@gulakueputu Udh 3 kali bolak balik ke post ini, but hey u r cool anz-! Cant say we belong to the same category but i also love green? Like plant veggie flower, algae, tree (also), and color green in general. Havenot fully cured my internal h-p*bia tho so, better saying it than not U R COOL!
If you can’t put yourself in someone else’s shoes, then you probably won’t ever understand why it hurts them. Something that feels trivial to you can mean so much more to someone else.
We can’t control how people feel, but we can control how we treat them. Sometimes just having enough empathy to say “I’m sorry” or explain yourself can make a huge difference especially when someone is already asking themselves, “What’s wrong with me?”
And when your response is “alah, gitu doang baper,” that’s exactly the point. You don’t understand because you’re judging their feelings based on how you would feel, instead of trying to understand how they feel.
Empathy doesn’t mean you have to stay friends with everyone or sacrifice your own boundaries. You’re allowed to walk away. JUST DON'T FORGET THAT BOUNDARIES AND KINDNESS DAN COEXIST.
Sedikit berbagi pengalaman. Saya pernah didiagnosa depresi, bipolar, dan gangguan cemas. Sempat 2 kali mencoba bunuh diri.
Pengalaman ini adalah sesuatu paling traumatik dan menyeramkan yg sangat saya takutkan jika terjadi lagi.
Rasanya tdk enak ya teman2, krn rasanya kamu tdk punya kendali atas dirimu sendiri, sedangkan org lain tdk akan pernah bisa 100% paham apa yg kamu alami kalau mereka tdk mengalaminya langsung, penyakit aneh yg suka dibilang halu krn tdk terlihat sakit di fisik. Kita yg sakit mental jg tidak pernah minta diposisi ini.
Untuk menyadari kamu sakit saja tdk mudah, apalagi meyakinkan diri untuk minta pertolongan, saat sdh berobat pun perjuangan msh panjang (psikoterapi, psikotropika, pola hidup, relasi, lingkungan)
Kabar baiknya saya sudah pulih, sdh lepas obat 4 tahun ini, dan bisa beraktivitas normal kembali.
Hidup sudah berat, tolong jgn jahat2 jadi manusia 🙏🏻
Kayanya kalau gua masuk ilkom atau psikologi gw bakal buat penelitian kenapa anak muda jaman sekarang bnyk yg gagap komunikasi. Ga tau cara komunikasi asertif, meyelesaikan masalah.
Menurut mereka kabur dan menghilang = menyelesaikan masalah padahal aslinya mereka ngubur
I do this a lot, actually. Sometimes I don’t have the energy to interact with anyone, but I still scroll through social media now and then to see what my friends are up to and make sure they’re doing okay.
Oh, sama satu lagi yang cukup mengganggu...kayaknya kita juga mulai kehilangan kemampuan untuk appreciate something that is simply enough, karena terlalu sibuk dengan pikiran “I deserve better.”
Of course you do. We all do. Tapi kalau selalu berpikir pasti ada yang better -c-