Lucu ya, kalau diresapi lagi, ternyata selama ini gue bener-bener sendirian. Gue pikir lingkaran pertemanan gue luas, tempat mengadu gue banyak, dan nama gue cukup diingat. Tapi itu cuma ilusi. Gue cuma kenal banyak orang, bukan punya temen yang bener-bener tempat pulang. Sering banget gue ngerasa deket sama banyak jiwa, saling tukar cerita, tertawa sampai larut, tapi di ujung hari, saat riuh itu reda, gue sadar nggak ada satu pun dari mereka yang sudi jadiin gue prioritas. Not a single person would choose me first. Gue cuma ada saat mereka butuh penengah, pendengar, atau sekadar pengisi kekosongan. Begitu mereka selesai, gue kembali jadi sosok yang terlewatkan. Ternyata emang dari dulu gue tuh nggak pernah penting buat siapa pun wkwk, cuma gue aja yang ke-PDean ngerasa dianggap.
Saya paham kok di Kalimantan kami naik t-rex, buru brontosuarus, tapi kalau dihajar asap juga semua dino yg kami perdayakan sebagai transportasi dan ternak itu jg bakalan mati, KITA TIDAK KEBAL ASAP YA GONGONG.
Ini kuyang juga cuti semua wo, takut jadi jeroan asap
BUNGULNYA EHHH
cakep ih kalimatnya:
“ngga semua konflik itu masalahnya di komunikasi. Kadang masalahnya di kapasitas intelektual dan emosional, mau sebanyak dan sejelas apa kita menjelaskan, kalo kemampuan berpikir dan kematangan emosionalnya ga setara, dia tidak akan mengerti dan memahami substansi masalahnya apa”
bener juga sii.., ngejelasin hal kompleks ke orang yg belum mature emosinya cuma menguras energi. Protect your sanity, pahami boundaries dan mending save ur time buat hal yg worth it yah! 🤍🫶🏻
Girls, buat kalian yang hatinya sensitif dan gampang kepikiran kayak aku, boleh coba selfcare versi spiritual ini tiap malam.
Ambil segelas air putih, lalu baca Al-Fatihah, Ayat Kursi, dan Al-Ikhlas 3x. Setelah itu minum perlahan sambil berdoa memohon keberkahan, ketenangan, dan kebaikan untuk diri sendiri.
Simple banget, tapi buatku rasanya seperti a little moment to pause, calm down, and reconnect with Allah
yaAllah aku percaya engkau punya waktu yang tepat, tapi sementara aku menunggu waktu itu, tolong jaga hatiku agar tidak hambar, jaga pikiranku agar tidak putus asa, dan jaga imanku agar tidak padam
Karena katanya you often "see yourself" in your bias tuh benar adanya wkwk. Ternyata milih bias tuh didorong oleh subconscious pattern recognition, the mirror effect, sama psychological projection. Kita sering kali tertarik sama bias tuh karena kadang they reflect us yakan, kita tertarik pada sifat-sifat mereka, yg akhirnya muncul "Kok kayak aku ya, kok relate ya". Ya ternyata emang ada mirror effectnya😀
Keinget dulu pernah nonton reels tentang "Why your bias is your bias" dari pov therapist and as a fan. Aku percaya bgt bahwa "your bias isn't random" and there's actual psychology behind why we choose our bias. Ketika kita milih bias sebenernya it's not just a visual preference or music, tapi justru ada alasan lainnya di luar visual. Misal nih dari sekian member grup kenapa kita biasin si A bukan B atau C, ternyata emang ga asal pilih aja, ada alasan psikologisnya.
"gapapa kok gak usah merasa telat, pelan-pelan aja." gua mah emang gak papa jir? tapi ekspektasi orang tua gue, keluarga gue, sodara gue, buyut gue, pahlawan yang udah memerdekakan indonesia (meski dijajah lgi), belum lagi perasaan guilty karena masih "numpang" sama orang tua? 🌳
Ternyata bener perjalanan paling panjang adalah perjalanan kembali ke diri sendiri, mengembalikan nafsu makan, menumbuhkan kembali rambut yang rontok, dan menghadirkan kembali rasa percaya bahwa diri ini pantas dan layak untuk dicintai 🤍
Anxiety itu terlalu sering memikirkan masa depan.
Depresi itu terlalu sering memikirkan masa lalu.
Anxiety membuat kepala penuh
dengan “bagaimana kalau…”.
Takut akan yang belum terjadi.
Tegang menghadapi hal yang masih samar.
Depresi membuat kepala penuh
dengan “seharusnya dulu…”.
Menyesali yang sudah lewat.
Terjebak di memori yang tidak bisa diubah.