dibilang antek-antek asing saya diam,
dibilang ndasmu saya diam,
dibilang warga desa tidak pakai dolar saya diam,
dibilang “tidak bermimpi kaya raya?”
SAYA AKAN LAWAN!!!
Indonesia kembali mendapat pengakuan internasional sebagai destinasi wisata favorit dunia 2026. Kabar ini menjadi bukti bahwa kekayaan alam dan budaya kita terus menarik perhatian dunia melalui lensa kamera.
Tapi, coba kita lihat apa yang terjadi saat kamera itu dimatikan?
Ingat baik-baik namanya, Nalince Wamang
Pelajar asli Papua, 17 tahun, tewas ditembak oleh tentara saat sedang mendulang emas di wilayah bekas aliran limbah tambang PT. Freeport demi mencari uang untuk kuliah
Dimiskinkan sistem, dibunuh aparat negara
Never forget, never forgive
@pengennyetir Kalau saya pilih yang murah karena;
Pertama, emang mendang mending dan gak betah pake apapun di muka. Tapi kan kacamata tuh kebutuhan ya, jadi yang penting ada aja
Kedua, saya teledornya bukan ngerusakin tapi ngilangin. Jadi yang mureh mureh aja biar gak nyesek
Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
Secara komparatif, kelas pengusaha Indonesia jelek, bodoh, dan gaptek.
Alasannya, mereka muncul bukan lewat kompetisi Darwin, tetapi lewat kroni-kronian.
Salah satu keluarga terkaya adalah keturunan maling yang dulu merampok kayu bulat di Jawa Tengah bareng Kolonel Soeharto.
Setelah Reformasi, terjadi deindustrialisasi dan commodity boom dan sepertinya tren ini malah semakin parah. Kelas pengusaha pribumi yang muncul malah lebih busuk, lebih rampok, lebih malas, dan lebih gaptek.
Ciri khas pengusaha-pengusaha payah, bodoh, dan gaptek ini adalah sangat sibuk di parpol dan politik, karena hanya dari situlah mereka bisa mendapat uang, proyek, dan tanah. Mereka tidak bisa untung lewat cara lain.
Hari ini lebih dari separuh anggota DPR adalah pengusaha semacam ini.
Misal, barangkali ada pengusaha perusahaan pesawat yang kualitas maskapainya sungguh jelek dan menyedihkan, sehingga satu-satunya cara bertahan adalah menjadi waketum partai dan mendirikan monopoli lewat situ seperti mafia.
Beberapa seperti di Cilegon malah secara langsung merampok pengusaha dan bisnis yang datang. Mereka secara praktis sudah bukan lagi pengusaha, melainkan preman yang hanya bisa merampok dan memalak. Entah mengapa preman-preman semacam ini malah iseng masuk ke asosiasi-asosiasi pengusaha.
Mereka tidak mampu dan tidak mau berkompetisi dan berinovasi di pasar yang bebas. Alasannya karena mereka payah, bodoh, lamban, tidak kreatif, dan gaptek.
Orang-orang payah dan lamban seperti ini akan langsung dilindas gepeng oleh kegesitan dan kecerdikan kelas pengusaha, kelas STEM, dan kelas manajerial China dari China, yang lahir dari tiga kombinasi maut antara neraka kompetisi Darwin yang tanpa ampun, dukungan kebijakan industri, dan sistem pendidikan.
@tanyakanrl 1. Sumatera itu pulau, Bali itu provinsi (berarti ts aja gak paham geografi)
2. Turis Bali aja banyak gatau Bali tuh indonesia ☺️ gak se update itu mereka
3. Kalo pun mereka sampe update biasanya melek juga, pasti tau kejadiannya jauh dari Bali ☺️
Dasar oon