ternyata ada orang yang bertahan hidup cuma karena dia tahu bunuh diri itu dosa. so guys, please be kind, be nice, be positive, be genuine. because you never know what someone is going through in this cruel world.
gue mau cerita tentang temen gue.
sebut aja dia R.
dulu gajinya 7 juta.
dan tiap kali kami ngobrol, dia selalu bilang satu kalimat yang sama:
"Val, nanti kalau gaji gw udah 15 juta, baru deh gw bisa nabung. Baru deh hidup gw beres."
gue dengerin. gue angguk-angguk. gue percaya.
tiga tahun kemudian, gajinya beneran naik.
bukan 15 juta.
17 juta.
gue seneng banget waktu dia kabar. gue pikir sekarang hidupnya udah oke. udah bisa nabung. udah beres kayak yang dia bilang dulu.
sampai kemarin dia chat gue.
"Val, lo bisa pinjemin 500 ribu nggak? Buat nutup tagihan."
gue bengong lama di depan layar HP gue.
kita ketemuan.
gue tanya pelan: "lah kok bisa?"
dia diem sebentar.
terus jawab satu kalimat yang sampai sekarang masih muter di kepala gue:
"Gaji gw naik. Tapi gaya hidup gw naik lebih kenceng."
gue kira dia bercanda.
dia buka notes HP-nya dan nunjukkin ke gue.
gaji: 17 juta.
pengeluaran:
kos: 4 juta. makan dan kopi: 3,2 juta. cicilan HP: 1,1 juta. paylater: 2,4 juta. transport: 1,8 juta. langganan aplikasi: 600 ribu. jajan random: 2 juta. transfer keluarga: 1,5 juta.
sisa?
kadang nol.
kadang minus.
gue tanya: "paylater 2,4 juta itu buat apa aja?"
dia diem bentar.
"ya... barang kecil-kecil doang."
kaos 89 ribu. sepatu diskon. skincare. makan promo. top up game. barang lucu dari live shopping. checkout karena takut stok habis.
satu-satu kelihatannya kecil.
tapi pas digabung, jadi satu monster yang nagih tiap bulan.
yang bikin gue serem bukan belanjanya.
tapi kalimat pembenarnya.
"lagi diskon."
"mumpung murah."
"cuma 30 ribu."
"gratis ongkir."
"bulan depan juga ketutup."
dan dia bilang satu hal yang nusuk banget:
"gw bahkan udah nggak bisa bedain lagi. Gw lagi hemat, atau lagi nyari alasan buat keluar duit."
terus dia ngomong sesuatu yang bikin gue diam lama banget:
"Gw nggak miskin karena nggak punya uang. Gw miskin karena uang gw udah punya tujuan sebelum masuk rekening."
tanggal 25 gajian.
tanggal 26 autodebet.
tanggal 27 bayar cicilan.
tanggal 28 bayar paylater.
tanggal 29 baru sadar:
yang kerja sebulan dia. yang menikmati duluan tagihan.
gue tanya: "jadi yang paling bikin nyesel apa?"
dia jawab:
"Gw pikir gw beli barang. Ternyata gw beli kewajiban."
HP baru = cicilan 12 bulan. barang diskon = tagihan bulan depan. makan enak tiap hari = saldo bocor pelan-pelan. kopi harian = lebih dari sejuta sebulan. paylater = gaji masa depan yang udah dipakai hari ini.
"Gw kerja buat bayar keputusan gw yang kemarin."
coba hitung kasar.
kopi 35 ribu x 22 hari kerja = 770 ribu. delivery food dengan selisih ongkir dan markup 25 ribu x 20 kali = 500 ribu. checkout random 75 ribu x 10 kali = 750 ribu. langganan aplikasi yang jarang dibuka = 300 ribu.
total: 2,3 juta.
itu bukan pengeluaran besar. itu bocor kecil yang pura-pura nggak kelihatan.
sekarang temen gue lagi coba bikin aturan sendiri.
kalau barangnya diskon tapi nggak ada di rencana, berarti tetap mahal. kalau beli karena capek, tunggu besok. kalau checkout cuma karena takut kehabisan, tutup aplikasi 10 menit dulu. kalau cicilan bikin gaji bulan depan terasa sempit, jangan ambil.
dan satu pertanyaan yang dia tempel di layar HP-nya sekarang sebelum checkout apapun:
"Gw butuh ini, atau gw cuma pengin ngerasa hidup gw naik kelas?"
dari cerita dia, gue jadi mikir.
mungkin masalah banyak orang bukan nggak bisa cari uang.
tapi nggak pernah diajarin cara mempertahankan uang.
dari kecil kita diajarin: belajar biar kerja, kerja biar punya uang, punya uang biar bisa beli ini itu.
tapi jarang diajarin: kalau uang udah masuk, jangan langsung dikasih jalan keluar semua.
ini bukan soal hidup pelit.
beli kopi boleh. checkout promo boleh. reward diri boleh.
tapi jangan sampai tiap reward kecil numpuk jadi hukuman besar di akhir bulan.
coba jujur ke diri sendiri:
pengeluaran kecil apa yang paling sering bikin saldo lo bocor?
kopi? makan online? paylater? top up? checkout live?
atau "cuma 50 ribu" yang kejadian 20 kali?
Salah satu aspek jadi dewasa adalah menyadari bahwa lo tetap harus show up dan function optimally.
Gak peduli seberat apa yang lagi lo alami dan rasain. Karena dunia emang gak peduli sama masalah pribadi lo.
Lo tetap harus hadir di meeting meskipun hati lo lagi hancur lebur. Lo tetap harus berangkat kerja meskipun seminggu lalu salah satu anggota keluarga lo baru aja meninggal. Lo tetap harus jawab email dan presentasi dengan suara tegas meskipun semalam lo nangis sampe pagi. Ya udah, mau gimana lagi.
Dunia nggak peduli soal itu semua. Dunia cuma peduli satu hal: apakah lo berhasil memenuhi tanggung jawab lo atau enggak.
Dunia gak akan berhenti berputar cuma karena lo lagi gak baik-baik aja. Bahkan pas lo lagi sakit, lagi patah hati, atau lagi kehilangan segalanya, roda kehidupan tetep jalan🥲
Teman-teman mohon bantuannya bersuara agar kasus uang jemaat sebesar 28 miliar yang raib di tipu oknum BNI bisa selesai.
Kasus ini sudah berlangsung lama namun tak ada itikad baik,.
@DivHumas_Polri@KejaksaanRI@prabowo
No viral no justice kata @mohmahfudmd
Bantu RT 🙏
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
ada bbrp pertanyaan yg belakangan ini susah bgt kujawab:
"biasanya weekend ngapain aja?"
"kamu hobinya apa?"
"suka dengerin lagu apa? artis favoritnya siapa?"
i don't even know what i like; it seems that nothing ever excites me anymore 🥹
i want to rediscover my spark.
What's wrong with people? When the dog turned around to look back at his owner, it absolutely broke my heart. 💔 You could clearly see he was a guide dog. Let me tell you, dogs are so much better than people.
ladies, let's normalize telling men, "I'm not interested anymore because the way you treat me makes me feel less than the woman I truly am".
STOP SETTLING!!
Men don't understand... being a "PROVIDER" isn't all about money. It's about providing the EMOTIONAL SECURITY that allows a woman to rest in her FEMININE ENERGY. Money is the icing, not the cake
*Laki² merkosa cewe pas malem*
"Cewe jangan keluar malem"
*Laki² merkosa cewe berpakaian ga nutup semua bagian tubuh*
"Makanya cewe tutup aurat"
*Laki² pake AI utk nelanjangin foto cewe*
"Cewe jangan post foto"
Semua dibebanin ke cewe, ga pernah tegas ngatur laki²