Kalo di ilmu kesadaran, sebaik-baiknya bersyukur itu enggak lahir dari membandingkan, tapi dari sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Be present.
Jadi bukan bersyukur karena: “untung hidupku lebih baik dari dia.”
Bukan bersyukur karena: “lebih baik dari orang lain.”
Karena itu masih ego yang membandingkan, diam-diam merasa lebih. Kesombongan.
Bersyukur itu sesederhana: menyadari apa yang ada, tanpa hanyut terseret drama dari pikiran masa lalu atau masa depan.
Menyadari napas, masih bernapas. Menyadari badan, masih hidup. Menyadari momen saat ini, di sini-kini, seapaadanya.
Jadi bersyukur karena hidup yang sedang kita alami. Nggak dari perbandingan, tapi karena kesadaran, presence.
Aku pernah baca entah di mana, memang letak kenikmatan itu ada pada batas.
Hari libur itu menyenangkan bagi mereka yang berkegiatan, beda cerita kalau pas lagi nganggur. Misal suka banget sama bakso, tapi apa bisa makan sehari 3x selama 2 minggu? Bosen kan? Nah, itu maksudnya.
suaranya bisa terdengar sampai ratusan kilo.
paus sperma tercatat sebagai hewan dengan suara paling keras di dunia, lebih keras dari mesin jet, lebih keras dari ledakan granat.
untungnya dia adalah warga laut —jika dia jadi WNI, mau bersuara sekeras apapun tidak akan didengar.