired, or dealing with their own stuff. bukan berarti mereka nggak peduli atau sengaja menjauh. people can care about you and still not always have the time or energy to be there.
yaAllah tolong sibuk kan aku dg pekerjaan yg halal + freelance yg menghasilkan banyak wang sampe aku ga sempet yapping di second account (maksa ini mah yaAllah)
ada yang disumpahin mati sama ribuan orang tapi ga mati-mati juga. kalo gitu ganti sumpahnya, sekarang aku mau kamu hidup. hidup selamanya melebihi keturunanmu. biar nanti kamu hidup hanya dengan tengkorakmu. menarik nafas setiap hari dan berharap mati. layaknya kami saat ini.
If we date, don’t stop being you. Keep having fun, keep seeing your friends, keep chasing your goals, and keep enjoying your life. A relationship should add to your life, not take away from it. Just make sure you save time for us too.
Jangan terburu² dalam jatuh hati, pulihkan dulu yang patah. Karena ga ada yang mau dicintai dg hati yang masih penuh luka. Tetaplah sendiri kalo kamu masih belum siap punya pasangan. Jangan maksa hal yang belum bisa kamu kontrol & pastinya don’t use “someone” to forget “someone”.