ini gila sih. barusan becurhat ke nyokap karna kok pasca umroh nih lumayan darderdor hidup gua
terus nyokap nanya "maren berdoa minta sabar?"
iya lagi....
sama minta ditingkatkan iman....
and the rest is history😀😃😄
@ardisatriawan Lama banget eval gini. Sebulan pertama harusnya emg udah eval soal ini. Minggu2 awal aja udh banyak warga yg kasih feedback, saran, baru di ketoknya pas pengeluarannya udh banyak.. udah pada balik modal kah?
Untuk menjawab ini, sebenernya bisa dilihat dari bagaimana masa muda mereka berdua dihabiskan.
Zaman orde baru, Prabowo lebih sering ditugaskan sama mertuanya jadi komandan operasi militer di lapangan buat tangkap/ciduk target. Dan dari kecil juga emang berhasrat untuk punya kekuasaan politik (Ingin bisa sehebat Sumitro, bapaknya).
SBY? zaman itu dia sering dikirim keluar negeri mewakili ABRI untuk pelatihan dsb karena cerdas dan pintar beradaptasi. Beliau juga gak full militer pendidikannya, SBY punya gelar Manajemen Bisnis dari Amerika sama Ekonomi Pertanian dari IPB. Sisi pendidikan dan pemikiran sipil SBY pun sangat terasa.
Pas zaman orde lama, karena masalah politik di Indonesia, Sumitro dan keluarganya (termasuk Prabowo) sering pindah sana-sini di luar negeri (Ke Swiss, Singapura, Malaysia, Thailand, Inggris, dst). Mungkin ini menjelaskan mengapa Beliau suka jalan-jalan ke luar negeri, (mungkin ya, mungkin... beliau butuh itu buat cari inspirasi, cari temen, dsb. karena pola belajar saat dia kecil begitu).
SBY? Zaman segitu beliau sekolah biasa kayak anak-anak Indonesia lainnya, suka nyanyi (beliau pernah bikin band pas masih SMA), suka main voli, suka nulis puisi. Makanya ini menjelaskan watak beliau di masa menjabat. Alhasil pas beliau rilis album, nyanyi, curhat, atau "mellow" dikit (memperlihatkan sisi manusia biasa) diceng-cengin lawan politiknya.
SBY anak bertalenta yang kemudian jadi militer.
Prabowo? ya begitulah 😂
@sorejhvi Iya kan??? Emang harusnya 20an itu buat mengenal diri lebih baik lagi, karena mulai jadi "orang dewasa". Tapi budaya indo malah nyuruh cepet2 kek dikejar kejar. Cepet lulus sekolah, cepet lulus kuliah, belum lulus udh ditanya kapan nikah, kapan kerja, duh..
Bisa dibuat lebih tajam ke logika kebijakannya, bukan menyerang orang miskinnya:
Guys, gue kadang bingung sama logika sebagian pendukung program MBG.
Ketika ada anak yang bawa pulang makanan buat orang tuanya atau saudaranya di rumah, banyak yang bilang, “Lihat, berarti program ini berhasil.”
Loh, justru itu yang bikin pertanyaan muncul.
Kalau makanan jatah anak sampai harus dibawa pulang untuk dibagi ke keluarga, bukannya itu tanda ada masalah yang lebih besar?
Artinya bukan cuma anaknya yang butuh makan.
Tapi satu keluarga juga sedang kesulitan.
Kalau akar masalahnya ada di ekonomi keluarga, kenapa yang diperbaiki cuma piring makan anaknya?
Kenapa bukan orang tuanya yang dibantu mendapatkan pekerjaan yang layak?
Kenapa bukan pendapatan keluarganya yang diperkuat?
Karena kalau logikanya begini terus, setelah anak selesai makan hari ini, besok lapar lagi.
Setelah program selesai, keluarga itu tetap miskin.
Setelah anggaran habis, masalahnya tetap ada.
Solusi jangka panjangnya tetap pekerjaan, penghasilan yang layak, dan kesempatan ekonomi untuk orang tua.
Karena anak tidak seharusnya menjadi kurir makanan untuk menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Yang seharusnya diselamatkan adalah kondisi ekonomi keluarganya itu sendiri.
Dan satu hal lagi.
Kalau memang peduli soal akhirat, rasa iba, dan kemanusiaan, jangan cuma berhenti pada memberi makan satu kali.
Pikirkan juga bagaimana caranya supaya orang tua mereka bisa bekerja, bisa mandiri, dan bisa memberi makan anaknya sendiri tanpa bergantung pada bantuan selamanya.
Karena sedekah terbaik bukan hanya memberi ikan.
Tapi membantu orang agar bisa mencari ikannya sendiri.
gw jadi keinget pas lagi jaga IGD dan nanya riwayat pasien ditemani istrinya…
👩⚕️: ada alergi obat?
🧔: enggak ada
👩: ada
🧔: enggak ada
👩: ada
👩⚕️: jadi ada atau enggak?
👩: tahun lalu dikasih obat terus bentol semua
🧔: oh iya ya
👩⚕️: …
👩⚕️: riwayat operasi?
🧔: enggak ada
👩: usus buntu 2019
🧔: OH IYA
👩⚕️: …
👩⚕️: obat rutin?
🧔: enggak ada
👩: tiap pagi minum obat darah tinggi
🧔: itu dihitung?
👩⚕️: pak…
👩: makanya saya ikut masuk
hal yang tidak diajarkan di FK:
kadang riwayat penyakit pasien tersimpan lebih aman di memori istrinya daripada di pasiennya sendiri 😭