Sepak bola macam apa dari salah satu tim yang bermain tidak untuk mencoba menang secepatnya. Dua tendangan ke gawang sepanjang 120 menit?
Tim yang layak menang, akhirnya menang.
Ini cerita saya tentang e-book reader. Layak disebut salah satu gadget paling 'life-changing' yang pernah saya miliki atau gunakan.
Untuk yang masih 'on the fence' harus beli atau tidak, siapa tahu tulisan singkat ini bisa membantu.
https://t.co/0fpVlPIiGI
SEPAKAT sama Raditya Dika dan Gita Savitri, best purchase dan life changing experience-ku dari 2022 adalah…
✨beli e-reader✨
aku pakai Kindle paperwhite 8th (maklum udh lama), sampai skrg masih awet. baterainya juara. praktis di bawa-bawa. baca buku jadi makin rajin dan kalo mau bobo gak perlu repot nyalain lampu karena cahayanya Kindle bisa nyesuaiin sendiri 😭
Yang terjadi adalah, post ini sudah menjadi pusat kontroversi. Kalau itu tujuannya, sudah tercapai.
Pastinya, tidak adil menilai buku/tulisan seseorang tidak layak dibaca/dibeli karena si penulis hidupnya ‘bercela’ atau tidak sempurna. Kalau memang tulisannya jelek, baiklah, mungkin patut demikian. Tapi kalau penilaiannya karena si penulis di masa lalu punya ‘dosa’, apa berarti tulisannya tidak layak dibaca?
Dari daftar ini, saya pernah membaca karya Orwell. Di luar kontroversi mengenai kepribadian/perilaku Orwell, sulit membantah kualitas tulisannya di novel 1984—dan bagaimana ia seperti memberikan ‘prediksi’ tentang otoritarianisme di masa modern: biarpun bukunya ditulis di tahun 1940an, banyak bagian ceritanya yang seperti menjadi kenyataan lebih dari 70 tahun kemudian!
Kalau kemudian tulisan Orwell otomatis dianggap tidak layak dibaca karena kontroversi kepribadiannya, bukan saja kita kehilangan tulisan yang memang bernilai dari Orwell, kita sedang melakukan persis apa yang Orwell, dan banyak orang lain, takutkan: bahwa intelektualitas seseorang bisa dijatuhkan dan dinihilkan karena siapa dia, bukan karena nilai pemikirannya.
Kalau memang hanya dia yang ‘tidak berdosa’ yang layak dibaca tulisannya, tulisan mana yang bisa kita baca? Apa nanti kita tidak terlanjur bodoh karena menunggu tulisan dari penulis yang sempurna?
Tapi lain halnya kalau tulisannya memang jelek, tidak berkualitas, atau jahat, atau mendorong orang lain menjadi jahat, tentu patut dihindari. Lagi, bukan karena orangnya. Karena tulisannya.
Terakhir, Marukami siapa sih?
Yang ada sekarang, dengan melakukan ini, biarpun mungkin kurang disadari karena terjadi di tengah eforia, adalah Argentina menantang FIFA untuk “ayo coba, berani hukum nggak?”
Tapi ya, melihat FIFA sebulan terakhir…
Saat ini yang terjadi adalah Argentina sedang menantang FIFA tepat di mukanya: apakah benar mereka jadi ‘anak emas’ FIFA.
Mereka dihukum, final Piala Dunia terancam antiklimaks. Mereka tidak dihukum, makin besarlah kecurigaan ‘konspirasi’ benar adanya.
Baca di sini: https://t.co/wyVIZql1wu
Tim nasional Argentina terancam menghadapi sanksi dari Federasi Sepak Bola Dunia setelah membentangkan spanduk bertuliskan "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina" usai mengalahkan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026. Selebrasi tersebut memicu sorotan karena menyangkut sengketa wilayah yang sensitif.
~KQ #Argentina #PialaDunia2026
Oui, encore! (Iya, lagi!) 😅
Penggunaan kata “maman” dalam bahasa Prancis dilafalkan seperti menyebut di antara “mamang” atau “mamong”, digunakan saat berbicara dengan ibu sendiri.
Kalau menyebut tentang ibu dalam percakapan dengan orang lain, menggunakan kata “mère”.
Bagaimana dengan kualitas? Entahlah. Konon Piala Dunia harusnya mempertemukan hanya tim-tim terbaik dari seluruh dunia, persetan inklusivitas atau akses bagi negara-negara ‘non-tradisional’. Saya sendiri percaya harus ada keseimbangan: aksesibel tapi kompetitif.
Toh masih kepingin juga melihat Indonesia lolos ke putaran final. Boleh dong berharap!
Tapi, di luar isu kualitas, 64 adalah angka yang masuk akal secara matematis.
Kecuali FIFA entah bagaimana dapat inspirasi jatuh dari langit…
Nah, 64 negara peserta akan mengembalikan ‘rumus’ jumlah peserta Piala Dunia ini (64 adalah 2^6). Dibagi ke 16 grup, 2 peringkat teratas lolos ke 32 besar. Kalkulasi mulus hingga partai final dengan 2 tim.
Sistem peringkat tiga terbaik ini bukan yang paling ‘fair’ juga, karena ada tim-tim yang harusnya masih layak lolos tapi terjebak karena isi grupnya kebetulan lebih mematikan dibanding yang lain. Agak sial memang.
Ingat dari perhitungan di awal, persaingan 24 tim tidak akan berujung ke final dengan 2 tim. Pilihannya adalah: 16 tim atau 32 tim.
Maka itu FIFA menggunakan sistem “peringkat tiga terbaik” yang memaksa kocokan tambahan 8 tim agar menjadi 32 besar (16 pertandingan).
Agak celakanya, di tahun 2026 ini jumlah peserta Piala Dunia menjadi 48, yang memecah ‘rumusan’ ini (48 adalah 2^4 x 3).
Perkalian 3 inilah yang menjadi masalah. Karena 48 peserta dibagi ke 12 grup, jika yang lolos ada 2, maka ada 24 pasang tim.
Untuk memastikan jumlah di fase gugur seperti ini, maka jumlah peserta di fase grup harus dalam pola yang sama, yaitu sejumlah 2 pangkat suatu bilangan bulat.
Jumlah ini sesuai dengan jumlah peserta Piala Dunia sebelum 1998 (16 negara) dan 1998-2022 (32 negara).
Pola ini sebetulnya sesuai dengan bilangan 2 yang dipangkatkan dengan bilangan bulat:
Final: 2 tim (2¹)
Semifinal: 4 tim (2^2)
Perempat final: 8 tim (2^3)
Perdelapan final: 16 tim (2^4)