SATU SURAT.
SATU KATA: TIDAK.
Ia bukan pejabat yang sering muncul di panggung nasional.
Namanya mungkin tidak banyak dikenal orang Indonesia.
Ia hanya Wakil Bupati Kepulauan Sangihe.
Sebuah wilayah kepulauan di ujung utara Sulawesi.
Namun ketika rencana tambang emas PT Tambang Mas Sangihe menjadi polemik, ia memilih bersuara.
Bukan sekadar bicara.
28 April 2021, Helmud Hontong mengirim surat kepada Menteri ESDM.
Isinya meminta agar izin operasi pertambangan PT Tambang Mas Sangihe dipertimbangkan untuk dibatalkan.
ESDM membenarkan surat tersebut memang mereka terima.
Alasannya berkaitan dengan kekhawatiran terhadap lingkungan, wilayah pulau kecil, serta dampak pertambangan terhadap masyarakat Sangihe.
Lalu...
9 Juni 2021.
Helmud Hontong melakukan perjalanan dari Denpasar menuju Makassar.
Di dalam pesawat, ia tiba-tiba mengalami kondisi medis.
Ia dilaporkan mengalami batuk dan mengeluarkan darah dari hidung serta mulut.
Pilot kemudian melakukan pendaratan di Makassar.
Namun nyawanya tidak tertolong.
Helmud meninggal di pesawat.
Usianya 58 tahun.
Dan sejak saat itu, kematiannya menjadi sorotan.
Bukan semata karena ia meninggal secara mendadak.
Tetapi karena hanya sekitar enam minggu sebelumnya, ia mengirim surat penolakan terhadap proyek tambang yang sedang menjadi polemik.
Kebetulan?
Publik tentu bertanya.
Apalagi kematian tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi.
Tetapi di sinilah kita harus membedakan antara pertanyaan publik dan fakta hukum.
Polisi melakukan autopsi.
Hasil yang disampaikan saat itu:
Tidak ditemukan racun.
Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Dan hasil forensik menyebut kematian berkaitan dengan komplikasi penyakit menahun.
Jadi, sampai pada hasil penyelidikan yang diumumkan tersebut, tidak ada bukti forensik yang menunjukkan Helmud Hontong dibunuh atau diracun.
Namun kisahnya tetap meninggalkan satu pertanyaan penting tentang keberanian seorang pejabat daerah.
Ketika kepentingan investasi berhadapan dengan kekhawatiran terhadap lingkungan dan masa depan wilayahnya...
Helmud memilih bersuara.
Ia tahu surat itu mungkin tidak mengubah semuanya.
Tetapi ia tetap mengirimkannya.
Karena kadang-kadang keberanian seorang pejabat bukan diukur dari berapa banyak proyek yang berhasil masuk.
Tetapi dari keberaniannya mengatakan:
TIDAK.
Tidak pada sesuatu yang menurutnya dapat membahayakan daerah yang ia wakili.
Hari ini Helmud Hontong sudah tiada.
Tambang, izin, dan segala polemiknya terus menjadi bagian dari sejarah Sangihe.
Tetapi satu hal tetap tercatat
28 April 2021, seorang Wakil Bupati mengirim surat kepada pemerintah pusat dan meminta izin tambang itu dipertimbangkan untuk dibatalkan.
Dan enam minggu kemudian, ia meninggal dunia.
Kita tidak perlu mengarang cerita tentang penyebab kematiannya.
Tidak perlu menuduh siapa pun tanpa bukti.
Cukup hormati fakta.
Cukup ingat keberaniannya.
Karena sejarah mungkin lupa banyak nama pejabat.
Tetapi sejarah tidak selalu lupa kepada orang yang berani mengatakan TIDAK ketika banyak orang memilih diam.
Penculik jadi presiden, dirjen, direktur BUMN, koruptor menjabat lagi, dan nyiram air keras GAK dipecat jadi tentara meski sudah disebut TERORIS oleh PRESIDEN !!!
Sementara anak-anak muda ditolak kerja karena SKCK atau jejak digital postingan medsos.
tulisan istri purbaya soal pemecetan suaminya:
- emang negara kita tidak bisa diperbaiki, kebanyakan orang jahatnya dari pada yang jujur
- mohon maaf bapak sudah berusaha semaksimal mungkin, kalau masih mengecewakan
- pada akhirnya nanti kebenaran juga akan terungkap
- dia cerita purbaya sudah 2 bulan gelisah karena mau memindahkan orang-orang yang dia sebut mengerikan
- lalu yang dipindah itu melawan
- jumlahnya dia sebut 300 orang dari pajak dan bea cukai
Seserius ini effort Jepang untuk ikut memadamkan api kalhutra di negri kita . Sedangkan pemerintah kita saja gak seeffort ini .
Indonesia juga punya banyak water Canon truck yg bisa bawa air sampai 5000 liter . Tapi sayang nya gak di gunakan untuk memadamkan api kebakaran hutan, tapi cuma di gunakan untuk usir para pendemo🤦♂️
Buat memadamkan kebakaran hutan cuma pakai manual , yg akhirnya beberapa relawan & petugas sampai meninggal 🥺.
Bantuan datang dari Jepang! Kapal amfibi milik Jepang mendarat di Kalimantan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kehadiran armada ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemadaman karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Kolaborasi lintas negara diharapkan dapat mempercepat penanganan dan mencegah api meluas.
Simak berita selengkapnya di https://t.co/12KzHzegth, BeritaSatu TV, YouTube BeritaSatu dan unduh aplikasi BeritaSatu di iOS dan Apps Store!
#BeritaSatu #SaatnyaMajuBersama #KapalAmfibi #Jepang #Karhutla #Kalimantan