serta ekspektasinya pada Giyuu terhadap misi ini. Ia menyerahkan sepucuk surat itu pada Shinobu, seakan Shinobu adalah partner miliknya dengan strata yang sama, tanpa dibedakan gelar. @muushibashira
dan berhenti pada titik yang namanya telah hilang bersama jalan-jalan yang mengarah ke sana, lesap ditelan bersama tanda jalan dan kerikil oleh geraham buana.
"Baca ini. " Ia pun menyerahkan sebuah surat. Surat dari Oyakata-sama perihal keinginannya —
@muushibashira "Ada cara yang benar ya? " Bahkan ia pun tak tahu menahu perihal cara menyimpan bunga yang baik dan benar.
"Tentu saja. Tolong ajari aku Shinobu. "
Sudah berputar di otaknya 'tapi aku kan nggak suka bunga?' Lalu mikir kembali apakah kalimatnya bakal menyakitkan.
"Terima kasih Shinobu. Aku akan bingkai dan simpan bunga ini. " Oh? Apakah sedikit berlebihan?
yang ada dipikirannya, namun ekspresinya masih sulit di kontrol nampaknya.
"Apakah kamu kedinginan?" Tidak ada maksud untuk meremehkan, dia hanya khawatir. Tidak salah kan untuk khawatir? @muushibashira
maupun Slayer lihai yang dapat mengatur nafasnya dengan baik.
"Iblis?" Tatapan yang diberikan seakan penuh ragu, seakan bertanya tanya 'lantas untuk apa kita jauh-jauh pergi kalau bukan soal iblis?'. Namun untungnya Giyuu telah belajar untuk tidak mengatakan semua —
but his skin was bone dry despite the splash. The blue skies grappled a shadow beneath his eyelids.
"Thank you for the checkup Shinobu. I shall excuse myself. " @muushibashira
He could say the feeling is foreign to him. His blood burns like the blood of hounds sniffing their prey and ravage. But beneath your voice his heart surrenders in devoted and submissive doves.
"All good then?" His step was a ripple of crystalline water as he moved forward, —