orang yg sering refleksi dan orang yg ga pernah refleksi itu kelihatan banget bedanya dari cara mereka membawa diri atau pas ngobrol sama orang lain. penyampaian orng yg sering refleksi mostly lebih humble karna mereka paham kalau mereka punya batasan dan kekurangan.
Yaelah di-block lagi 😂
Dia ngelempar argumen di publik --> ada yg menyanggah --> eh orang yg menyanggah langsung di-block
Masa lo gak ada niat mertahanin argumen lo sendiri? @malwanre kaga asik ah
bukan ga mau makan di warteg, tapi kita bungkus dan bawa pulang soalnya sebel pas makan asap rokok ngebul dimana mana (soalnya di negara ini yang bener kudu ngalah)
Halo KAI.
Jujur aku jarang banget ke toilet gerbong kalau nggak kepepet. Soalnya kebayang bau pesing, toiletnya sempit, terus dipakai bareng laki-laki sama perempuan.
Tapi karena udah kebelet, akhirnya aku ke toilet. Pas baru mau buka pintunya, langsung bengong bentar. Kali ini masuk toiletnya bener-bener lega.
Toiletnya bersih, kering, dan wangi banget. Maaf ya kalau aku kelihatan ndeso, tapi pas lihat toilet se-UNYU ini langsung cekrek terus upload. ♥️♥️ Tau aja selera kami. 🥰🥰
@kai121_
Btw, aslinya malah lebih unyu lagi. 🩷🩷
Ngerasa dosa banget habis shopeefood pisang pasir coklat jam segini, tapi keinget kalo mungkin aja ada orang seumuran gweh yg sedang melakukan tindak kriminal jam segini. Yh gapapa lah pisang pasir sekotak
Narasi “perempuan bisa melakukan apa saja tanpa laki-laki” atau sejenisnya yang sering beredar di internet memang bukan pernyataan eksistensialisme atau klaim biologis literal.
Tapi, lebih sering berfungsi sebagai retorika perlawanan terhadap stigma yang sudah lama mengakar:
- “perempuan mah bisa apa”,
- “perempuan mana paham”,
- “perempuan nggak kuat kerja berat”,
- “perempuan cuma cocok masak/urus rumah”, dll dsb dst and so on.
Dilihat dari konteks kritik sosial, slogan semacam itu bertujuan menolak batasan yang dipaksakan secara kultural, bukan menolak kenyataan bahwa manusia dilahirkan melalui reproduksi seksual yang melibatkan kedua jenis kelamin, atau bahwa masyarakat modern tetap saling bergantung secara praktis (ekonomi, keamanan, pengasuhan anak, dll.).
Kesalingan antara laki-laki dan perempuan itu nyata dan memang tidak bisa dihapus. Tidak ada manusia yang “magically appear” tanpa sejarah biologis yang melibatkan laki-laki dan perempuan.
Fokus yang digeser seolah-olah perempuan bisa eksis dan berkembang dalam ruang hampa adalah kekeliruan. Terus, kekeliruan yang sama terjadi ketika kritik terhadap stigma tersebut langsung dibingkai sebagai penyangkalan total terhadap interdependensi. Kedua hal itu sangat menyederhanakan persoalan.
Kritik yang sehat terhadap stigma patriarki justru sangat sah dan diperlukan. Yang tidak produktif adalah mengubahnya menjadi klaim bahwa interdependensi biologis/sosial bisa diabaikan.
Terkait pertanyaan masnya, pengakuan yang jujur terhadap kesalingan justru memperkuat argumen otonomi, di mana perempuan dan laki-laki membutuhkan ruang untuk mengembangkan kapasitasnya tanpa batasan yang didasarkan pada stereotip gender, sambil tetap mengakui realitas tubuh, reproduksi, dan kerjasama sosial yang tidak bisa dihapus.
Mengapa demikian? Karena perempuan dan laki-laki itu setara.
Malah aku punya pertanyaan juga, mengapa sulit mengakui bahwa “laki-laki menciptakan sistem yang mengopresi otonomi perempuan”?
Berarti gw mendidik anak-anak jadi anak yang "ga baik" 😁.
Sejak piyik mereka gw biasakan speak up ketika ada yang crossing boundaries, bahkan ke orang yang lebih tua sekalipun.
But then, ibunya juga bukan "orang baik".
I have strong boundaries. Gw percaya menghormati orang lain itu penting, tapi menghormati diri sendiri juga sama pentingnya.
Anak-anak gw gw ajarin bahwa sopan bukan berarti harus diam. Respek bukan berarti harus mengiyakan. Dan memaafkan bukan berarti membiarkan orang mengulang hal yang sama.
Kalau ada yang melanggar batas, boleh bilang tidak, boleh keberatan, dan wajib membela haknya dengan tegas.
Menurut gw, itu bukan mengajari anak ndak sopan ke orang tua -- itu ngajari cara menghargai dirinya sendiri.
@Wawasofe Yudh cewek suruh pada kerja di tambang, nyangkul dll.
Faktanya kalian itu emang fisiknya ga sekuat kita.
Feminist cari apa sih? Kerja bisa, sekolah bisa, cerai bisa, terus koar2 cari apa?
Ujung2nya semua cewek itu berlutut di laki laki mapan.
si pembenci feminist ketika argumennya dijawab sesama laki (((SARKAS)))
tp balesan dari para perempuan dia bales2in dengan sok pinter fafifu panjang lebar ga ada intinya
Menurtku hal kayak gitu sulit utk diterapkan di indo karna mostly perempuan indo masih dibebani ekspektasi utk menikah.
Klo langsung dihardik "feminist gadungan" ku yakin org2 lebih memilih mepet ke budaya dan agama yg terasa welcome daripada "ajaran barat" yg ga ngerti situasi.
#SexualAssaultAwareness
Kekerasan seksual BUKAN datang dari ketidakmampuan mengontrol lust/hawa nafsu aja, tapi juga dari keinginan untuk mengontrol dan mendominasi.
Aku liat banyak yang mengatakan "kontrol your k*ntol", yuk belajar kenapa pernyataan ini keliru