Bayangkan saja dari Jokowi ke Prabowo lalu KDM? Beneran, negara ini krisis mesin politik yang memproduksi pemimpin.
Partai seharusnya menjadi sekolah kader dan tempat menyaring orang terbaik. Tetapi yang sering naik justru mereka yang punya modal, popularitas, dinasti, patron, atau loyalitas kepada elite. Akhirnya partai lebih sibuk mencari suara daripada mencari kualitas.
Masak, dari 270 juta penduduk, pilihan kepemimpinan nasional begitu sempit dan buruk? Karena rakyat tidak bisa memilih yg terbaik dari 270 juta orang. Rakyat hanya memilih dari nama-nama yang sudah lolos dari pintu partai, oligarki, uang, dan popularitas. Orang kompeten tanpa modal politik bahkan sering tidak pernah masuk gelanggang.
Jokowi, Prabowo, KDM dan seterusnya bukan sekadar soal siapa yang baik atau buruk. Ini soal sistem yang gagal melahirkan pilihan yang lebih baik. Masalahnya jg bukan rakyat kehabisan orang pintar dan berintegritas. Tp partai hanya menyodorkan orang2 yg begitu.
"mereka menolak pemimpin yang pandai bicara, sampai akhirnya mereka mendapat pemimpin yang asal bicara"
pantes kalah 3 kali, dinilai 11/100, sampe dipecat BJ Habibie, ternyata emang se ga layak itu jadi presiden..
please, i also want to live a good rest of my life on this planet, with peace in my mind and heart, without having to worry about anything. we only have one earth cmon
Nir empati bener nih.
Korban gempa mestinya ditanya, “Apa yang paling kalian butuhkan?” Bukan, “MBG mau dilanjutkan atau tidak?” Mereka sedang kehilangan rumah dan menghadapi bencana, bukan sedang mengikuti referendum tentang program unggulan Presiden.
Menurut saya, yang problematis bukan warga Nagekeo meminta MBG diteruskan atau tidak, tp jg Bupatinya yg provoking. Sangat masuk akal jika warga yang sedang kesulitan akibat gempa merasa makanan gratis membantu. Entah juga siapa yg makan. Yang janggal adalah Presiden membawa pertanyaan tentang kelanjutan program unggulan politiknya ke hadapan korban bencana, lalu menjadikan jawaban spontan mereka sebagai semacam legitimasi publik atas program tersebut. Busyet...
Malam ini, 26 Agustus 2026.
Terjadi lagi kebakaran hutan di Puruk , Murung , Kalimantan Tengah.
Benar benar ga ada habisnya bencana kebakaran hutan di Kalimantan, ini mereka incar seberapa luas sih lahan yang mau ditanam kelapa sawit??
Stay safe teman teman disana.
GONGGGG BGTTT for the first time in my life gue ngeliat presiden yg ngejadiin bencana yg dialami warga nya sebagai uji coba untuk ngelihat bawahannya kerja atau ga
sekali lagi, dia ngomong “sengaja” yg artinya he know the fact that warga di NTT beneran butuh bantuan, he know the fact that banyak org yg ngamuk karena leletnya bantuan yg datang. bahkan dia ga ngomong kata “maaf” sama sekali
kalo masih ada yg ngomong, “kok serba disalahkan?” iya jelas salah. gempa itu termasuk bencana yg sangat rentang memakan korban jiwa.. n dia sengaja ga datang buat ngasih kesempatan ke pejabat NTT buat mengatasi bencana nya 😅 cacat logika wkwkkw
mau make alasan apapun, harusnya dia datang di hari setelah kejadian lebih masuk di akal gue…
Presiden Prabowo Subianto said the Kalimantan forest fires can be controlled, but in reality, apinya masih membara sampai detik ini. Relawan di lapangan udah kewalahan, they’ve been fighting these fires for weeks. Where is the government help that was promised?
Orang miskin di Indonesia lebih percaya kalo kemiskinan mereka adalah takdir dari Tuhan atau cobaan dari Tuhan, ketimbang percaya bahwa mereka sebenernya dimiskinkan oleh rezim yang inkompeten dan sistem kapitalis yang sudah mengakar.
Jangan pakai El Niño atau kemarau sebagai kambing hitam utk kebakaran yg meluas.
Ini bukan cuaca. Ini kegagalan tata kelola. Mayoritas titik panas ada di konsesi perusahaan dan kawasan hidrologi gambut. Bukan di hutan yang “tiba-tiba” terbakar sendiri.
Puluhan tahun hutan dikeruk habis-habisan. Melahirkan para konglomerat terkaya di negeri ini. Masyarakatnya yang disuruh menghirup racun saat kebakaran, dan menanggung banjir saat penghujan. Ini bukan bencana alam. Ini ekosida yang dilindungi negara.
https://t.co/YaMOg2gvQZ