@LambeSahamjja Sekolahku habis ngadain acara perkemahan. Pesen katering 180 box untuk 2x makan, total 360 box. Diambil jam 5 subuh buat sarapan jam 8 dan maksi jam 1. Sampe malam jatah guru ada yg masih utuh. GA BASI apalagi keracunan. Emang SPPG jorok aja skill issue packing jam 5 jam 9 basi.
Pak prabowo, KERACUNAN MBG YANG BAPAK BILANG HANYA SAKIT PERUT BIASA ITU, APAKAH SEPERTI INI? SAMPAI HILANG INGATAN???
KERACUNAN MASSAL TAPI TIDAK ADA TERSANGKA.
TERIMAKASIH PRABOWO, MEMANG HEBAT PROGRAM MU SATU INI.
Febiola Br Purba, 16 tahun, adalah siswi berprestasi dan wakil ketua OSIS di SMK Swasta Bersama Berastagi, Karo, Sumatera Utara.
Sejak 13 Agustus 2026, Febiola sudah dirawat di lima rumah sakit krn keracunan MBG. Awalnya dia dirawat di RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, lalu RS Amanda, Karo.
Menurut dokter, perawatan Febiola tidak sebentar. Dia harus menjalani perawatan selama setahun penuh, seminggu sekali harus dievaluasi.
Ayah Febiola, Icuk, mengatakan kondisi putrinya saat ini seperti anak usia 3 tahun. Febiola tdk mengenali teman sekelas, guru, bahkan adik kandungnya sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan pengobatan, Icuk dan keluarga harus membeli susu khusus dua kali seminggu dgn harga Rp180.000 per sekali beli.
Selain itu, makanan dan vitaminnya juga harus dijaga sesuai anjuran dokter. Keluarga Febiola harus menjebol tabungan Rp3,5 juta untuk biaya pengobatan Febiola. Jumlah yang tak kecil bagi Icuk dan keluarga.
Febiola Br Purba adalah gambaran nyata betapa rakyat sangat menderita akibat kebijakan ngawur dan kegagalan sistemik. Febiola tdk boleh dianggap cuma angka atau bagian dari statistik semata.
Sebab ada masa depan seorang anak muda yang kabur, ada beban emosional keluarga, ada impian yg tiba2 terhenti.
Negara apa ini? Kok tega betul menyengsarakan rakyatnya..
https://t.co/ecIlrvfwR8
Sarah Sechan cerita beda perlakuan rumah sakit soal masker antara Singapura dan Jakarta.
Dia cerita kalo di Singapura, waktu masuk RS buat check up atau jenguk pasien terus lupa bawa masker, tinggal minta aja di resepsionis pasti selalu ada masker buat pengunjung.
Beda cerita pas siang itu di suatu RS di Jakarta. Sarah lupa bawa masker dan takut yang mau dijenguk malah tertular virus, jadi dia tanya apa ada masker extra.
Jawabannya: "Maaf kami gak punya"
Sarah pun nanya balik, apa emang RS harus selalu sedia masker.
Di kolom komentar rame netizen yang ikutan cerita pengalaman masing-masing.
Ada yang bilang gak apple to apple bandingin RS Jakarta sama Singapura, dibales santai sama Sarah:
"Kan RS to RS. Apple to apple dong. Kecuali mall to RS "
Selain itu ada juga yang cerita soal nakes yang harus beli alat sendiri di beberapa RS, sampe dr. Tompi ikutan nimbrung komen "Pelit aja kali 😂" yang cuma dibales emoji ketawa sama Sarah.
Jadi standar fasilitas dasar kayak masker aja ternyata masih beda-beda tiap RS ya, gimana pengalaman kalian? 👀
Cekikikan bangett 😭😭 tadi tuh ada pawai obor lewat depan rumah, ramai banget. Bocah inipun akhirnya kepo dan langsung lari keluar. Aku cari cari kemana kok ga ada.. gataunya dia punya view spot sendiri 😭😭😭
Maaf nih gue harus terpaksa bilang
Emang ada kok cewek yang mager banget buat keluar rumah. Lu kasih dia wifi kenceng, makanan cukup, sama AC nyala 24 jam, dia bisa betah ngendon di rumah sebulan juga santai aja.
Jadi nggak usah kasihan, malah dia lebih enjoy dan bahagia kalau di rumah. Percaya deh 😹 apalagi kalau kulkas penuh.
TRUST ME, NGL
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
-star gagah banget red ocean konser tvxq di nissan stadium hari ini. padahal mereka konser buat anniversary debut jepang ke-20 tahun dan yang dateng 75 ribu orang. beneran legend mereka ini🥲
Thinking about when Nana was asked if she has plans to change her stage name to her real name now that she’s an actress and she said she’d use it until the end because she started as After School’s Nana. We love an actress who’s proud of her idol roots!
@TMT_arabic There were more than 6 million people were killed during WW II, not only the Jews. Why do we have to care so much about the Holocaust and forget the rest? I'm more sympathetic about non Jews after seeing what they did to the Palestinians