Ya Allah, kalau keputusan ini baik untuk agama, hidup, dan masa depanku, mudahkan dan berkahi. Kalau tidak baik, jauhkan aku darinya dan kuatkan hatiku menerima yang terbaik
Pantes yah pahala memaafkan itu tidak terbatas. Bayangin aja kita yang ngerasain sakitnya, nangisnya, gemeternya, emosinya, sakit kepalanya, trust issuenya, tapi kita juga yang harus bisa ikhlasin itu semua, kita juga yang harus bisa memaklumi.
Sedangkan orang yang jadi masalahnya bisa dengan mudah hidup tenang & melanjutkan hidup setelahnya.
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
Akibatnya, saat sudah dewasa pun pola itu sering masih terbawa. Mereka jadi orang yang sangat berhati-hati, mudah merasa bersalah, dan sering overthinking sebelum bertindak. Bahkan ketika tidak ada lagi yang memarahi, tubuh dan pikirannya masih menyimpan memori lama: takut mengecewakan, takut disalahkan, takut dianggap tidak cukup baik.