Djarum Group punya Hotel Padma
Wings Group punya Hotel The Apurva Kempinski Bali
Kompas Gramedia Group punya Hotel Santika & Amaris
Sido Muncul punya Hotel Tentrem
Roti O punya d’Prima Hotel
Dan yg terbaru, PT KAI punya hotel bintang 4 di Cihampelas Bandung 👇
pendapat david noah soal 6 saham IPO:
- Underwriter adalah kunci
- track record underwriter lebih penting dari apapun
- HP, KI, LG terbaik sejauh ini
- JELI & PRDL, underwriter Sucor, reputasi bagus, size kecil allotment kecil tapi arah bisa 5-7x ARA bahkan UMA
- JECX — underwriter LG Trimegah, size lebih besar allotment lebih banyak tapi arah lebih pendek sekitar 2-3x ARA
- Strategi dana terbatas
- all in satu IPO saja per hari, pilih yang paling bagus
Tips IPO, pesan di malam terakhir penawaran, pantau antrian order
- semakin oversubs, semakin kecil allotment, semakin panjang arahnya
- Pilih IPO yang barangnya kering
Tips Memilih Underwriter untuk IPO Hunter :
- Cek dulu underwriternya sebelum ambil bagian di e-IPO. HP, KI, LG, Samuel, dan Sucor sering jadi favorit karena track record ARA-nya lebih tinggi.
- Underwriter bereputasi bagus biasanya menghasilkan underpricing yang wajar + demand kuat → harga listing lebih stabil dan berpotensi naik.
- Tidak ada jaminan 100% cuan, tapi statistik menunjukkan underwriter top ini jauh lebih sering memberikan return positif di 1 hari, 1 minggu, hingga 1 bulan.
Tiga pesan dari Pak JS yang selalu saya ingat sampai sekarang soal cara main kita sebagai ritel di pasar saham.
Beliau selalu mengingatkan kalau kita nekat head-to-head lawan big fund, kita jelas bakal kalah telak. Ritel modal jempol jelas bukan tandingannya.
Mereka menang segalanya: modalnya gede, punya akses informasi A1, langganan terminal Bloomberg, dan punya tim analis sendiri.
Tapi, ritel itu punya satu senjata rahasia yang nggak dimiliki big fund: kita nggak punya beban target performa jangka pendek.
Makanya, satu-satunya cara buat menang adalah dengan memanjangkan horizon investasi.
Syaratnya cuma tiga:
1. Beri waktu yang cukup
Jangan berharap instan. Kasih waktu minimal 3 tahun supaya pasar pelan-pelan mengapresiasi nilai dari saham tersebut.
2. Beli perusahaan bagus
3. Beli di harga yang bagus
Selama tiga syarat itu terpenuhi, waktu justru akan jadi teman terbaik kita, bukan musuh.
Bukti nyata bahwa networking sepenting itu.
Meet Prajogo Pangestu.
Nama aslinya Phang Djoen Phen.
Lahir 1944 di Bengkayang, Kalimantan Barat.
Keluarga Hakka miskin. Bapaknya pedagang karet.
Sekolah cuma sampai SMP.
Sekarang kekayaannya Rp362 triliun.
Orang terkaya nomor 1 Indonesia (versi Forbes 2026)
Tapi bukan angkanya yang menarik.
Yang menarik adalah jalannya.
1965. Dia nekat merantau ke Jakarta.
Tidak dapat kerja.
Balik lagi ke Kalimantan.
Jadi sopir angkot rute Singkawang–Pontianak.
Sambil nyopir, dia jual bumbu dapur dan ikan asin.
Tidak ada yang menyangka dia akan jadi apa.
Titik baliknya sederhana banget.
Dia ketemu satu orang di jalanan.
Burhan Uray, pengusaha kayu dari Malaysia.
Prajogo tidak sekadar kenal.
Dia belajar. Dia kerja keras. Dia buktikan diri.
1969 — Masuk PT Djajanti Group sebagai karyawan biasa.
1976 — Sudah jadi General Manager.
Dari sopir angkot ke GM perusahaan besar
Dalam 7 tahun.
1980, Dia keluar dan beli perusahaan kayu yang hampir bangkrut.
CV Pacific Lumber Coy.
Beli pakai pinjaman BRI.
Lunas dalam setahun.
Perusahaan itu kemudian jadi PT Barito Pacific Timber.
Melantai di bursa 1993.
Tapi yang bikin dia benar-benar kaya bukan kayu.
2007 — Dia pivot besar-besaran.
Akuisisi 70% saham Chandra Asri, perusahaan petrokimia terbesar Indonesia.
Nama perusahaannya berganti jadi Barito Pacific.
2022 — Masuk energi terbarukan.
Ambil kendali penuh Star Energy, salah satu perusahaan panas bumi terbesar di dunia.
2023 — Dua perusahaannya sekaligus IPO di BEI: CUAN dan BREN.
Orang yang dulu jual ikan asin
Sekarang pegang bisnis energi hijau senilai ratusan triliun.
Yang bikin gue mikir dari kisah ini:
Dia tidak punya koneksi keluarga.
Tidak punya gelar universitas.
Tidak punya modal awal yang besar.
Yang dia punya:
→ Mau belajar dari orang yang lebih tahu
→ Tidak gengsi mulai dari paling bawah
→ Tahu kapan harus pivot, dari kayu ke petrokimia ke energi hijau
→ Berani ambil utang untuk beli peluang yang dia yakin
Dan yang paling underrated:
Dia low profile sampai sekarang.
Di saat kekayaannya ratusan triliun,
Dia masih jarang muncul di media.
Bukan soal dari mana kalian mulai.
Tapi soal siapa yang kalian temui,
Apa yang kalian pelajari dari mereka,
Dan kapan kalian berani beli peluang yang orang lain takut ambil.
Setelah tau mana2 yg akan di beli cari saham yg :
1) Volume paling tinggi
2) Candle masih rapi (belum spike panjang)
3) Dekat resistance (mau breakout)
Hindari:
1) Sudah naik panjang (FOMO zone)
2) Tiba-tiba lonjak ekstrem (rawan distribusi)
Entry posisi penting nya
Tahukah Anda, tempe goreng tepung seperti ini akan lebih awet renyahnya jika
- kamu pakai tepung singkong/tapioka dan tepung beras sebagai tambahan pada tepung terigu yang kamu pakai.
- kamu pakai air es buat bikin adonan krispinya
- kamu tambahkan baking powder
- kamu tambahkan sedikit margarin pada adonan
- kamu goreng pakai teknik deep frying
- kamu tiriskan tempe yang sudah digoreng DENGAN TIDAK DITUMPUK
Penjelasan Lengkap Rumus BULLENGILFING 🔥
Supaya temen-temen ngerti maksud rumus yang aku bagikan, aku buat video jelasinnya secara sederhana.
Tangan lagi kriting parah soalnya kebanyakan main di Jepang 😂 Kejar impression yang naiknya pelan.
Makasih supportnya guys! GBU 💪
#trading #screener #saham