Indonesia negara penghasil batu bara terbesar di dunia. Dan listrik Jawa baru saja mati bergilir karena kehabisan batu bara.
Biarkan itu meresap dulu.
Kita duduk di atas 38 miliar ton cadangan batu bara. Kita ekspor ratusan juta ton per tahun ke Jepang, Korea, India, China. Kapal-kapal bulk carrier antre di Kalimantan setiap hari. Tapi PLTU di Jawa Timur cuma punya stok 11 hari. Standar PLN sendiri bilang minimal 26 hari.
Ini bukan krisis batu bara. Ini krisis akal sehat.
Polanya sudah ketahuan. Pemerintah potong kuota produksi batu bara 2026 dari 790 juta ton jadi 600 juta ton. Tujuannya: supaya harga batu bara global tidak jatuh. Supaya royalti negara tetap besar. Strategi yang masuk akal, kalau kamu lupa bahwa 66 persen listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara yang sama itu.
Produsen tambang setelah dapat kuota 600 juta ton, langsung kalkulasi: DMO ke PLN harganya US$70 per ton, harga pasar ekspor US$84 lebih. Selisih US$14 per ton dikalikan puluhan juta ton. Matematikanya tidak butuh S2 untuk dipahami. Mereka pilih ekspor. PLN dapat sisa.
Bahlil bilang: "Tidak ada kelangkaan batu bara."
Tentu saja tidak ada kelangkaan. Barangnya ada. Masalahnya tidak ada yang mau jual ke PLN dengan harga rugi. Itu namanya bukan kelangkaan, itu namanya kebijakan harga yang gagal total selama 8 tahun. Harga DMO US$70 per ton terakhir direvisi tahun 2018. 2018. Waktu itu Bitcoin masih naik-turun di bawah US$10.000. Waktu itu kita masih pakai Facebook dengan serius.
Lalu PLN bilang: "Ini bukan blackout, ini pemadaman bergilir."
Terima kasih PLN. Sangat membantu. Warga Bogor yang listriknya mati dari siang sampai malam pasti sangat terhibur dengan distingsi terminologi itu.
Yang paling ironi: pemerintah potong produksi dengan alasan jaga stabilitas harga global. Tapi akibatnya, produsen yang dapat kuota kecil justru semakin nafsu ekspor, karena setiap ton yang mereka dapat harus dimaksimalkan marginnya. Kuota kecil bikin mereka lebih pilih-pilih pembeli. Dan PLN bukan pembeli yang menarik.
Kebijakan ini bukan salah desain. Ini salah niat dari awal. Emang bisa bilang prioritaskan DMO sambil mematok harganya di bawah biaya produksi. Itu bukan kebijakan, itu manifesto kebangkrutan yang ditandatangani sendiri.
IESR sudah bilang sejak Maret. Asosiasi produsen listrik swasta sudah bilang sejak akhir 2025.
Dampaknya bisa diprediksi oleh siapapun yang mau baca laporan setengah halaman. Tapi RKAB 2026 baru diproses, baru direvisi, baru dibuka lagi pada Juli.
Sementara itu listrik Jawa mati dari Banten sampai Sidoarjo.
Kita produsen batu bara terbesar di dunia. Kita tidak punya cukup batu bara untuk menyalakan lampu di rumah sendiri. Dan pejabat yang bertanggung jawab masih sibuk pilih kata antara "krisis" dan "kendala operasional."
Negara ini tidak kekurangan batu bara. Negara ini kekurangan pejabat yang malu.
Aku upload story kapan lalu tentang bahaya balon di acara2 lari. Terus ada salah satu โtemanโ komunitas yang tersinggung. DMnya sih biasa aja sih, tapi jujur aku tuh gak ada niatan buat jelek2in komunitas manapun ๐
โfollower gak seberapa belaguโ ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
Hari Sabtu di minggu ini memilih untuk anteng aja di rumah seharian buat decluttering.
Ngga berasa, barang di rumah yang memang dikit ini jadi semakin sedikit, baju yang itu-itu aja pun semakin itu-itu aja ๐