- Su arquero tiene 40 años y juega en la segunda división de Portugal
- Nadie del plantel juega en su liga local (que es semiprofesional)
- Los convocados son hijos y nietos de emigrantes criados en Europa.
- A un defensor lo buscaron por LinkedIn.
- Medio millón de habitantes (hay más caboverdianos viviendo fuera que en el propio país)
- Le sacaron un punto al campeón de Europa y llevaron al tiempo extra al campeón del mundo
Mis respetos para Cabo Verde 🇨🇻
doanya harus lebih spesifik lagi: pengen ngerasain gaji dua digit perbulan tapi workloadnya masih manusiawi, jam kerjanya selayaknya orang kerja dan bisa work life balance
“EMANG GUE PIKIRIN!!”
Sebuah pernyataan paling dongo yg pernah gw dengar dari seorang pemimpin. Gila. Kayak percuma pada demo, kritik, percuma.. kaga dipikirin. 😂
Walau gue tahu Prabowo tuh goblok banget. Tetap aja gue heran setiap kali diksi yg keluar dari mulut dia kek orang ga pernah sekolah. Diksi dia tuh MINUS dan DANGKAL banget wkwkwkwkkwwwkkwkw kek beneran bukan orang terdidik, sering banget make low-level vocabulary anjinggg😭😭😭
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
btw soal Serbia…
FYI… just in case belum tau. 🙏🏼
kalo kalian jalan2 ke Serbia dan lagi punya hajat besar… di sana banyak dukun2 Slavic hitam putih komplit yg bisa bantu.
ilmu mereka terkenal sangat kuno & termasuk ngeri bgt.
FAQ: apakah ada pesugihan? tentu saja, bodoh. 🤓
pendapat connie soal teddy indra wijaya:
- Teddy adalah "katup" yang halangi informasi masuk ke Prabowo
- Tidak ada yang bisa mendekat ke presiden selain Teddy
- Saran Connie: Teddy libur dulu biar informasi bisa masuk bebas
- Ring satu istana pun mengeluhkan dominasi Teddy
- Prabowo bisa jadi raja telanjang dikelilingi yes-man, tidak ada yang jujur
- Center of gravity presiden harusnya negara, bukan satu orang
- Lebih baik Prabowo dengarkan Dasco, Safri, Tito yang lebih matang
- Prabowo tidak tahu kondisi nyata rakyat karena semua disaring Teddy
mark my words: selama masih ada orang-orang yang harga dirinya bisa dibeli semurah ini, this country will never go anywhere. presiden dan kroni-kroninya itu masih sangat mungkin menang lagi di 2029.
Plis @ruangguru bikin COC tapi pesertanya dari IPDN, Akpol, Akmil, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, dkk (yg halo dek semua). Setiap mau mulai dan selesai ngerjain soal harus bilang, "Mohon izin soal siap dikerjakan/sudah selesai". Yg kalah push up 100×
PIUTANG PLN KE PEMERINTAH NAIK 156%.
ARTINYA PEMERINTAH NUNGGAK BAYAR KE PLN SEHINGGA PLN TIDAK PUNYA DUIT.
TIDAK PUNYA DUIT SEHINGGA TIDAK BISA BEKI BATUBARA
TIDAK BISA BELI BATUBARA, SUPLAI LISTRIK BERKURANG.
SIAP2 MENYALA BERGILIR
BUKAN PEMADAMAN BERGILIR
Dari foto laporan keuangan PLN yang beredar, ada satu angka yang langsung mencolok begitu kamu lihat.
Piutang dari Pemerintah tercatat Rp 110,738 triliun di periode terbaru, naik drastis dari sebelumnya Rp 43,290 triliun. Kenaikannya lebih dari 156% dalam satu periode.
Bukan naik tipis. Ini lonjakan yang sangat besar dan perlu dijelaskan.
PLN adalah perusahaan negara yang menjual listrik ke rakyat dengan tarif yang tidak selalu mencerminkan biaya produksi sebenarnya.
Untuk pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA bersubsidi, PLN menjual listrik jauh di bawah harga pokok produksinya.
Selisihnya ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi dan kompensasi.
Tapi pemerintah tidak selalu bayar langsung.
PLN dulu bayar dulu ke produsen energi, ke kontraktor, ke supplier batu bara dan gas, lalu nagih ke pemerintah belakangan. Tagihan yang belum dibayar pemerintah ini yang dicatat sebagai "piutang dari pemerintah" di neraca PLN.
Sederhana:
PLN sudah keluar uang, tapi pemerintah belum bayar.
KENAPA ANGKANYA BISA MELEDAK SEGITU?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan lonjakan ini.
pertama adalah program diskon listrik 50% Januari-Februari 2025. Pemerintah mengumumkan diskon tarif listrik untuk seluruh pelanggan di bawah 2.200 VA selama dua bulan. Biayanya ditanggung negara tapi dibayar PLN dulu. Total tagihannya saja sudah Rp 13,61 triliun hanya dari program dua bulan itu.
kedua adalah mekanisme pembayaran yang lambat. Selama ini pemerintah membayar kompensasi ke PLN per tiga bulan atau bahkan per enam bulan sekali. Artinya PLN harus talang dulu berbulan-bulan sebelum uangnya balik. Semakin lama jeda bayar, semakin besar piutang yang menumpuk.
ketiga adalah subsidi dan kompensasi yang terus membengkak. Pada 2025, realisasi subsidi dan kompensasi listrik sudah menyentuh lebih dari Rp 210 triliun. Sementara tarif dasar listrik tidak naik karena alasan politik. Selisih antara biaya produksi dan tarif yang dibayar rakyat inilah yang jadi beban yang terus menumpuk.
DARI MANA PEMERINTAH BAYARNYA?
Sumber pembayarannya ada di APBN, tepatnya dari pos Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi. Pada 2024 saja, total subsidi dan kompensasi energi (BBM, gas, listrik, pupuk) mencapai Rp 434,3 triliun. Khusus listrik yang dikompensasi, salah satu contohnya adalah pelanggan 900 VA non-subsidi yang mendapat kompensasi Rp 400 per kWh, artinya dari harga seharusnya Rp 1.800 per kWh, mereka hanya bayar Rp 1.400 per kWh. Selisih Rp 400 itu ditanggung APBN, dan ada 50,6 juta pelanggan yang masuk kategori ini.
Masalahnya bukan soal ada atau tidak anggarannya.
Masalahnya adalah timing pencairannya.
Komisi XI DPR sempat melaporkan bahwa kompensasi kuartal I-2025 untuk PLN senilai Rp 27,6 triliun belum dibayarkan.
Bahkan ada tagihan 2024 yang dibebankan ke APBN 2025. Jadi tagihan lama belum lunas, tagihan baru sudah datang.
PLN yang punya piutang besar tapi belum cair ini berdampak ke kemampuan perusahaan membayar supplier dan produsen listrik swasta tepat waktu.
Kalau pembayaran ke IPP terlambat, ada risiko gangguan pasokan.
Dalam jangka panjang, ini juga mempengaruhi rating kredit PLN dan kemampuan pinjam untuk investasi infrastruktur.
Untuk kita sebagai pelanggan, selama tarif listrik tidak disesuaikan dengan harga pokok produksi, maka subsidi dan kompensasi akan terus menggelembung, piutang PLN ke pemerintah akan terus naik, dan beban APBN akan semakin berat.
Ada wacana perbaikan skema pembayaran menjadi bulanan agar piutang tidak menumpuk terlalu lama.
Tapi selama tidak ada reformasi tarif dan pembenahan kontrak IPP, akar masalahnya tetap ada.
Rakyat bayar murah.
PLN tombok dulu.
APBN yang bayar belakangan
Dan siklusnya terus berulang setiap tahun
APAKAH KEDEPANNYA BENERAN GELAP?