Lantas, apakah aku menyesal telah menjadi Nun,
menginginkanmu yang Lam?
dihukumi semesta sebagai Idgham Bilaghunnah:
tak terbaca, meski tepat di depanmu.
Sedikit pun tidak, Kekasih.
Sebab, segala yang termaktub dalam kitab suci adalah kesempurnaan bagi takdirku.
@PelangiPuisi
Barangkali benar,
patah hati terbesar seorang Ibu ialah ketika ia hanya mampu memanjangkan angan—
berandai-andai, kapan dapat memeluk anaknya (seperti dulu, mungkin)
yang hingga detik ini,
ia tak pernah tahu,
sepanjang apa angan itu akan membuatnya menunggu.
Beda kepala, yaa beda pemikiran, dan tentunya beda pula seleranya.
Gimana jadinya, kalau dipaksa nurutin maunya semua kepala -_-
Setidaknya bisa lah ya, empati dikit :)
Orang tua di rumah setengah mati, pontang-panting, siang-malem doain anaknya sehat-sehat, lekas sembuh sakitnya.
Eh, kok malah enteng banget ngedoain hal buruk terjadi ke anak orang.
Bila nanti,
Kau cari aku pada detik-detik sebelum terlelap—
aku baik.
Sungguh, aku baik-baik saja.
Barangkali hanya egomu yang sedang tak baik.
Letih, mungkin hidup pada tingginya hatimu.
Turunkan sedikit;
rupaku, ada di balik bantalmu.
@PelangiPuisi
Bu, mengapa belakangan aku justru membenci waktu—
yang memutihkan rambutmu,
yang menanggalkan satu per satu gigimu,
yang mengerutkan kulit kecoklatanmu.
Bu, tak bisakah kita sembunyi saja dari kejaran waktu?
Jangan urai pelukanku.
Sungguh, aku tak ingin esok tiba.
~@miit_MJ
Bu, mengapa belakangan aku justru membenci waktu—
yang memutihkan rambutmu,
yang menanggalkan satu per satu gigimu,
yang mengerutkan kulit kecoklatanmu.
Bu, tak bisakah kita sembunyi saja dari kejaran waktu?
Jangan urai pelukanku.
Sungguh, aku tak ingin esok tiba.
@PelangiPuisi
"Terus nasib kerja shift piye Ners?"
Nah, kalau shift ya otomatis mengubah jam biologis. Tapi ya apa boleh buat? Masa mau resign?
Siasatinnya aja dg memanipulasi lingkungan.
Ketika kerja, jadikan lingkunganmu penuh cahaya seakan memberi sinyal pada tubuh kalau hari masih siang.