Lagi-lagi timing matters.
Dulu gw kerja di oren, ketika badai layoff 2023 dan banyak divisi dihapus gw gak kena. Tapi gw melarikan diri dan pindah FMCG. Post-covid, industri ini recovernyanya luar biasa. Gw lucky karena berkesempatan dapet fast track.
And right now, gw juga memutuskan untuk melarikan diri dari FMCG. Buying power menurun, ekonomi susah growth, itu kerasa bgt di bisnisnya.
Conditions are always conditioning. Semoga kita semua bisa cepat tanggap bereaksi terhadap perubahan. Makanya emang "self-dev advices" itu mungkin akan terasa represif dan destruktif, cuman ya mau gmn lagi.
Hi aku lagi nyari 1 barengan lagi buat join yt prem legal (yt music + youtube) famplan, utk price 25k/bulan 🙌🏼
Kalo interest join bisaa hmu via dm yaa!
*Bimavericks were talkin in broken english on livechat (lmfao)*
💬: apasih lu pada ah😭
🌪: i find it really cute that you guys are talking in english in the chat
🌪: hello guys
Aloo, aku open sharing lagi buat fam duolingo max nerusin langganan taun kemaren 🙌🏼
Price 220k/slot buat 1 tahun yaa, available 1 slot for now krn masi ada 1 org yg blm fix konfirm, semisal uda fix bakal aku update lagii yaw 🙌🏼
Minat join bisa hmu via dm yaa, ty!
Ada Tulisan "Fun Fact", Tapi Aku Enggak Ketawa.
Kalau orang normal lihat infografis itu, harusnya bakal merengut dan kesal sih ya. Soalnya lebih tepat dijuduli "Warning Sign" atau "Alert" sekalian daripada "Fun Fact".
ANTM itu Aneka Tambang yang mengurus nikel, emas, dan bauksit. PTBA itu Bukit Asam untuk batu bara. TINS itu Timah.
Tiga nama itu bukan perusahaan sembarangan yang kalau rugi, ownernya tinggal bikin instastory galau.
Mereka BUMN tulang punggung industri ekstraktif Indonesia, terdaftar di bursa, punya mitra internasional, dan performanya dipelototi oleh analis ESG dari seluruh dunia.
Orang-orang yang duduk di kursi direktur utamanya mestinya adalah mereka yang paling khatam soal isi bumi, bukannya cara bongkar pasang senjata.
Ironisnya, ketiga kursi itu sekarang diisi oleh lulusan Akmil secara bersamaan, berasa lagi ada promo paket bundling korporat.
Aku paham kalau ada yang bilang kompetensi enggak ditentukan latar belakang pendidikan. Aku pun enggak mau menuduh ketiga jenderal ini enggak bisa baca laporan keuangan. Tapi, yang aku bahas adalah polanya.
Satu orang militer jadi Dirut BUMN? Maybe, just a genius that get lost to a barrack. Dua orang? Mungkin kebetulan yang luar biasa.
Tapi kalau tiga BUMN tambang terbesar, dalam waktu yang hampir bersamaan, dari almamater yang sama? Itu jelas bukan kebetulan kan?
Ternyata komedinya belum selesai sampai di situ. Komisaris Utama TINS sekarang dijabat oleh Agus Rohman, yang "kebetulan" juga lulusan Akmil 1988.
Direktur utama diisi alumni militer, komisaris utama yang tugasnya mengawasi direktur utama, diisi sama teman almamater. Kompak sekali ya, kerja kelompok angkatan 1988 ini.
Kita jelas perlu mempertanyakan: siapa yang punya ide ini, dan motivasinya apa.
Aku kerja di industri kreatif, jadi mungkin kelihatannya jauh dari urusan tambang nikel.
Tapi pengalaman kerja ini ngajarin aku satu hal: ketika posisi strategis diisi bukan berdasarkan portofolio, tapi hanya sekadar jalur orang dalam atau afiliasi, seluruh ekosistem di bawahnya bakal goyah.
Orang yang kompeten bakal mikir, buat apa begadang demi memenuhi KPI kalau ujung-ujungnya yang menang adalah ordal?
Sinyal itu langsung ditangkap oleh orang-orang di bawah. Besar kemungkinan sarjana geologi yang sudah 20 tahun mandi lumpur di lapangan, insinyur mineral yang punya rekam jejak eksplorasi, dan spesialis metalurgi yang paham luar dalam soal smelter, bakal berkemas untuk kabur aja dulu.
Bisa jadi pindah ke perusahaan swasta, melipir ke luar negeri, atau sekadar mematikan ambisi, dan kerja pakai mode hemat energi saja.
Sebuah kerugian besar yang enggak bakalan kelihatan di PowerPoint laporan keuangan, tapi efeknya sangatlah nyata.
Lanjut ke bahasan yang lebih struktural. BUMN publik punya tanggung jawab ke pemegang saham, ke mitra internasional, dan ke lembaga asing yang makin cerewet soal standar tata kelola.
Kultur organisasi militer yang hierarkis, top-down, serta terbiasa dengan kalimat "siap, laksanakan!" tanpa tapi, secara struktural sangat tabrakan dengan tuntutan korporasi modern yang butuh debat panas, transparansi, dan akuntabilitas horizontal.
Sekali lagi, ini bukan soal individunya, melainkan soal refleks institusional, hal yang di kantor biasa didebat, di sini bisa dianggap makar.
Analis asing akan mempertanyakan, apakah pengangkatan ini karena mereka jago bisnis, atau karena mereka paling setia? Pertanyaan itu saja sudah cukup untuk bikin investor asing deg-degan.
Tapi yang paling bikin aku enggak bisa scroll lewat begitu saja adalah ingatan sejarah yang bikin merinding.
Indonesia sudah pernah melewati era ketika militer punya jari di semua urusan, dari urusan keamanan sampai urusan beras. Dwifungsi ABRI, sebuah doktrin era Orde Baru, adalah salah satu warisan masa lalu yang paling toxic dan paling susah dibersihkan akarnya.
Reformasi 1998 salah satu agenda utamanya adalah memotong pengaruh itu, menyuruh militer kembali fokus ke fungsi pertahanan, bukan malah rebutan kursi komisaris dan direktur utama.
Perjuangan panjang yang berdarah-darah, lagi di-reset tanpa izin lewat pengangkatan satu demi satu di posisi duitnya paling gede. Pengaruh ekonomi itu berujung pada pengaruh politik, dan pengaruh politik tanpa akuntabilitas demokratis, adalah resep instan menuju kekacauan jangka panjang.
Pola ini bukan lagi sekadar tren, melainkan peringatan dini yang enggak boleh kita abaikan begitu saja. Kalau kita cuma diam dan baru mulai panik saat performa korporasinya berantakan, semuanya sudah terlambat.
Sebelum dampaknya makin melebar ke mana-mana, publik berhak tahu apa dasar dari semua keputusan ini. Jangan sampai kita baru mau peduli setelah ekosistem industri kita sudah telanjur rusak dari dalam.
Knp di bahasa Indonesia policy kalo diterjemahin jadi kebijakan? kan kebijakan itu kek terdengar seperti sesuatu yg bijak, baik, dan layak diikuti. padahal kebijakan adalah proses politik yg penuh dgn kepentingan. nah ada jurnal menarik yg mimin mau bahas
(a thread)
Dalam satu hari, ada dua AIB BESAR terbongkar.
Pertama pengakuan peserta demo dukungan MBG yg menerima uang Rp. 100.000 dan juga beberapa hadiah.
Kedua terbongkarnya para mahasiswa yang menerima sejumlah uang ketika bertemu wapres gibran.
Dan ga ada yang bisa kita lakukan..
Hello @UNICEF, Indonesian government is forcing elementary school students to join 'rallies', carried signs, and chanting slogans in support of the free meal program that has been widely opposed by the public due to its corruption and state budget hoarding. ⚠️
Halo, semuanya. Saya Arjuna Arkana sebagai leader PANDAVVA mendengar pesan, kritik dan masukan dari teman-teman semuanya. Melihat apa yang terjadi kemarin, saya merasa apa yang dilakukan oleh salah satu staff kami Luna merupakan kesalahan yang sangat fatal. Secara personal, saya meminta kepada tim management/staff untuk mencopot jabatan staff yang bersangkutan langsung efektif hari ini. Terakhir, seluruh kegiatan staff dihentikan untuk sementara waktu.
Saat ini akan ada beberapa penyesuaian terhadap aktivitas PANDAVVA hingga seluruh kegiatan kami dapat kembali berjalan normal.
Terima kasih banyak atas perhatiannya. Mohon berikan kami waktu untuk berbenah diri.