Segrombolan masa turun dari bus memakai ikat kepala putih (Entah itu tanda atau apa), yang jelas BESAR kemungkinan dia penyebab kerusuhan atau PROVOKATOR dibalik kerusuhan yang terjadi malam ini.
yuk pulang yukk, jangan mudah terpancing
Pemerintah piara preman (grib) beginilah jadinya😇
Terpantau hercules turun kejalan pimpin anggotanya dan memukuli ojol di tempat sepi dengan membawa kayu balok & bambu,
Tapi berhadapan dengan masa STM, mereka lari tunggang langgang
Demo di depan DPR memakan korban jiwa.
Bambang Setiawan, pedagang cermin berusia 60 tahun MD dikeroyok orang tak dikenal di Jalan Pejompongan Raya.
Keluarga mengetahui korban MD setelah melihat video yang sempat viral di sosial media.
SUKA BGT SAMA GAYA BICARA IBUNYA, KAYAK NETIZEN YG LAGI CURHAT
beberapa point yg disampaikan ibunya:
𖥔 ga percaya RUU perampasan aset kalau ga ada hukuman mati. nanti bisa diboong-boongin asetnya
𖥔 pengedar narkoba bisa dihukum mati, kok koruptor ga dihukum mati?
𖥔 ga percaya DPR
𖥔 koruptor bikin rakyat Indonesia sengsara. hukum mati para koruptor kalau pingin lihat rakyat sejahtera
𖥔 kalau hukum mati gamau disahkan, gimana kalau koruptor digebukin aja sama seluruh rakyat Indonesia?
𖥔 marahin wakil rakyat yg enak-enak ngadem di ruangan ber AC tapi rakyat di luar sana sengsara
buat buzzer, klo masih bingung bedain mahasewa & mahasiswa, ini baru namanya mahasewa ya
logistik bukan sumbangan atau patungan, tapi dari aparat, demo dijagain dengan model formalitas, asal usul univ & status keaktifan mahasiswa-nya aja diragukan (almet pasar senen)
It’s giving Kdrama scenes fr 😭😂
The Jeju Police Department apologized and agreed to reopen all the missing persons cases that were falsely closed by that corrupt police officer.
I hope they take this seriously and catch the serial killer or traffickers responsible.
A Jeju police officer was arrested today for deliberately shutting down missing-person cases — not one or two, but roughly 298 of them. He told families their loved ones were safe, then quietly deleted the cases from the missing-persons system.
The case cracked open because of Jang Mi-ran's disappearance, which turned out to expose a far larger cover-up.
Jang Mi-ran, 37, went missing on May 12.
Her boyfriend reported it, and the officer assigned to the case told him he'd reached her, that she was safe, and that she didn't want her location shared — then closed the file that same night. It later emerged there was no record police had ever actually contacted her.
Once the officer was identified and implicated, investigators went back through his past cases. Between August 22 and 24, they found four bodies of people who had been reported missing — Jang Mi-ran among them, found 104 days after she disappeared, just a few minutes' walk from where she'd been staying. The other three were men, two in their 60s and one in his 70s.
Since prosecutors' authority to conduct supplementary investigation was abolished, public anxiety has been mounting over how a single officer could kill hundreds of cases with almost no way for anyone to catch it.
Video: the family, enraged, confronts the officer. (Chanel A News)
Emang bangsaat semua ya penjudol itu😡😠
Kakak ini cerita kalau awalnya dia cuma mau beli makanan di Ayam Gembus, Joglo.
Dia bayar pakai QRIS seperti biasa. Tapi setelah transaksi selesai, baru sadar kalau QRIS yang dipakai ternyata diduga terkait dengan judi online.
Kakak ini pun langsung khawatir:
“Aku cuma scan dan bayar makanan. Aman nggak ya e-wallet-ku? Bisa dilaporkan nggak ke pihak Ayam Gembus?”
Lalu ada yang mengaku bekerja di konter ikut menjelaskan bahwa QRIS yang terhubung dengan aktivitas judi online bisa terdeteksi dalam sistem.
Satpam Ditemukan Tewas dengan Tangan Terborgol dan Mulut Dilakban di Tanggul Hayat Jatiluhur, Diduga Sempat Tegur Pelaku Vandalisme Duka mendalam menyelimuti keluarga dan rekan-rekan sesama petugas keamanan (satpam) setelah seorang anggota satpam ditemukan meninggal dunia di kawasan Tanggul Hayat, Jatiluhur. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan kedua tangan terborgol dan mulut dilakban di perairan danau setempat.
Jasad korban kemudian dievakuasi oleh warga bersama aparat kepolisian.Berdasarkan informasi yang beredar dan keterangan dari warga serta rekan-rekan korban, peristiwa ini diduga bermula ketika korban menegur sekelompok remaja berseragam sekolah yang diduga melakukan aksi vandalisme atau corat-coret di sekitar fasilitas publik. Korban yang saat itu tengah menjalankan tugas menjaga ketertiban kawasan disebut berupaya menegur para pelaku. Namun, teguran tersebut diduga memicu aksi kekerasan yang berujung pada penganiayaan terhadap korban. Korban diduga dianiaya, kedua tangannya diborgol ke belakang, mulutnya dilakban, sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di perairan danau.
Hingga saat ini, penyebab pasti kematian korban dan kronologi lengkap kejadian masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Identitas serta jumlah pelaku juga masih didalami oleh aparat penegak hukum. Kasus ini menyita perhatian publik dan menuai keprihatinan mendalam. Keluarga serta rekan-rekan korban berharap pihak kepolisian dapat mengusut tuntas peristiwa tersebut dan memberikan keadilan bagi korban.Catatan:Informasi mengenai keterlibatan oknum pelajar dan motif kejadian masih berupa dugaan yang beredar di masyarakat dan belum menjadi keterangan resmi dari pihak kepolisian.
Oleh karena itu, seluruh fakta hukum masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.