"Jika zina mempersulit pintu rezeki, lantas kenapa yang open BO selalu lancar?"
Pertanyaan di tembok ini sering banget mampir di pikiran kita. Kok bisa sih, yang nyari duit lewat jalan maksiat malah kelihatan mulus-mulus aja rezekinya?
Kalau direnungkan, fenomena ini mirip banget sama cara kerja jebakan mematikan milik tanaman Kantong Semar (Nepenthes).
Buat narik mangsa, Kantong Semar punya trik licik. Di bagian pinggir bibir kantongnya, dia memproduksi cairan nektar yang super manis. Buat semut atau lalat, ini jelas rezeki nomplok. “Wah, gampang banget nih dapet makan enak, lancar jaya”
Mereka pun hinggap, menjilat nektar itu, rakus, dan merasa semuanya aman-aman aja.
Padahal, mereka nggak sadar kalau pinggiran kantong itu dilapisi lilin mikroskopis yang licinnya minta ampun. Pas lagi asyik-asyiknya mabuk kenikmatan instan... wussh. Pijakan mereka terpeleset.
Mereka jatuh ke dasar kantong. Dan di sinilah horor aslinya dimulai.
Kematian di dalam Kantong Semar itu nggak datang instan. Si serangga jatuh ke dalam kubangan cairan asam yang kental mirip lumpur hisap. Semakin mereka meronta, semakin mereka tenggelam. Mereka kehabisan napas perlahan-lahan, sementara enzim pencerna mulai melumerkan tubuh mereka hidup-hidup dari luar ke dalam.
Nggak ada yang dengar teriakannya. Nggak ada jalan keluar. Cuma ada siksaan pelan-pelan sampai mereka hancur tak bersisa.
Dalam agama, fenomena "lancar dari hasil maksiat" ini namanya Istidraj.
Mekanismenya 100% persis kayak Kantong Semar. Tuhan membiarkan orang yang bermaksiat ngerasain "nektar" kenikmatan dunia. Uangnya dibikin ngalir deras, pelanggannya banyak, gaya hidupnya mewah.
Dikasih terus biar apa? Biar makin terlena. Biar mereka sombong dan mikir, "Ah, gue maksiat juga rezeki tetep lancar-lancar aja."
Mereka nggak sadar, mereka cuma lagi asyik ngejilat manisnya dunia di bibir jurang. Begitu waktunya tiba, mereka bakal kepeleset dan "dicerna" hidup-hidup oleh dosa mereka sendiri.
Hancurnya nggak cuma soal tiba-tiba jatuh miskin. Mereka dilumerkan pelan-pelan. Entah lewat penyakit mematikan yang menggerogoti tubuh tanpa ampun, kewarasan yang pelan-pelan hilang karena hidup penuh paranoia, aib yang terbongkar dan menghancurkan seluruh sisa hidupnya, atau yang paling mengerikan, maut yang tiba-tiba menjemput saat mereka masih telanjang di kamar hotel.
Nggak ada ampun. Nggak ada waktu buat tobat.
Uang haram yang kelihatan lancar itu bukan rezeki. Itu adalah biaya booking tiket VIP menuju kehancuran yang paling sunyi dan menyiksa.
Jadi, masih mau iri lihat mereka yang lagi asyik "pesta" di bibir Kantong Semar? Kelihatannya aja enak dan lancar, padahal aslinya... mereka cuma lagi antre nunggu giliran untuk dihancurkan pelan-pelan.