@kegblgnunfaedh mereka bisa menerapkan jam kerja santai karna ada negara ketiga kaya kita gini yang backup kerjaan dengan kerja keras tiap hari. banyak industri dari luar negri di sini upah minimum tapi harga barangnya selangit
Saatnya menulusuri kembali misteri kasus kopi sianida yang viral di tahun 2016 lalu. Film dokumenter Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso, UDAH TAYANG SEKARANG di Netflix.
KUTUKAN SEWU LELEMBUT
Part Akhir - Takdir [Tamat}
Kerangkeng sukmo sudah menancap di tubuh Raden Sengkuni, namun mereka ragu apakah ini adalah akhir dari Kutukan Sewu Lelembut?
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror#bacahorror
PENGORBANAN
(Sudut pandang Danan…)
Kobaran api yang membakar hutan di sekitar reruntuhan perlahan mulai padam bersama tetesan hujan yang membasahi wajah kami.
Napas kami terengah-engah setelah kenekatan kami untuk memasuki alam itu sekali lagi. Jagad Segoro Demit.
“Gimana yang lain?” tanyaku pada Cahyo.
Cahyo berusaha untuk berdiri dan menyaksikan Kimpul, Gama, dan Budi masih berusaha untuk bangkit dari kelelahanya. Namun setelah ia menoleh lagi tiba-tiba raut wajah Cahyo berubah. Ia pun segera menghampiri seseorang yang tak jauh dari tempat kami berada.
“Nan! Mas Jagad!” Teriak Cahyo.Aku segera bangkit dan merasakan perasaan yang tidak enak.
Benar saja di sana Mas Jagad terkapar tak berdaya dengan Nyi Sendang Rangu yang hanya terdiam menatap tubuh itu.
“Mas! Mas Jagad!” Teriak Cahyo berusaha membangunkan Mas Jagad yang sama sekali belum membuka mata itu.
Aku mengecek nafas dan detak jantungya. Sialnya aku sama sekali tidak menemukan detak jantung dan merasakan hembusan nafasnya.
“Mas! Bangun mas!” Ucap Cahyo yang segera menyadari itu dan memompa jantung Mas Jagad. Aku membacakan ajian pemulih untuk menutup semua luka gaib dan mengurangi luka di tubuhnya.
Terdengar suara langkah beberapa orang mendekat. Gama dan yang lain cemas dengan apa yang terjadi.
“Nan? Mas Jagad…?” Tanya Gama.
Aku tidak mau menjawabnya, aku tidak mau menerima kenyataan bahwa harus ada korban di tragedi ini. Namun saat aku menoleh ke arah Nyi Sendang Rangu, ia tidak berbuat apapun dan hanya menitikkan air matanya.
“AAAAAAAARRRRGGGHHH!”
Teriakku menghantamkan tinjuku sekuat mungkin ke tanah tak mampu menahan perasaanku.
***
📷Alam Jagad Segoro Demit, beberapa waktu yang lalu…
Ketiga pusaka menancap di tubuh Raden Sengkuni dan sayap lowo irengnya tercabik-cabik oleh amukan Wanasura dan Meong hideung. Sukmanya terbelenggu dengan kerangkeng sukmo sementara kutukanya sirna dengan ajian pemutih raga.
Kedua sosok pecahan sukma Raden Sengkuni pun tak luput mulai sirna dan kembali ke jasad Raden Brotoseno dan Birawa.
Ini adalah akhir dari Raden Sengkuni…
“Perseturuan trah ningrat tidak akan pernah habis dan akan terus meminta nyawa. Itulah kutukan yang sebenarnya.
Harus ada yang menggantikanku menumpas Trah Ningrat. Mungkin kau raden bodoh, atau mungkin kau.” Raden Sengkuni mengangkat tangannya menunjukku dengan sisa tenaganya.
“Keturunan mahapatih yang mengingkari darah birunya…”
Aku menelan ludah, bagaimana ia bisa mengetahui tentang leluhurku?
Namun itu hanyalah ucapan terakhirnya sebelum teriakkan kesakitan yang muncul saat menyadari rasa takutnya akan kematian.
“AAAaaarrrgghhhh!!!”
Mata Raden Sengkuni melotot tajam seolah melihat berbagai siksaan yang akan dialami setelah kematianya. Tanpa teriakkan itu pun kami semua sudah mengetahui dari raut wajahnya betapa takutnya Raden Sengkuni akan siksaat yang paling menyakitkan itu.
Dan itu akan berlangsung selamanya…
Kami menjauh dari tubuh yang perlahan terkikis dan sirna itu. Nafas kami terengah-engah dan merasa hampir tak ada lagi tenaga yang tersisa setelah serangan terakhir tadi.
Namun ini adalah Jagad Segoro Demit, pertarungan tadi memancing kedatangan makhluk-makhluk berbagai wujud. Aku tahu, mereka sebelumnya hanya memantau kami menunggu celah untuk memangsa kami. Dan saat ini mereka mulai berdatangan.
“Nyi! Mas Jagad! Kembalikan mereka ke alam manusia!” Teriakku pada Nyi Sendang Rangu dan Mas Jagad.
Aku dan Cahyo menaiki tubuh Wanasura dan bersiap menghadang mereka.
“Danan? Kalian?” Gama bingung dengan perintahku.
“Kami akan menyusul setelah menahan mereka! Pergi!” Teriakku.
“Ta—tapi?” Kimpul terlihat khawatir.
“Kami sudah pernah tinggal di alam ini cukup lama, kami cukup mengerti. Tapi sangat berbahaya bagi kalian untuk terlalu lama berada di tempat ini..” Ucap Cahyo.
Gama, Budi, dan Kimpul pun mengerti. Sebuah jalur yang tertutup kabut muncul dari sebuah ilmu yang dirapalkan oleh Mas Jagad. Sementara itu Nyi Sendang Rangu mempertahankan portal itu untuk Gama dan yang lain.
“Grrrr… Gerbang itu terbuka, Kita bisa ke alam manusia…grrr…”
Suara mengerikan dari makhluk berwujud raksasa bertaring terdengar mendekat dengan cepat.
“Wanasura! Jangan biarkan dia mendekat!” Teriak Cahyo.
Dhuaagg!!!
Pukulan keras menahan raksasa yang lebih besar dua kali dari tubuh Wanasura itu hingga terpukul mundur.
“Khikhikhi…Aku akan memasuki kabut itu dan mendapatkan banyak mangsa manusia…khikhikhi”
Nenek berekor ular melayang-layang bersama pasukanya mendekat ke arah Jagad. Aku pun memisahkan sukmaku dan melayang menghadang mereka.
“Sebaiknya hentikan saja niatmu!” Ucapku yang segera mengadu kerisku dengan tongkat kayu dari sosok nenek ular itu.
“Hisssshh.. bocah sialan!”
Aku bertarung sengit dengan setan-setan itu sementara Cahyo dan Wanasura menghadang raksasa tadi.
“Danan?!” Tanya Gama cemas, namun Budi segera menarik tubuhnya dan membawa Gama bergegas menuju kabut bersama Kimpul.
“Mereka pasti menyusul, Bocah monyet itu tidak selemah itu,” Ucap Budi.
Jagad dan Nyi Sendang Rangu pun mengantar kepergian mereka dan memastikan mereka selamat sampai di alam manusia.
Sraattt!! Srattt!! Srattt!
Pasukan siluman ular itu tumbang satu-persatu. Raksasa itu pun mundur saat mengetahui gerbang sudah tertutup. Namun masih banyak makhluk lain yang memantau ingin memangsa kami.
“Akhirnya kita harus bertahan di alam ini lagi ya, Jul!” ucapku.
“Haha, walaupun sudah beberapa kali sepertinya aku tetep nggak akan terbiasa,” Balas Cahyo sembari menunjuk ke ratusan makhluk kerdil bertubuh hitam yang seolah siap mengeroyok kami.
“Nggak papa, Jagad dan Nyi Sendang Rangu pasti akan menjemput kita…”
Aku mempercayai itu, ia pasti akan kembali dalam waktu dekat setelah memulihkan tubuh dan kekuatanyna. Aku tahu, Nyi Sendang Rangu tidak bisa lagi membuka gerbang Jagad Segoro Demit lagi dan Jagad tidak memiliki kekuatan untuk melintasi gerbang Jagad Segoro Demit lagi dalam waktu dekat. Entah dalam hitungan hari, bulan, atau tahun kami yakin mereka pasti akan datang.
Aku dan Cahyo sama-sama membacakan doa dan ayat-ayat suci yang kami pelajari selama terjebak di alam Jagad Segoro Demit. Ini adalah amalan agar kami bisa bertahan dari pengaruh kesadaran alam ini.
“Mereka datang..” ucap Cahyo.
GGGRRRRRRRR!!
Wanasura menggeram, aku pun sudah siap menghadapi makhluk-makhluk itu lagi.
“Setelah ini, kita pergi dan mencoba mencari jalan keluar sendiri..” ucapku.
Cahyo menangguk setuju.
Tapi sebelum serangan kami beradu, tiba-tiba ledakkan besar muncul menghadang pasukan setan-setan itu.
Blarrr!!! Blarrr!!!
Aku dan Cahyo pun kaget dan menoleh ke arah serangan itu.
“Danan! Cahyo! Cepat!!!”
Itu Ajuan Watugeni Mas Jagad, ia kembali lagi. Tak melewatkan kesempatan itu kami pun segera menghampiri Mas Jagad.
“Mas yang lain?” Tanya Cahyo.
“Nyi Sendang Rangu yang mengantar mereka, Tak mungkin aku meninggalkan kalian lagi setelah melakukan hal yang sama saat kejadian Setra Gandamayit dulu..”
Ratusan makhluk tadi kembali mencoba menyerang, namun ajian watu geni Jagad membuat ledakkan besar dan menghadang mereka semua.
“Cepat!!” Teriak Mas Jagad.
Tapi tepat saat teriakkan itu, aku menyadari Mas Jagad segang menahan darah yang seharusnya termuntahkan dari mulutnya.
Aku dan Cahyo Pun tak ingin memakan waktu lagi. Cahyo mengembalikan Wanasura ke dalam tubuhnya dan menembus kabut yang dibuka oleh Mas Jagad itu.
Alam Jagad Segoro Demit hampir tertutup, kami mengikuti mas Jagad yang berjalan menuntun kami ke jalur alam manusia. Langkahnya mulai lemah, rupanya tak hanya kami saja yang kehabisan tenaga. Kami sangat tahu, membuka gerbang Jagad Segoro Demit adalah pertaruhan nyawa dan orang yang berada di depan kami adalah satu dari sekian juta orang yang memiliki kemampuan itu.
“Sampai…”
Jagad membentuk mengangkat telapak tanganya ke depan dan membacakan rangkaian mantra lintas Jagat untuk mengembalikan kami ke alam manusia.
Cahaya bersinat menyelimuti kami, namun sekilas kami sempat melihat sosok-sosok mengerikan yang masih mencoba menembus gerbang Jagad Segoro Demit yang mulai tertutup.
***
MISTERI WARUNG MADURA
Sambil nyimak soal #TimnasDay, Adulting, Pak Mahfud dan Rempang. Kita telusuri jg apa sih rahasianya Warung Madura bisa terus eksis dan bisa bersaing dg toko2 modern. Apa karna pake jimat?
BREAKING : PSSI resmi mengumumkan harga tiket FIFA Matchday Indonesia vs Argentina 19 Juni.
5 Juni - Khusus pembayaran BRI
6-7 Juni - Public Sale
Harga :
Kat 3 - Rp600 ribu
Kat 2 - Rp1,2 juta
Kat 1 - Rp2,5 juta
VIP - Rp4,25 juta
Jumlah tiket : 60.000+
Gass!! 🔥