Beberapa hari lalu saya melihat postingan IG @studisejarah ada foto Bung Karno sedang menari dengan seorang perempuan di Istana Cipanas tahun 1963 Saya perhatikan fotonya baik-baik, ada wajah yang raut mukanya saya kenal. Siapakah penari itu?
Kadang suka mikir, “Worth it gak sih bersuara di Indonesia?”
Apalagi kalau lihat orang-orang kayak Afu, Salsa, yang progresif malah di-framing. Tapi malah justru itu tandanya suara mereka penting.
Kalau gak penting, gak akan diusahakan bungkam kan?
Amazing Lesson Design Outline - Miguel Guhlin, this is a helpful resource based on research-based classroom strategies packed with lots of useful links. Great for anyone looking for something new in their teaching practice or those just starting out.
https://t.co/Q7X2UAKq63
Apa yang bisa kita lakukan sebagai pendidik, orang-tua dan khalayak umum yang PEDULI pendidikan?
Bersuara. Mari berargumen berbasis bukti. Mari berargumen dengan logika.
Pendidikan Indonesia mengalami kemunduran. Disaat negara lain sudah pesat berlari maju, Indonesia kembali mundur. Pendidikan harusnya menjadi PRIORITAS suatu negara. Bukan nomor sekian. Kapan kita akan terus ketinggalan?
Pendidikan Indonesia mengalami kemunduran. Disaat negara lain sudah pesat berlari maju, Indonesia kembali mundur. Pendidikan harusnya menjadi PRIORITAS suatu negara. Bukan nomor sekian. Kapan kita akan terus ketinggalan?
Guru jadi punya jam ngajar yang adil. Siapa sih yang bilang guru butuh jam ngajar? Guru butuh kesejahteraan dan kompetensi mengajar, bukan jam ngajar. Kalo skema jam ngajar jadi perhitungan honor, pemerintah perlu cari cara agar guru bisa sejahtera, bukan mengorbankan kebutuhan murid. Kebutuhan akan pilihan dan minat murid.
Guru jadi punya jam ngajar yang adil. Siapa sih yang bilang guru butuh jam ngajar? Guru butuh kesejahteraan dan kompetensi mengajar, bukan jam ngajar. Kalo skema jam ngajar jadi perhitungan honor, pemerintah perlu cari cara agar guru bisa sejahtera, bukan mengorbankan kebutuhan murid. Kebutuhan akan pilihan dan minat murid.
Berbasis kebutuhan pemerintah, bukan berbasis kebutuhan MURID. Padahal yang belajar siapa? Yang ngejalanin siapa? Mana kajiannya? Mana analisis datanya? Mana forum diskusinya? Mana pelibatan para ahli pendidikan? Mana transparansinya?
Berbasis kebutuhan pemerintah, bukan berbasis kebutuhan MURID. Padahal yang belajar siapa? Yang ngejalanin siapa? Mana kajiannya? Mana analisis datanya? Mana forum diskusinya? Mana pelibatan para ahli pendidikan? Mana transparansinya?
Murid tidak bisa lagi MEMILIH berdasarkan MINAT. Karena sekali lagi, nilai angka rapor yang jadi patokan? Lho, kan bisa jadi motivasi dong buat murid, kalo suka sains ya harus bagus nilai sainsnya. Gimana mau suka coba? Kalo motivasinya masih eksternal. minat itu kan motivasi internal. Padahal di kurikulum merdeka SMA sudah mulai diberikan pilihan mapel. Bukan langsung dijuruskan.
Murid tidak bisa lagi MEMILIH berdasarkan MINAT. Karena sekali lagi, nilai angka rapor yang jadi patokan? Lho, kan bisa jadi motivasi dong buat murid, kalo suka sains ya harus bagus nilai sainsnya. Gimana mau suka coba? Kalo motivasinya masih eksternal. minat itu kan motivasi internal. Padahal di kurikulum merdeka SMA sudah mulai diberikan pilihan mapel. Bukan langsung dijuruskan.
Anggaran uang negara dan daerah? Jangan harap untuk pengembangan kompetensi guru. Anggaran untuk bikin soal, distribusi soal, cetak soal, atau aplikasi soal.
Anggaran uang negara dan daerah? Jangan harap untuk pengembangan kompetensi guru. Anggaran untuk bikin soal, distribusi soal, cetak soal, atau aplikasi soal.
Ketika kuliah kaget karena tugas riset, presentasi tidak pernah dilatih karena ketika zaman sekolah, yang dilatih hanya mengerjakan soal tes, untuk UN.
Ketika kuliah kaget karena tugas riset, presentasi tidak pernah dilatih karena ketika zaman sekolah, yang dilatih hanya mengerjakan soal tes, untuk UN.
Kepsek dan administrator sekolah harus subuh-subuh ambil soal yang dijaga semalam suntuk, karena tidak percaya takut soalnya bocor. Jadi ada ketidak percayaan, jadi was-was dan takut.
Kepsek dan administrator sekolah harus subuh-subuh ambil soal yang dijaga semalam suntuk, karena tidak percaya takut soalnya bocor. Jadi ada ketidak percayaan, jadi was-was dan takut.
Guru-guru pusing ngajarin cara ngerjain soal UN sampe waktu habis untuk try out berulang-ulang. Waktu dikelas bukan untuk kreativitas dan nalar kritis, tapi untuk ngakalin jawaban.