#KhilafClub
Ada yang tadinya dikenal alim dan santun, tapi terjerumus juga ke jalan yang tidak diridloi Tuhan. Entah karena khilaf atau karena musibah.
Pernah di titik terendah, tapi entah kenapa masih bisa bangkit?
Kisah yang disarikan dari kitab klasik, tentang kekuatan hati yang diuji habis-habisan, tapi memilih untuk bertahan dan memaafkan. Hasilnya? Nggak terduga!
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh : Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, disuruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda, tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Sumber : FB
1/2. Dulu sebutan 'Gus' terbatas jumlahnya, dilekatkan hanya pada sosok pilihan, seperti: Gus Dur, Gus Mus, dll.
Kini sebutan 'Gus' alami penurunan nilai karena dilekatkan ke banyak orang tanpa seleksi. Lha wong saya saja yang kayak gini juga sering dipanggil 'Gus' kok, hahaha..
Hujan bulan Desember ini
Bawakan daku segenggam melati
Hapus jejak ragumu pada pinangan rindu
Sebab dada gemuruhku begitu arif
atas i'tikaf cinta di sela jemari doa.
Sebagian orang sedang menunggu pernikahan, sebagian yang lain menunggu keturunan. Ada juga yang menunggu rezeki, dan ada yang menunggu kesembuhan.
Ya Allah mudahkanlah setiap orang yang mempunyai hajat agar dapat memenuhi hajatnya.
حفظه الله تعالى
ㅤ ㅤ ㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤ
تجرع الصبر فإن قتلكك قتلك شهيداً و إن أحياك أحياكَ عزيزاً
Teguklah kesabaran. Jika kesabaran membunuhmu, ia membunuhmu dalam keadaan mati syahid. Jika kesabaran itu membuatmu hidup, ia membuatmu hidup dlm keadaan mulia.
— Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
فى تعاملك مع الناس لا نحتاج إلى دراسة عليا بل نحتاج إلى أخلاق عليا
Dalam memperlakukan sesama manusia, kita tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, tapi membutuhkan akhlak yang tinggi.
إذا رأيت ربك يتابع نعمه عليك و انت تعصيه فاحذره
Jika kau mendapati Tuhanmu tak henti hentinya mencurahkan nikmat kepadamu, sedang kau tak henti hentinya bermaksiat kepada-Nya maka kau patut waspada..
Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya kamu akan menyadari bahwa apa yang hilang darimu itu bukanlah suatu yang berharga.
Tapi kamu saja yang terlalu berlebihan dalam menilainya.