Bagi yang belum tau konteks sejarah voting 3.810 vs 5.854
Jadi pas Desember 1973, Dewan Pengawas Asosiasi Psikiatri Amerika (APA) sepakat untuk menghapus homoseksualitas dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-II).
Keputusan ini diambil bukan melalui voting seluruh anggota, tapi dari tinjauan literatur ilmiah yang dilakukan bertahun-tahun.
Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh data objektif, seperti studi terkenal dari Dr. Evelyn Hooker (1957) yang membuktikan secara klinis bahwa tidak ada perbedaan kesehatan mental antara pria homoseksual dan heteroseksual.
APA YANG SALAH DARI TAFSIRAN INI?
Angka voting 5.854 vs 3.810 itu bener tapi konteks nya perlu di lurusin.
Voting itu gak diinisiasi oleh aktivis model feminis untuk menghapus homoseksualitas.
Sebaliknya, voting tersebut dipaksakan oleh kelompok psikiater psikoanalis konservatif yang marah dan menolak keputusan ilmiah dewan APA, ibaratnya kalah voting yang konservatif ini tapi tetep ngotot buat ngebatalin.
Mereka menuntut referendum untuk membatalkan penghapusan tersebut.
Hasilnya? Mayoritas anggota (5.854 psikiater) mempertahankan keputusan dewan ilmiah yang berbasis data sains, dan menolak tuntutan kelompok konservatif (3.810 psikiater).
https://t.co/KU0M2Ptrh5
https://t.co/HocevX0STf
jadi keputusan ilmiah akan pecah kredibilitasnya karena "demo"? are we deadass or...??? penelitian tentang homo bukan penyakit mental itu udah ada bahkan sebelum statement WHO muncul, which is kalau logikanya dikatakan statement WHO muncul krn demo ya karena ada landasan konkritnya.
Dan faktanya kebanyakan uji sampel untuk studi ilmiah jika pelaku homoseksual adalah orang dengan gangguan mental itu berpotensi bias karena mengambil subjek dari lokasi yang tidak sebanding pengimplikasiannya seperti penjara & rumah sakit jiwa.
salah satu penelitian ilmiah yang menjadi dasar pergerakan ilmu psikologi dalam analisis penyakit mental berdasarkan orientasi seksual:
Hooker, E. (1957). The Adjustment of the Male Overt Homosexual. Journal of Projective Techniques, 21(1), 18–31.
Yuk buktikan ke dunia kalo orang indonesia ngga punya rata-rata iq 78 dan berada di kelompok negara minat baca rendah dengan mulai banyak membaca dan tidak membuka mata hanya untuk melihat yang mau kamu liat krn dunia ga berpusat di dirimu.
(disclaimer: aku tidak bilang menjadi homophobic menunjukkan iq rendah dan illiterate, aku bilang memutar balikkan fakta dan sejarah agar menyesuaikan narasi dengan kehendak yang diinginkan tanpa crosscheck adalah tabiat orang bodoh)
Di thre@ds lagi rame masalah LGBT. Sebagai dokter kita tidak boleh meng generalisir semua LGBT melakukan seks berbahaya dan menyebarkan HIV.
Itu tidak benar, perilaku seks berbahaya bukan identik dengan orientasi homoseksual, heteroseksual pun ada yg melakukan seks berbahaya.
First, I’m Filipino. Second, I’m not Muslim. Third, it’s 2026. Not everyone is going to live by your beliefs. Stop acting like your opinions are universal facts. Try focusing on your own life instead of obsessing over how other people choose to live. 😌🥰
Dipikir-pikir jomplang, ya. Minoritas muslim di barat kena tindas dibelain sama kiri (banyak LGBT). LGBT di sini gak ada yg belain soalnya minoritasnya pun mentok kanan semua.
such an irony that she’s an identity coach while preaching “being queer is not your true identity”
many queer people struggle with identity and self hatred bcs the world keep spreading hatred and discriminate them ya ampun
ijbol justru being anti lgbt itu pola pikir asing loh. sblom introduksi agama abrahamik, masyarakat adat indo lbh mengakomodir identitas gender dan ketertarikan sesama jenis, coba liat bissu di sulawesi dan serat canthini dari mataram
Selamat merayakan queerness di negara yang takut pada cinta, happy Pride Month!
Antagonisasi kelompok kwir (queer) adalah taktik politik negara otoriter. Merayakan kebahagiaan para queer adalah bentuk perlawanan terhadap otoritarianisme!
https://t.co/iCvTnbgHxA