@worksfess Ditempat kerja ya emang tempatnya kerja nder. Jangan fokusin sosialisasi. Tapi tetep coba membuka pintu pertemanan. Jangan nunggu mereka yg nyapa. Dimulai dari diri sendiri yg nyapa duluan.
Disadari atau tidak, ekonomi kita tidak ramah kelas menengah apalagi kelas bawah...
Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan jadi 5,75%. Naik total 100 bps dalam sebulan terakhir (MeiβJuni 2026). Tujuannya jelas: jaga stabilitas rupiah dan kendalikan inflasi di tengah gejolak global (konflik Timur Tengah, risiko inflasi dunia, dan penguatan dolar AS).
Rupiah memang sempat melemah, dari Rp17.666 (18 Mei) jadi Rp17.826 (18 Juni). Tapi ongkos stabilitas ini lagi ditanggung kelas menengah.
Cicilan KPR, KKB, dan kredit konsumsi langsung terasa lebih mahal. Proporsi cicilan masyarakat naik dari 9,7% jadi 10,2% di Mei. Suku bunga kredit baru juga naik dari 8,95% jadi 9,31%. Kelas menengah yang punya pinjaman floating langsung kena getahnya.
Dunia usaha, khususnya UMKM yang banyak dijalankan kelas menengah, juga ikut tertekan. Biaya dana naik, rencana ekspansi direvisi, investasi ditunda, dan ada risiko pengurangan tenaga kerja. Ekonom Mohammad Faisal bilang, usaha kecil yang dijalankan kelas menengah bisa kena dampak paling keras.
Para ekonom lain (Josua Pardede & Shinta W. Kamdani) mengingatkan: stabilitas memang penting, tapi jangan sampai kenaikan suku bunga justru memukul kredit, konsumsi, dan penciptaan lapangan kerja. Perlu ada dukungan fiskal yang lebih kuat supaya bebannya tidak hanya ditimpakan ke masyarakat.
iya sih...
stabilitas rupiah dan inflasi itu tujuan yang benar. Tapi siapa yang bayar mahalnya? Lagi-lagi kelas menengah yang sudah paling rentan.
Ekonomi yang sehat seharusnya tidak cuma soal angka makro, tapi juga soal keadilan beban.
*sambil makan sate Maranggi
@Kwitiaww@_miss_lian_@lastefenny@JubirGenZ@sanflawj@OghieGigs@id_lgk@ChelseaEleven@budi