Tahajjud is the only solution to ur problems. If u get up at night & explain to Allah how ur heart is broken, how devastated u are, & how people have hurt you, Allah will be sufficient for you. The dua u made at tahajjud is always accepted, it's just a matter of ur iman & sabr.
after fajr, try reading surah yaseen. after magrib, try reading surah al waqiah. after Isha, try reading surah mulk and last two verses of surah baqarah. and see how your life changes and become beautiful.
Analisa saya mengenai KTT Board of Peace kemarin di Wash DC (silahkan dikutip) :
BoP sudah mulai bekerja, namun proses ke depan masih rapuh dan penuh risiko | Peran Donald Trump dlm BoP nampak (sangat) dominan | Roda aspek keamanan sudah mulai bergulir dgn pembentukan Palestinian Security Force & International Stabilization Force, namun tantangan di lapangan khususnya terkait demiliterisasi masih sangat berat. Kapasitas Palestinian Security Force (yg akan dilatih Yordania dan Mesir) yg sedang dibentuk utk menjaga keamanan di Gaza masih penuh tandatanya | Saya tidak merasakan empati dari pidato2 pihak Amerika thdp korban jiwa & penderitaan warga Gaza dlm 2 tahun terakhir, bahkan tidak disinggung | Pernyataan seorang anggota eksekutif BoP thdp potensi nilai real estate/bisnis di Gaza (ditaksir sampai $ 150 milyar) tidak sensitif thdp nurani warga Gaza | Sy tidak melihat referensi mengenai aspek "political development" di Gaza dlm masa transisi, umumnya hanya mengenai aspek administrasi | Tatakelola dana yang dikumpulkan BoP masih belum jelas, dan akan banyak disorot | Negara2 Islam & mayoritas muslim dalam BoP sementara ini nampak kompak | Proses di lapangan masih jauh dari "Palestine-led process".
Sy berpandangan perlu ada kejelasan dari Pemerintah apakah pasukan perdamaian 🇮🇩 di Gaza akan menggunakan helmet biru (blue helmet) sbgmana biasanya pasukan perdamaian PBB. Kalau tidak, ini berarti pertama kalinya pasukan perdamaian 🇮🇩 tidak menggunakan blue helmets, dan perlu dijelaskan kpd publik kenapa.
Kita harus "realistis" mengenai keterbatasan peran 🇮🇩 dlm BoP, mengenai kelemahan BoP, dan memperhitungkan risiko BoP menjadi stagnan - bahkan ambruk - krn kepentingan dan visi anggotanya - termasuk Trump, dan Netanyahu - masih berbeda-beda dan pasti akan mengalami perbenturan yg sulit dijembatani.
Sy apresiasi Presiden Prabowo TIDAK mengumumkan kontribusi 🇮🇩 $ 1 milyar utk menjadi anggota permanen BoP, krn memang 🇮🇩 tidak perlu berambisi utk menjadi anggota permanen BoP dan perlu selalu pegang opsi utk keluar dari BOP kalau terjadi penyelewengan misi BoP. Peran sumbang pasukan penjaga perdamaian sudah cukup.
Saya mencatat pidato Presiden Prabowo di KTT BoP tidak menyebut "2 state solution" atau "Palestinian statehood", padahal ini adalah posisi prinsip 🇮🇩. Dalam BoP, Pres Trump perlu mendengar penegasan ini scr langsung dari Presiden Prabowo. Ini juga merupakan titipan utama ormas2 Islam + polugri (yg saya ikut sbg peserta) dlm pertemuan dgn Presiden : keanggotaan 🇮🇩 di BoP harus didedikasikan utk mencapai kemerdekaan Palestina. Sementara, Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turkiye, Pakistan, Maroko semuanya merujuk pd "two-state solution" dlm pidato mrk di KTT BoP. Mudah2an ini hanya oversight Presiden krn waktu bicara yg sempit.
"Two state solution" dan "Palestinian statehood" harus selalu secara EKSPLISIT menjadi rujukan utama pidato Presiden dan Menlu dlm semua forum mengenai Palestina, terutama dlm Board of Peace.
Kita tidak mau BoP disalahgunakan menjadi platform utk membungkam aspirasi Palestina. Tidak cukup Palestina hanya menjadi damai, aman, makmur; tanpa kemerdekaan ("statehood") semua itu tidak ada artinya. #wisdomwithoutfear #speaktruthtopower
#speaktruthtothepeople
@AllahGreatQuran The correct is number 1
Aisha (RA) said " I notice that the Messenger of Allah's ﷺ was not there and he had been with me in my bed, I found him prostrating with his heels together and his toes turned towards the qiblah."
[ Al Bayhaqi, al Sunan Al Kubra, Book on Salah # 2552 ]
Reformasi atau Reuni? Menanti Siapa Wanita yang Berani Masuk Kandang Macan
Tim reformasi Polri ini ibarat kesebelasan sepak bola yang baru sadar kipernya ketinggalan di kamar ganti saat peluit kick-off sudah ditiup; isinya para pendekar hukum dan jenderal bintang empat yang gagah perkasa, tapi mendadak panik mencari satu sosok perempuan karena sadar komposisi timnya terlalu maskulin, terlalu "bapak-bapak", dan berpotensi dianggap reuni para mantan.
Penulis: ET Hadi Saputra, S.H. (23-11-2025)
Ini kejadian langka. Lucu. Tapi juga getir.
Bayangkan. Sepuluh orang pintar berkumpul. Profesor hukum ada. Ahli tata negara ada. Jenderal bintang empat ada. Mantan Menko ada. Tapi tidak ada satu pun yang ingat kaum hawa.
Lupa.
Baru setelah tim diumumkan, Presiden Prabowo—mungkin setelah dibisiki seseorang atau melihat foto tim yang isinya laki-laki semua—meminta tambah satu kursi. Kursi kesebelas. Khusus untuk perempuan.
Saya jadi bertanya-tanya. Di negeri yang penduduknya separuh perempuan ini, sebegitu sulitkah mengingat keberadaan mereka sejak awal perencanaan? Atau jangan-jangan, mentalitas patriarki di tubuh penegakan hukum kita memang sudah sebegitu akutnya? Sampai-sampai untuk tim yang bertugas "mereformasi" pun, pola pikir lamanya masih terbawa.
Mari kita lihat komposisinya.
Ada Pak Jimly. Ada Pak Mahfud. Ada Pak Yusril. Nama-nama jaminan mutu. "The Avengers"-nya hukum Indonesia.
Tapi lihat juga sisi lainnya. Ada Pak Tito. Pak Idham Azis. Pak Badrodin Haiti. Plus Kapolri aktif, Pak Listyo Sigit.
Empat jenderal polisi. Tiga di antaranya mantan Kapolri. Satu masih menjabat.
Ini yang membuat dahi saya berkerut. Ini tim reformasi atau reuni akbar Mabes Polri?
Logika sederhananya begini. Kita ingin membersihkan lantai yang kotor. Tapi sapu yang kita gunakan adalah sapu yang sama yang selama ini ada di gudang itu. Bisakah kita berharap lantai itu bersih?
Para mantan Kapolri ini adalah orang-orang yang dulu membangun sistem itu. Mereka yang meletakkan batu batanya. Mereka yang menyusun SOP-nya. Sekarang, mereka diminta membongkar atau memperbaiki apa yang dulu mereka bangun.
Ada istilah ewuh pakewuh. Ada beban masa lalu. Ada rasa tidak enak hati sesama korps. "Jeruk makan jeruk," kalau kata orang pasar.
Lalu, siapa gerangan wanita yang akan menduduki kursi panas kesebelas itu? Bursa taruhan—kalau ada—mulai ramai. Beberapa nama "srikandi hukum" mencuat ke permukaan.
Ada nama Prof. Harkristuti Harkrisnowo. Begawan hukum pidana UI. Sangat senior, sangat dihormati. Beliau pilihan "aman". Akademisi murni yang paham seluk beluk RKUHP. Masuknya beliau mungkin tidak akan membuat para jenderal di dalam tim merasa terancam.
Lalu ada Irjen Pol. (Purn) Basaria Panjaitan. Ini menarik. Mantan jenderal Polwan bintang dua pertama, plus mantan pimpinan KPK. Beliau paham "jeroan" reserse sekaligus paham cara memburu koruptor. Paket lengkap. Tapi, kembali lagi, beliau juga bagian dari korps baju cokelat.
Ada juga yang menjagokan Bivitri Susanti. Ahli tata negara yang suaranya lantang dan kritis dari sisi masyarakat sipil. Kalau Presiden Prabowo benar-benar ingin ada "duri dalam daging" yang berani mendobrak meja rapat, Bivitri pilihannya. Tapi pertanyaannya, apakah para bapak-bapak di dalam sana siap kupingnya panas?
Atau mungkin, Albertina Ho. Dewas KPK yang dikenal sebagai hakim "tanpa kompromi". Sosok yang lurus dan tegas. Cocok untuk fungsi pengawasan integritas yang seringkali longgar di kepolisian.
Siapapun ibu itu nanti, tugasnya maha berat.
Dia masuk belakangan. Dia sendirian sebagai perempuan. Dia dikepung sepuluh laki-laki alpha. Sebagian besar punya pangkat jenderal atau profesor.
Saya khawatir. Jangan sampai kursi kesebelas ini hanya sekadar "gincu". Kosmetik. Penyejuk mata agar tidak diprotes aktivis gender. Sekadar penggugur kewajiban supaya terlihat inklusif.
Padahal, masalah kepolisian kita terhadap perempuan sangat mengerikan. Kasus KDRT yang laporan polisinya dipersulit. Korban pelecehan yang malah ditanya "pakai baju apa?". Kasus "viral dulu baru diproses". Itu semua butuh sentuhan perspektif perempuan yang tajam.
Untuk anggota kesebelas nanti, ANDA SUARA PENENTU di kandang macan. Jangan cuma diam dan mencatat notulen. Mengaumlah. Kalau perlu, cakar meja rapat itu jika bapak-bapak di sana mulai sibuk bernostalgia. Setiap voting, suara perempuan yang ini menentukan arah angin.
Karena kalau tidak, lebih baik bubar saja. Hemat anggaran.
#reformasiPolri #polisi #hukum #prabowo #mahfudmd #jimlyasshiddiqie #wanita #keadilan #ethadisaputra #kritiksosial