@anaisthesiant Tidak apa, namanya juga ciuman di pagi hari. Dan dia cukup menyukainya.
"Kak Nad... pagi-pagi gini udah kecintaan banget, sayang deh..."
@anaisthesiant Sudah memeluk, nyawa sudah terkumpul. Sudah saatnya membuka mata dan menatap wajah terkasihnya, "pagi..." Yang dengan gantengnya menyapa dengan senyum tipisnya.
@anaisthesiant "Mmm..." Nyaman sekali, jika memang mereka sedang bersama dan tidak memikirkan apapun sekarang ini. Adhista cukup terkejut mendengar kata-katanya lagi. Tapi kali ini wajahnya memerah.
"... E-eh..."
@anaisthesiant "Hmm~" Benar sekali, dia memang sering membawakan kopi hitam tanpa gula. Apalagi di shift malam seperti ini.
Adhista pun memeluknya sedikit lebih erat dan membenamkan wajahnya diatas pundak.
"Apa aku tuh beneran manis? Padahal tingkahku kan kayak gitu..."
@anaisthesiant "Iyalah. Lagi mode manja. Hargain dikit napa!" Walaupun pipinya menggembung sejenak, dia melakukannya tak lama. Adhista kini berputar kepada sang dokter lalu duduk tepat diatas pahanya.
Adhista terpaku dengan wajahnya yang benar-benar sempurna. Dan, tak ragu untuk memberi+
@anaisthesiant "Permisi..." Adhista dengan tenang masuk ke dalam dan menutup pintunya. Ia pun mendekat ke arah sang dokter dan meletakkan kopinya diatas meja.
Dia melihat sebuah kesempatan, dengan itu dia pun menduduki paha sang dokter.
"Hm.. gapapa kan aku disini?"
@anaisthesiant "...?" Serangan balasan? Oh, sepertinya harimau hitam sudah terbangun dari tidur. Adhista tidak menarik diri, bahkan melanjutkan ciuman tersebut sampai-sampai bertumpu pada leher sang istri. Dia sepertinya sedang sange dan ingin segera disentuh oleh sang dokter segera.
Tengah malam, dimana waktu Adhista baru saja pulang ke apartemennya. Dia menatap istrinya yang tengah terlelap di sofa. Mungkin sedang kelelahan. Bahkan gorden pun dia tidak menutupnya.
"... Nadhira." Gumamnya dalam napasnya. Rasanya.. ingin sekali ia terus memilikinya. (+)
(-) tidak menutup dirinya untuk menguasai Nadhira sepenuhnya.
Bibir milik sang dokter dibelai menggunakan ibu jari, dengan ekspresi wajah yang sama, dia semakin gembira...
"..." Mengikuti pula intuisinya, dia mencium bibir Nadhira, agar dia sadar dari alam mimpi dan (+)
(-) melampiaskan rasa sayangnya.
"... Ahaha.. kamu.. jadi.. milikku.. untuk selamanya, Nadhira Azizah..." Pupil matanya berubah menjadi tanda hati, obsesinya kini sudah lebih dari yang biasanya. Dengan pula memegang tangan dan juga cincin pernikahan mereka.
ㅤ(@anaisthesiant )
(-) senyum normal yang biasanya ditunjukan. Adhista pun ikut tidur diatas sang istri.
"Begini lebih baik, kan? Sayang?" Dengan perlahan tangan centilnya menggapai kancing bajunya. Membuka beberapa titik disana. Tidak meninggalkan tanda, karena buat apa? Dia hanya ingin (+)