Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kunjungi Bima kali kedua dalam setahun terakhir. #pdemokrat#demokratntb#pdntb
https://t.co/ZThsvBBZbi
Kesaksian saya sebagai Alumna (lulusan wanita) Fakultas Kedokteran UGM
Saya adalah Dokter lulusan FK UGM, melanjutkan studi ke jalur Akademisi, Strata S2 dan S3, karena saya memilih jalur bakti sbg Dokter Peneliti.
Teman-teman sejawat lain menempuh Jalur Spesialisasi, dan setelah lulus mereka berbakti menjadi Dokter Spesialis.
Walaupun tidak menempuh jalur spesialis, tetapi dalam DUA tahun terakhir masa pendidikan, setelah lulus sebagai Sarjana Kedokteran dengan predikat Dokter Muda, kemudian menempuh pendidikan profesi untuk menjadi Dokter. Pada masa itulah kami para Dokter Muda, dilatih, dan dididik bersama dengan Para Senior yang sedang menempuh pendidikan Spesialisasi, mereka disebut Residen.
Masa-masa Interaksi bersama para Peserta Didik sangat panjang, selama dua tahun, dimana rotasi antar bagian berlangsung antara satu bulan untuk bagian-bagian kecil, seperti Mata, Kulit, THT, Forensik, dll dan tiga bulan untuk bagian besar, yaitu Bedah, Penyakit Dalam, Anak, dan Obstetri Ginekologi.
Sepanjang dua tahun itulah kami bekerja bersama, dilatih, diajari mulai dari cara anamnesis, analisis kasus, periksa pasien, operasi kecil hingga besar, dari angkat usus buntu, sectio caesaria, hingga angkat peluru, pedang, tombak bagi pasien yang terlibat perkelahian.
Pendeknya semua yang menjadi pengalaman para Senior itu menjadi ilmu dan bekal yang sangat berharga bagi saya sebagai Dokter Umum yang setelah lulus terjun ke lapangan, desa, hutan, gunung, lautan, dimana ribuan kasus harus ditangani seorang diri, tanpa Senior yang bisa menolong, tanpa Guru yang mendampingi.
Pengalaman terbesar saya ketika menjadi Dokter PTT di lapangan, adalah kecelakaan mengerikan yang terjadi pada Bus Antarkota yang bertabrakan dengan Truk Pertamina. Sebanyak 30an orang remuk redam, bergelimpangan, kaki tertusuk besi bangku penumpang, terlindas roda truk, dada kedua sopir terhimpit kemudi yang menyebabkan tulang dada hancur dan menekan jantung mengalami tamponade cordis karena darah memenuhi rongga dada, Kepala bocor tertimpa koper dan besi atas bus. Sebagian penumpang terpanggang karena bensin mulai terbakar
Dengan hanya tiga staf paramedis semua korban semua Cito, harus diamputasi di tempat karena kaki terjepit tidak bisa ditarik dan kondisi mulai kritis. Sebagian jahit seadanya karena peralatan terbatas yang penting darah berhenti mengalir.
Selama puluhan jam yang terbayang adalah pelajaran yang diberikan para Senior Residen. Pengalaman mereka menjadi Dokter di lapangan sebelumnya ditambah dengan proses pendidikan di Rumah Sakit sebagai Calon Spesialis, menjadi bekal berharga bagi saya waktu itu.
Di rumah sakit, saya adalah saksi bahwa TIDAK PERNAH ADA BULLYING satupun terjadi di semua bagian selama saya dididik sebagai Dokter Muda
Kami siang malam di rumah sakit, seringkali tidak pulang berhari-hari kalau ada pasien-pasien kritis, karena kami berjuang sampai pasien selamat atau hingga nafas mereka berhenti.
Dalam masa-masa berjuang panjang, rentan dan rawan emosi tak jarang keluar bentakan dan makian kepada adik-adik Residen ataupun Dokter Muda yang lamban dan lambat sementara pasien kritis.
Hanya itu saja kekerasan yang kalau memang bisa disebut kekerasan.
Tapi tidak pernah ada kekerasan fisik.
Kalau Stase malam, Jaga Malam, meja penuh martabak, pizza, mie goreng, burger, dan semua itu dibelikan Senior, bukan kami para Junior yang membelikan.
Tak ada sekalipun jejak bully, intimidasi, dan pemalakan.
Semua orang baik, penuh dedikasi, saling membantu, saling menolong. Antara Junior dan Senior.
Kekurangan Dokter itu cuma satu: ngga sabaran menghadapi orang bego dan lamban.
Jadi Dokter semua serba harus biasa cepat, berpikir cepat, bertindak cepat, makan cepat, tidur sedikit saja.
Jadi Pak Menkes, kalau anda belum pernah satu haripun mengalami pendidikan Dokter, jangan Sok Tahu, dan jangan mengembangkan kebiasaan bergosip.
Suruh lapor saja siapa yang merasa terbully. Proses. Selesai.
https://t.co/cLq0Dm9ABl
Menyimak harta kekayaan Wakil Menteri Baru dari jabatan dia betul-betul bikin pusing.
Pejabat BUMN sejak 2015 - 2023 bisa punya harta Rp 250 Miliar.
Artinya dia jadi Pejabat BUMN sejak Mbah Owi mulai jabat jadi Lurah di 2014.
Memang bisa ya punya duit segitu banyak? Surat berharga Rp 180 Miliar?
Memang punya usaha apa selain jadi Pejabat BUMN?
Kalo ada cebong komen: "Iri bilang, boss" sumpah saya sambit pake bakiak.
https://t.co/ra8zKfVXXH
Dalam resufle Kabinet hari ini, hanya satu yg ingin ditunjukkan oleh Pak Presiden bhw beliau lebih percaya kepada relawan (loyalis-non partai) utk melakukan serangan ke lawan politik dan melakukan pertahanan thdp "keamanan" ke depan.
"Insya Allah dari Papua juga kami kirim pesan bahwa Indonesia akan meraih keadilan dalam waktu yang tidak lama lagi," tutur Anies. https://t.co/I9MpXxOthC
Dewan Pimpinan Daerah DPD Partai Demokrat NTB mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah. Semoga di tahun yang baru ini Indonesia menjadi lebih baik. #pdemokrat#demokratntb#pdntb#tahunbaruislam1445h
Betul.
Titipan besar berupa :
1) utang besar
2) infrastruktur rugi dan mangkrak besar
3) kemiskinan besar
4) ketidakadilan besar
5) pecah-belah bangsa besar
6) buzzeRp besar.
https://t.co/qMAJiG4wW9
Mas Tito,, tugas negara dan pejabat itu mencerdaskan bangsa. Simpati thd capres itu boleh, tapi jangan membodohi rakyat dengan menggunakan anggaran negara untuk pembodohan itu 😄 Mas Tito itu jendral pintar,, tapi kok makin lama makin gitu deh 😄😄🙏
https://t.co/nrLkvA6e1y
Istana sudah jadi Kantor Parpol.
Presiden sudah menjadi Pimpinan para pemimpin Parpol.
Partai tunggal mulai terwujud.
Presiden sdh seperti Ketua Politbiro.
Akankah NKRI akan seperti China ?