seorang psikiater pernah bilang, "orang depresi itu sangat butuh teman, di depan umum dia itu bisa ketawa, senyum, bahkan terlihat santai, tapi ketika dia udah sendirian baru lah dia mulai murung dan mengurung diri, jadi solusi buat orang depresi itu sebenarnya adalah jangan pernah meninggalkan mereka sendirian,"
tapi sayangnya gak semua orang paham
Menurut psikologi
Kalau seseorang tiba-tiba kehilangan motivasi, maunya tidur terus, sudah tidak lagi menikmati hal-hal yang dulu disukai, merasa kehilangan semangat, jadi lebih sensitif, mudah tersulut emosi oleh hal-hal kecil, mulai mengabaikan diri sendiri, pola makan berantakan, dan tidurnya tidak teratur...
Belum tentu itu karena dia malas.
Bisa jadi tubuh dan pikirannya sedang mengalami burnout, kelelahan mental yang membuat semuanya terasa berat. Bahkan, ada seseorang yang sampai merasa asing dengan dirinya sendiri.
Hiduplah sebaik mungkin sampai kamu lupa, pernah ada yang memperlakukan mu dengan buruk. Bukan untuk membuktikan apapun kepada siapapun.
Bukan supaya mereka menyesal, tapi supaya hidupmu tidak lagi dikendalikan oleh luka lama. Pernah ada orang yang menyakitimu, bukan berarti kamu kurang, namun karena mereka tidak mampu bersikap sehat. Hidup dengan baik itu bentuk pemulihan. Bangun versi dirimu yang tenang, punya arah, punya hidup yang utuh, tanpa menyeret kembali masa lalu.
Sampai suatu hari kamu ingat pernah disakiti, tapi tidak lagi merasa apa-apa, dan itu bukan lupa karena menekan, tapi karena kamu sudah tumbuh.
...Kalau kita mau fair+sportif, sebenarnya juri² tsb gak salah.
Juri cowo:
Dengan suara tenang jelasin bahwa jawaban yg diucapkan siswi tsb kurang jelas.
Juri cewe:
Dengan suara tinggi mengatakan bahwa jawaban dari murid perempuan tsb diucapkan dengan artikulasi kurang jelas.
Faktanya yah memang kalau kita dengarkan baik² di tayangan ulang terlihat sangt jelas bahwa jawaban yang diucapkan peserta siswi tsb sangat baik artikulasinya.
Jadi si juri cowo melakukan manipulasi dengan ketenangannya.
Sementara juri cewe melakukan gaslighting ke siswi tsb.
Inilah yg gw bilang bahwa kedua juri tsb sebenarnya gak salah.
Mereka adalah representasi sosiologis yang bisa dilihat pada wakil² rakyat di gedung DPR:
1. Denial
2. Tidak mau mendengar
3. Gaslighting
Itulah budaya bangsa kita... (``,)
iya juga ya, kenapa anak kecil (termasuk aku waktu kecil) punya ketertarikan sama kereta api?
hampir semua anak kecil loh ya, lintas negara, lintas budaya, suka transportasi ini. sampe ada animasinya loh ya, thomas.
nah, setelah kubaca-baca nih ya, beberapa penjelasan malah kek bilang otak anak-anak tuh dirancang jatuh hati sama kereta.
pertama, anak kecil punya ketertarikan alami dengan benda yang bergerak secara berulang dan bisa diprediksi.
lihat kereta api, dia bergerak di jalur yang sama, dengan ritme yang sama, ke arah yang bisa ditebak.
ternyata, di dunia anak kecil yang penuh dengan hal baru dan seringnya ngebingungin mereka, kereta api tuh jadi sesuatu yang konsisten. kereta datang, pergi, kembali lagi, ga bikin kaget dan ga tiba-tiba berubah.
dalam masa belajar memahami dunia, sesuatu yang bisa diprediksi itu menyenangkan.
kedua, di pandangan anak kecil, kereta bisa jadi raksasa yang jinak. besar, kuat, bersuara, bergetar, tapi ga nyerang, ga mengancam, lewat doang wkwkwk
buat mereka, bisa melihat kereta api tuh luar biasa keren. bayangin, kita bisa melihat benda besar, powerful, tapi aman untuk ditonton hahaha anj ngikik ngetik ini 😭😭
ketiga, kereta juga menawarkan stimulasi multisensori yang jarang ada di tempat lain. ada suara, gerakan, visual besar, dan beberapa kereta ada bau khas kek asap walaupun sekarang udah jarang kereta uap.
dan tau ga, menariknya, ketertarikan pada benda beroda kek kereta bukan cuma fenomena pada manusia. pernah ada juga eksperimen yang ngasi mainan ke sekelompok monyet, tebak monyet jantan pilih apa?
betul wkwkwk, monyet jantan secara konsisten memilih mainan beroda. artinya ada komponen biologis di balik ketertarikan ini, bukan cuma pengaruh budaya.
kita semua sayang kereta api 🩷
sumber bacaan lainnya:
https://t.co/mq0bXoOqCu
https://t.co/QVeRRwnlL0
Fokus perhatiannya mestinya kan ke daycarenya, kenapa kok mereka setega itu… ini kok malah ke orang tuanya, kenapa kok nitipin anaknya. Bodoh boleh aja sih, tapi mbok ya bodoh tu jangan kebangeten. Bodoh kok permanen.
Kebanyakan orang kenal dia dari AADC.
Tapi setelah film itu tayang, dia hampir menghilang total dari infotainment.
Nggak ada gosip. Nggak ada drama. Nggak ada kehidupan pribadi yang dijual ke media.
Di era di mana semua orang rebutan sorotan, dia justru memilih diam.
Nicholas Saputra adalah pendaki serius.
Dia sudah jejak kaki di Gunung Rinjani, Kilimanjaro Afrika, hingga pegunungan di Amerika Latin.
Bukan untuk konten. Bukan untuk followers.
Dia mendaki karena dia memang mencintai alam, jauh sebelum naik gunung jadi tren di Instagram.
Dia bukan cuma peduli lingkungan di caption.
Nicholas aktif terlibat langsung dalam kampanye pelestarian hutan dan isu perubahan iklim di Indonesia.
Beberapa kali hadir di forum internasional, bukan sebagai selebriti tamu, tapi sebagai aktivis yang bicara dengan data.
Di industri hiburan yang menjual kehidupan pribadi sebagai konten,
Nicholas Saputra memilih jalur yang berlawanan.
Pendaki. Aktivis. Aktor.
Dan mungkin itulah yang bikin dia tetap relevan sampai sekarang, tanpa harus berisik.
Respect 🫡
Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
Hemm ini perlu diluruskan kak. Pengecualian memang ada, tapi bukan karena omzet 15M. Pengecualiannya hanya untuk Usaha Mikro dan Kecil yg diatur dalam PP No. 36 Tahun 2021 dan PP No. 7 Tahun 2021 tentang UMKM.
Prasyaratnya adalah, Upah boleh di bawah UMK, tapi harus berdasarkan kesepakatan pekerja–pengusaha dgn batas minimum tertentu, yaitu, ≥ 50% dari rata-rata konsumsi masyarakat
atau ≥ 25% di atas garis kemiskinan. Jadi bukan dr nominal omsetnya.
Salah.
Dulu langganan koran harian, tabloid mingguan, majalah bulanan, beli buku, kaset dan cd tiap bulan.
Sering self reward juga.
Kalau dinilai secara inflasi jauh di atas pengeluaran anak sekarang.
Tapi tetap kebeli rumah.
@Red13Maxi Real, kalo udah berhenti lama tapi terlanjur sakit masih bisa lah dibantu, tapi kalo sehari sebelum masuk rumah sakit masih sebat, ngapain dibantu ntar pulang pulang juga ngerokok lagi
Cewe beli sushi 100 ribu jadi kalori.
Cowo beli rokok 20 ribu jadi kemoterapi senilai 5 juta tiap sesi yang dibayarin pake pajak orang orang yang ga ngerokok lewat BPJS.
Ngerokok itu kesengajaan kaya self-inflicted harm, harusnya diperlakukan kaya orang percobaan bunbun yang ngga dicover BPJS.