Finish what you started.
Kalau lelah, jangan langsung mutusin buat berhenti. Ambil jarak bentar, nanti kamu bisa mulai lagi.
Momentum tuh kayak gitu. Kadang perlu mundur bentar, biar energinya recharge buat kembali ambis.
Menjadi cepat cepat itu hebat. Tapi lebih hebat lagi mereka yang bisa persisten bangun habit walau hasilnya masih jauh.
Satu hal yang sangat penting tapi kerap terlupakan:
Waktu, perhatian dan energi kita adalah sesuatu yang luar biasa berharga. Jangan habiskan waktumu dengan orang-orang yang salah. Jangan fokuskan perhatianmu ke mereka yang tidak layak menerimanya. Jangan investasikan energimu di tempat yang tidak menghargaimu sebagaimana mestinya.
Waktu saya jadi anak kecil, kata ‘berani’ itu jelas artinya.
Kesatria melawan naga. Jagoan masuk sarang penjahat. Prajurit maju menembak. Perkasa, tidak ragu, percaya diri.
Waktu saya makin dewasa, saya belajar arti kata ‘berani’ yang benar2 berbeda, dan saya rasa, jauh lebih tepat. Siap?
Berani, adalah takut yang (setengah mati) dihadapi.
Semakin seseorang ketakutan, semakin berani yang dia lakukan.
Menurut saya, ini indah banget.
Maju perang tanpa takut, mungkin bukan pemberani. Ya, mungkin, sudah biasa aja. Atau, mungkin dia sudah jago, sudah kuat. Atau kemungkinan konyolnya, dia nggak waras. Melengos masuk ladang ranjau tanpa akal yang sehat.
Seorang yg pemberani, tidak demikian.
Seorang yang lemah, seorang yang masih belum banyak tahu dan belum banyak pengalaman. Di kepalanya, banyak skenario buruk balapan.
Tetapi sambil menghadapi semua tadi, sambil tetap tidak yakin dan gemetar, namun dia tetap lakukan,
itu baru, keberanian.
Setelah mengerti arti ‘berani’ yang baru ini, saya tidak terpukau oleh mereka yang melangkah ringan ke panggung besar, tawa sumringah dan berkelakar renyah.
Tapi mereka yang naik perlahan dengan kertas contekan yang bergetar, matanya bergerak liar, tangannya mengelus dada berusaha menenangkan, lalu ketika bicara suaranya seperti tersedak buah rambutan,
mereka itu baru saya kagumi.
Mereka takut, tapi mereka hadapi. Itu baru berani.
Saya juga selalu mengingatkan diri.
Bahwa ketika semua keadaan baik dan bagus, lalu saya bisa berharap baik dan bagus ke depan, yah, nenek-nenek juga bisa.
Tapi ketika keadaan sulit, namun saya tetap bisa melihat surya akan terbit di cakrawala,
itu saya baru jadi, pemberani.
Makanya saya juga suka kata-kata: ‘mengumpulkan keberanian’.
Karena dia memang adanya bukan melimpah seperti samudra.
Dia jarang-jarang, berserakan, hanya sedikit-sedikit berceceran di padang gersang ketakutan.
Namun ketika seseorang memaksa dirinya untuk kumpulkan, satukan, dan dengan sedikit yang ada ini, dia mulai melangkah ke depan,
itu baru namanya, keberanian.
“Courage is not the absence of fear, but the triumph over it.”
-Nelson Mandela
--- Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang sering saya terbitkan di Instagram dengan username yang sama
😣😠🤩
i’ve been feeling so happy these days…jadi suka mikir dulu pernah loh sedih sampe seterpuruk itu, sampe gak bisa ngapa-ngapain. ternyata it gets better. it does get better. so keep fighting, whatever your battles are! happiness will come soon! 🤍
I just realized that being present doesn't mean "enjoying" the present, but also sitting with the uncomfortableness and resistance
It’s easier to sit still within joy, but discomfort often makes you want to flee, potentially leaving it unresolved
No, you never have to be available at all times to everybody.
No, you never have to always be happy.
No, you never have to be nice to the point that you lose your boundary.
It took me some time, but understanding the importance of these “NOs” is important to mental health.✨
Kedua bapak penjaga keamanan dekat rumah ini sedang duduk santai ketika saya lewat jalan pagi.
Salah satunya nyeletuk, “Tumben Pak olahraga?”, karena memang, kebiasaan baru ini baru jalan empat hari.
“Iya nih, udah gendut kudu olahraga!” kata saya sambil nyengir dan terus melengos.
Saya memang, lagi gendut-gendutnya dan saya lagi mencoba menggulirkan kemalasan saya dengan coba komit jalan pagi setiap hari.
Kedua bapak ini, tak disangka, tertawa geli sekali.
Tertawa terpingkal mungkin kata yang lebih tepat.
Sebagai seorang mantan fotografer, saya nggak tahan lihat ekspresi seindah ini. Saya sampai puter badan, cekrek.
Saya tersinggung gak, ‘diketawain’?
Nggak sama sekali.
Yang ada tadi saya ikut terpingkal sama mereka. Akrab bertukar sapa.
Saya dari dulu sudah mengerti, bahwa kunci dari kedewasaan adalah bisa menertawakan diri sendiri.
Banyak orang, sulit menertawakan diri sendiri. Tersinggung menyambar seperti kilat di awan mendung. “Elo ngomong ati2 lo...”
Tersungging mulu kerjaannya, kita sampai dibuat heran, ‘where did that come from?’ - ilmu cocokloginya tinggi sekali.
Saya pernah baca kutipan yang layaknya diframe di semua dinding rumah/kantor kita,
“You are offended because you know it might be true.”
Saya suka banget.
“Kamu tersinggung, karena jauh di dalam hati kamu, kamu tau yang barusan kamu dengar itu, ada benarnya.”
Atau bahasa sederhananya: Kamu tersinggung ketika kamu berasa.
Kalau kita nggak berasa, paling hanya dibalas, ‘Kasihan dia tidak mengerti apa-apa soal diri/hidup gue but it’s ok.’ Saya sih begitu.
Dunia itu luas dan besar, dan urusannya bukan hanya diri kita doang. Copernicus sejak tahun 1543 dulu sudah bilang, matahari tidak berputar mengelilingi kita.
Belajarlah menertawakan diri sendiri. Don’t take yourself too seriously. You’re not that important.
It’s sexy, it’s a sign of adulthood, and it’s a trait of someone who is comfortable within their own skin. Someone who is ready to be a strong leader, a good friend, or a great parent.
Pokoknya inget, sebelum orang menertawakan kamu,
lebih baik ketawain diri sendiri terlebih dahulu.
🤣
- Tulisan dari IG saya dengan handle yg sama